Saat aku mulai memikirkan kemungkinan negara ini bakal jatuh dalam perang saudara dan mengalami situasi di mana orang-orang yang pernah mengenal satu dan lainnya pada akhirnya saling membunuh dan berakhir dalam kebencian yang tak bisa disembuhkan dengan mudah. Aku membuka buku-buku lama mengenai sejarah negara ini. Membeli buku-buku baru yang sangat tebal dan melihat berbagai macam sejarah yang diisi dengan pengkhianatan, korupsi, keadaan yang terpecah-belah, perang antar saudara dan saling mementingkan diri sendiri.
Pola lama yang ada dalam sejarah itu ternyata begitu dekat dengan dunia sehari-hari manusia yang ada di sekitarku. Di abad ini. Di sebuah dunia yang lebih modern dan seharusnya lebih bijaksana.
Saat aku membaca kembali sejarah jatuh bangunnya berbagai peradaban, kerajaan, kekaisaran dan negara-negara yang lebih modern. Ada suatu pertanyaan yang menarik, yang muncul dari kisah berbagai wilayah yang tak lagi ada. Tak lagi terlihat dalam sejarah manusia dan tak lagi memiliki rakyat yang menjadi syarat penting dari keberadaan sesuatu yang disebut sebagai negara.
Sebenarnya, untuk apa kita mencoba sekuat tenaga mempertahankan sebuah identitas yang sangat bermasalah seperti nasionalisme dan kecintaan akan tanah air?
Untuk apa kita bersusah payah menginginkan dan berusaha menciptakan negara yang dikelola dengan baik dan bakal bertahan begitu sangat lama di masa depan yang jauh?
Kenapa banyak orang yang hidup di wilayah tertentu begitu sangat terikat dengan tempat kelahirannya dan pada akhirnya, menumbuhkan perasaan kelekatan, kerinduan, dan semacam cinta pada wilayah atau tempat yang ditinggalinya; terlebih negara.
Untuk apa banyak dari kita memikirkan anak dan cucu dan lingkungan di mana mereka hidup, di kehidupan kita sendiri yang pendek?
Sejak awal mula, negara lahir dari sejarah akan ketakutan terhadap segala yang tak nyaman dan kematian yang begitu mengerikan bagi banyak orang di masa lalu. Mereka berkelompok untuk menciptakan rasa aman bersama dan agar hidup bisa lebih mudah dan menyenangkan untuk dijalani. Negara lahir dari keinginan begitu banyak orang akan hidup yang nyaman, enak, mudah, dan terhindari dari segala rasa takut dan kengerian akan mati kapan saja.
Pada dasarnya, negara lahir dari banyaknya orang-orang lemah yang ingin hidup lama tapi takut menjalani kehidupan liar seorang diri. Kehidupan tanpa rumah yang pasti. Kehidupan yang harus dijalani sebagai orang yang terasing dari dunia. Yang sendirian. Yang tak memiliki siapa-siapa untuk diajak berbincang dan bertukar banyak hal; dari rasa cinta hingga kebutuhan akan teman yang mengerti.
Atau juga, suatu kehidupan nomaden, berpindah, dan terus bergerak yang tak lagi banyak orang melakukannya kecuali beberapa sisa terakhir dari suku pengembara yang masih ada dalam sejarah dan yang begitu keras bagi mereka yang tak memiliki sebuah identitas bernama negara.
Negara bagi banyak orang menjamin rasa aman dan keinginan untuk bisa hidup selama mungkin. Dalam batas terakhir, ini adalah egoisme yang ditutupi dalam bentuk nasionalisme dan segala kecintaan yang berkaitan dengan negara. Dalam bahasa kasarnya, negara adalah tempat yang cukup aman untuk orang-orang lemah yang takut mati dan berusaha melekat dalam sebuah negara yang ditinggalinya demi terhindari dari kematian yang sedini mungkin.
Banyak orang merasa memiliki negara ini karena ada kebutuhan untuk dilindungi dan dimanjakan. Negara adalah penampungan bagi orang-orang yang ingin menghindari rasa sakit yang berkepanjangan dan bagi mereka yang tertarik dengan berbagai sumber kesenangan; baik kekayaan atau status sosial tertentu.
Orang-orang menjadi terikat dengan wilayah atau negara di mana ia lahir karena agama, nilai sosial, masyarakat, berbagai macam struktur sosial hingga bahasa yang sama membuat seseorang merasa ada. Tak terasing dari dunia yang harus dijalani setiap harinya. Ada seseorang yang bisa diajak berbincang dan mengerti. Segalanya lebih mudah untuk dijalani dan hubungan sosial atau interaksi dengan orang lain lebih mudah terjalin tanpa harus belajar lagi bahasa dan nilai-nilai baru dari orang lain-orang luar sewaktu usia dewasa dan tua sudah ada di depan mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
