KEMBALINYA KEBRUTALAN LAKI-LAKI DAN BAGAIMANA FEMINISME MEMFASILITASINYA

17 1 0
                                        

Membunuh perempuan itu mudah. Memerkosa mereka. Merusak mental mereka. Menghancurkan hidup para perempuan atau bahkan memusnahkan sebagian besar dari mereka itu juga hal jauh lebih mudah daripada harus berperang melawan sesama laki-laki.

Dalam sejarah manusia, kita bisa melihat dominasi kekerasan yang dimiliki oleh para laki-laki dengan budaya maskulin dan militeristik nya yang seringkali sangat keras dan mengerikan.

Berbagai jenis pembunuhan yang begitu kejam dan brutal. Penghapusan etnis atau genosida. Kekerasan yang terstruktur atau meledak secara tiba-tiba. Berbagai macam awalan perang saudara dan kudeta. Perbudakan manusia. Kebrutalan dalam tindak kekerasan individu atau bahkan negara dan agama. Berbagai perang yang sangat berdarah dan berlarut-larut. Perburuan para penyihir dan orang-orang sesat. Pemberontakan dan berbagai macam revolusi. Permusuhan berdarah dalam politik hingga identitas. Atau seseorang yang berkeliaran untuk membunuhi orang-orang yang semuanya tak jauh dari kehadiran laki-laki sebagai pelaku dan yang menguasai sejarah kekerasan manusia selama berabad-abad.

Lalu, yang paling menarik dari sejarah laki-laki yang semacam itu, kenapa mereka kini begitu jinak, mengalah, dan bahkan nyaris takut terhadap keberadaan para perempuan modern? Tidakkah dalam sejarah manusia yang begitu dikuasai laki-laki selama berabad-abad, para perempuan dahulu kala tak lebih daripada semacam properti, ternak penghasil anak, bagian dari kekayaan laki-laki, budak, atau keberadaan kelas dua yang hanya hadir sebagai pelengkap?

Kenapa para laki-laki modern begitu sangat mengalah dan terkadang cenderung takut kepada perempuan? Sejak kapan sejarah penjinakan laki-laki dimulai?

Kita bisa melacaknya dalam jejak hukum dan moralitas kuno yang coba ditegakkan oleh Hammurabi hingga berbagai nabi dan ajaran moral yang bereaksi pada kondisi tertentu dalam sejarah agama manusia. Laki-laki yang mencoba melindungi perempuan di berbagai abad yang jauh itu -walau sering kali dikritik sebagai perlindungan semu- adalah sumber utama bagaimana banyak dari laki-laki merasa memiliki kewajiban dan kebanggaan moral untuk melindungi perempuan dan juga anak-anak.

Lalu kita tahu, berbagai laki-laki yang di antaranya para pemikir dan politisi yang tertarik dengan gagasan emansipasi, bersama-sama dengan perempuan mencoba untuk mendudukkan dunia perempuan dalam situasi yang baru dan lebih memiliki kuasa terhadap diri mereka sendiri.

Aku salah satu laki-laki yang pernah menyebut dirinya sebagai feminis dan sangat menyukai para perempuan cerdas dan mandiri.

Masalahnya, sebelum perjuangan dari para perempuan itu benar-benar bisa mencapai titik akhirnya; dalam kemenangan sebagai individu atau manusia yang lebih baik sekaligus bijaksana. Gelombang baru feminisme yang jauh lebih buruk, berantakan, tak bertanggung jawab, memiliki akar kebencian terhadap laki-laki secara menggebu-gebu, dan kurangnya pemahaman terhadap sejarah manusia dan intelektualitas membuat banyak laki-laki, termasuk diriku, mulai berpikir ulang mengenai kebodohan massal yang kini tengah ditunjukkan oleh para perempuan di abad aku hidup.

Semacam kebodohan yang sangat disayangkan bahwa mereka secara tak sengaja, tak mengerti karena memang bodoh, atau terlalu tak paham mengenai sejarah laki-laki dan diri mereka sendiri karena banyak perempuan hari ini memang enggan berpikir dan isi kepala mereka hanya ada kekayaan dan hidup enak -tentu saja tak semuanya. Mereka entah bodoh atau buta, telah membangkitkan sisi brutal laki-laki yang ditekan oleh begitu banyaknya moralitas yang melembutkan laki-laki selama berabad-abad di saat sistem dan nilai yang bernama patriarki begitu masih sangat kuat di dunia yang masih dikuasai laki-laki.

Perjuangan panjang para perempuan di masa lalu bisa berakhir begitu saja karena kebodohan dan sikap tak bertanggung jawab dalam perang gender yang begitu dipenuhi dengan kebencian terhadap lawan jenis dan berbagai keburukan yang membuat laki-laki mulai sadar, tersentak, dan berpikir ulang, apakah memberikan kebebasan dan kekuasaan kepada perempuan adalah sesuatu yang salah?

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang