Jangan remehkan seorang diktator yang sangat menyukai permainan psikologis dan perang. Apalagi, saat ia lebih suka mempelajari segala sesuatunya dengan sekedar memberi pancingan ringan terhadap lawan yang sedang ia hadapi.
Berperang dengan Putin, sungguhlah buruk jika ia serius menjadi dikator dan tiran sekaligus.
Selama ini, Putin masih bersikap lunak dan mencoba untuk melakukan pendekatan lembut. Melihat reaksi orang di sekitarnya. Sekutunya. Kolega dan teman-temannya. Serta, melihat rakyatnya sendiri. Termasuk sejauh mana pasukannya mau menerima perintahnya dan menuruti apa yang harus dijalankan.
Ia menilai diri sendiri lebih dulu sambil menilai lawan dengan persenjataan ala kadarnya, bombardir yang lemah lembut, dan perang yang bisa dibilang, sangat tak agresif.
Ia masih tak serius menyerang Ukraina. Sangat tak serius.
Di masa kita, jarang sekali ada dikator yang bisa dianggap jenius dalam hal kenegaraan dan memiliki kepandaian di atas rata-rata. Putin adalah sosok yang langka. Intelektual, negarawan, sekaligus diktator. Nyaris mirip dengan Lenin dan Stalin.
Ia suka bermain-main dengan lawan-lawannya. Dengan orang-orang yang ada di sekitarnya sendiri. Melihat apakah dunia akan melewannya dan menganggap dirinya lemah atau tidak. Apakah musuh-musuhnya tak menghiraukan peringatannya dan nyaris tak menghormati kebanggaannya?
Putin adalah diktator yang sabar. Salah satu yang malah paling sabar dibandingkan diktator dan pemimpin demokratik lainnya.
Ia bisa sangat marah saat musuh-musuhnya nyaris tak menganggapnya. Diktator mana yang selama bertahun-tahun masih mau berdiplomasi dan berharap Ukraina dan Barat mengerti?
Kini ia tahu. Barat dan sekitarnya tak peduli dengan keberadaan Rusia. Setelah itu, Rusia akan menjadi negara yang sangat berbeda. Diktator yang masih demokratik. Yang masih menghargai perbincangan intelektual dan menjawab dengan sabar satu persatu pertanyaan wartawan dengan santai dan penuh perhatian. Masih lemah lembut terhadap rakyatnya dan mencoba untuk mendekati dunia dengan cara yang lebih jujur. Mendapati diri tidak dianggap.
Tidak hanya dibenci oleh masyarakat dunia yang tak memahami dirinya dan keputusan yang ia buat. Juga, rakyatnya sendiri berbalik menyerang dirinya. Rakyat yang ia bela, agar kelak tidak diserang oleh Barat, malah menusuk dari dalam.
Jika ini terus berlanjut. Sang negarawan jenius itu, sang semi diktator yang pandai menyimpan banyak hal, akan seketika bisa berubah menjadi tiran. Benar-benar tiran. Tiran gaya lama yang tak peduli lagi dengan perbincangan dan penilaian orang lain.
Berubahnya semi diktator yang menghargai perbincangan intelektual menjadi tiran sepenuhnya adalah neraka bagi Barat, perbatasannya negara itu, Eropa, dan akhirnya, rakyat Rusia itu sendiri.
Tiran mutlak tak akan peduli dengan hak asasi manusia. Tak akan peduli dengan perasaan rakyatnya sendiri. Dan tak akan peduli dengan berapa jumlah korban yang mati dalam peperangan. Tiran sempurna, yang ia pedulikan adalah membuat sengsara orang lain dengan teror yang tak berkesudahan. Membuat lawan menderita sebanyak mungkin. Tak peduli dengan kemenangan.
Jika kemenangan terjadi, anggap saja itu nilai lebih. Bagi para tiran, selain kemenangan, yang paling menarik dari mereka adalah membuat lawan menderita selama mungkin. Bertahun-tahun. Berpuluh tahun. Hidup dalam trauma dan tak pernah tenang karena pengalaman diserang oleh lawan yang ada di sebelahnya.
Karena dalam peperangan yang berat sebelah. Pihak yang diserang akan menghadapi kenyataan setelah perang usai. Kenyataan yang menyakitkan. Yang hanya para tiran yang lebih tahu dan memahami.
Pihak Rusia tak mengalami kerusakan infrastruktur apa pun. Rakyatnya tak diserang secara langsung. Dan negara mereka masih baik-baik saja.
Sanksi ekonomi dan masalah-masalah yang menyertainya, bisa diselesaikan setelah beberapa tahun saja. Apalagi, Rusia adalah negara besar yang masih dibutuhkan oleh banyak pihak. Tidak hanya China, India, Pakistan dan lainnya. Tapi juga Korea Utara dan begitu banyak orang yang masih menyukai negara itu, dengan Putin sebagai pemimpin besar yang menjulang tinggi melawan Barat.
Para tiran bisa hidup dalam kurungan besar negara mereka sendiri. Seperti Korea Utara. Atau yang lebih lembut, Iran. Mereka akan menjalin dan membangun persahabatan di antara para tiran dan pemimpin yang memiliki kepentingan sejenis. Tak peduli dengan isi dunia lainnya.
Putin telah melihat kenyataan, bahwa, hampir semua negara Barat memusuhinya dan tak menghiraukan apa yang ia peringatkan. Setelah perang ini berakhir, entah berakhir secara total atau Ukraina menjadi medan perang abadi. Rusia akan nyaris terputus dengan Barat. Membangun dunianya sendiri di antara negara-negara besar lainnya dan membangun ekonomi yang mencoba tak lagi bergantung dengan barat.
Setelah perang ini, episode kekuasaan barat menjadi jauh lebih buruk dan melemah. Krisis ekonomi, saling curiga di antara mereka sendiri dan krisis energi dan lainnya, membuat mereka berada di persimpangan akhir senja kekuasaan.
Perang ini menjadi acuan penting dunia di masa depan nanti. Bagaimana Barat sangatlah tidak bisa dipercaya dan kebal terhadap kekejaman mereka sendiri. Banyak negara kelak memutuskan ingin lepas sepenuhnya dari mereka atau mencari cara agar tidak hancur seperti negara-negara yang kini sudah rusak lebih dulu.
Putin masih bersabar dan melihat keadaan. Melihat apa yang musuh-musuhnya lakukan. Jika ia makin tersudut dan tidak dihargai. Perlahan dan pasti, ia akan berubah menjadi tiran. Tiran yang tak mudah lagi disinggung dan diremehkan oleh siapa pun.
Tiran yang sangat berbahaya. Bagi dunia dan rakyatnya sendiri.
Seorang intelektual jenius yang menjadi tiran jauh lebih berbahaya dari pada sekedar politisi dan pebinis yang menjadi pemimpin negara.
Sekali Putin memutuskan diri menjadi tiran. Kita semua harus mulai cemas dan berharap, orang Rusia itu, tidak memulai lagi perang dengan sesuka hati tanpa perasaan dan hati nurani.
Barat dan orang-orang di dunia mendorong sang diktator menjadi tiran yang lebih buas dan menakutkan. Dan kita semua, telah menyaksikan lahirnya monster modern yang sangatlah berbahaya. Berkali-kali lebih berbahaya dari sebelumnya.
Monster yang dibuat dengan nyaris sempurna oleh sebagian orang yang ada di dunia ini. Yang mengutuki dirinya. Mengabaikan perasaannya. Dan menghancurkan harga diri yang ia miliki.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
No Ficciónapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
