Agama seolah menjadi halangan terbesar bagi para nihilis yang menginginkan kekosongan total alam semesta. Dalam agama, kematian nyaris tak mungkin. Yang ada hanyalah ulangan kehidupan dan kehidupan lagi.
Selama agama dan masyarakat beragama ada. Kehidupan tak akan pernah berakhir. Keinginan untuk terus hidup ke dunia paralel bernama surga dan semacamnya, adalah salah satu alibi paling berbahaya dan menyakitkan bahwa kematian itu tak pernah ada.
Itulah kenapa, sebagian nihilis merasa ngeri akan dunia tanpa kematian dan akhir yang diidamkan oleh agama-agama di dunia ini.
Sebuah dunia tanpa akhir. Ulangan kehidupan tanpa henti.
Bayangkanlah.
Para pemuja hidup yang tak pernah mati menjadi begitu kebal terhadap penderitaan orang lain dan terlalu berfokus pada kenikmatan yang didapatkan diri sendiri. Perang, kekejian, gangguan jiwa, bunuh diri, dan segala keburukan manusia yang diulangi dari abad ke abad yang menyertai segala kehidupan yang ada bukan hal yang penting bagi kebanyakan orang beragama.
Selama mereka terus hidup dan bisa mendapatkan surga. Kehidupan boleh berlanjut beserta segala jenis perang dan kesedihan manusia.
Dan alibi mereka selalu, bersifat egoisme dan pengingkaran diri dari kenyataan hidup sehari-hari.
Mengkhayalkan sebuah agama yang mendorong gagasan bahwa semesta tanpa kehidupan jauh lebih baik dari pada adanya kehidupan. Hanyalah semacam igauan yang menarik tapi terlalu muluk.
Membayangkan sebuah semesta tanpa Tuhan dan segala yang hidup, bagi orang-orang beragama, nyaris benar-benar tak mungkin.
Kecanduan akan kata hidup sudah terlanjur menjalar di masyarakat beragama dan itu adalah penyakit yang benar-benar susah disembuhkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
