GENOSIDA PALESTINA DAN MATINYA HUMANISME

60 7 0
                                        

Apakah masih ada orang-orang palestina beserta wilayahnya di pertengahan abad ini? Atau di pergantian abad nanti? Apakah Palestina akan menghilang seutuhnya di abad ke-22?

Menghilang sepenuhnya dalam pengabaian sempurna dan kegagalan bertindak. Kita mungkin sepakat bahwa genosida Palestina memulai sebuah akhir dari gagasan humanisme. Matinya era kemanusiaan. Gagasan yang cukup indah dari abad pertengahan hingga akhir abad 20 yang kini mencapai puncak terakhirnya; pengabaian massal secara besar-besaran umat manusia.

Sebagian dari kita akan sepakat bahwa apa yang dilakukan Israel hari ini adalah Genosida. Tak ubahnya apa yang pernah Hitler lakukan terhadap warga Yahudi. Atau Turki Ottoman lakukan saat mencoba menghapus orang-orang Armenia dari peta. Dan beberapa negara modern seperti yang dilakukan oleh Rwanda, Serbia, Sudan, apa yang pernah dilakukan ISIS atau bahkan Myanmar.

Putin, yang membawa Ukraina pada kehancuran dan hampir mengosongkan negara itu pada keheningan masih mematuhi hukum peperangan dan tak membunuh anak-anak (kecuali beberapa kasus khusus). Berbeda dengan Israel di bawah Netanyahu, yang kekejamannya sudah tak lagi bisa ditutupi dengan segala macam upaya pembelaan.

Entah kita beragama, orang sekuler, ateis, atau bahkan yang tak peduli dengan identitas ideologi atau kepercayaan. Melihat tindakan kekejaman militer Israel selama ini. Kita tahu, jika kita masih memiliki hati, itu adalah tindakan yang brutal, sadis, dan tak berperasaan di abad yang semua orang bisa menyaksikannya langsung di rumah mereka masing-masing.

Itu bukan sekadar peperangan. Itulah adalah pembantaian atau genosida terencana dan tak pandang bulu yang didukung oleh banyak pihak.

Itu adalah genosida. Mau bagaimana pun kita melihatnya dari sudut mana pun. Itu tetap adalah genosida.

Dan itulah bagaimana humanisme, sebagai gagasan besar terakhir di abad 20 -yang manusia memulai lagi kehidupannya setelah peperangan besar yang merusak- telah benar-benar tak lagi bisa berbuat banyak. Keberadaan Israel adalah krisis dari humanisme itu sendiri. Suatu negara yang lahir dari rahim humanisme yang pada akhirnya melenceng dan menjadi bagian dari mereka yang merusak kemanusiaan.

Tapi siapa yang mampu menghentikan Israel? Apakah boikot mampu menghentikannya?

Boikot tak lebih dari gelitikan kecil dari negara yang sangat kuat dari berbagai aspeknya dan yang didukung oleh banyak negara lainnya yang hampir sama kuatnya atau malah lebih kuat.

Jika kita melihat Rusia yang diboikot oleh begitu banyaknya pihak dan diisolasi sedemikian rupa tapi tetap saja rusia tak juga jatuh sampai sekarang dan masih tengah menggempur bagian-bagian dari Ukraina. Lalu bagaimana pula dengan Israel? Beragam boikot tak lebih dari senda gurau saat seluruh ekonomi dunia, baik persebaran teknologi sampai beragam aplikasi media sosial adalah milik Barat: mereka yang mendukung Israel.

Setiap hari uang akan terus mengalit lewat musik yang kita dengar. Film yang kita tonton. Software komputer yang ada di laptop kita masing-masing. Beragama aplikasi media sosial di smartphone kita. Dan beragam game yang kita mainkan. Akan selalu ada uang untuk membiayai perang dan itu tak akan habis selama mayoritas umat manusia menggunakannya.

Gerakan boikot produk tertentu menjadi tak berpengaruh banyak. Saat mereka yang melakukan boikot juga setiap hari mendanai perang itu setiap waktu yang mungkin.

Di sinilah, Israel akan tetap berdiri entah sampai kapan. Kemanusiaan pun pada akhirnya berakhir berbarengan dengan akhir dari Palestina itu sendiri: saat semua warganya terusir atau sepenuhnya musnah.

Dan abad 21 yang sangat terhubung adalah abad yang mana semua orang bersalah dengan caranya masing-masing.

Dalam segi terjauhnya, kita semua membiayai perang yang kita benci dan sangat tak kita inginkan.

Tapi setidaknya kita yakin, bahwa apa yang dilakukan oleh Israel terhadap warga Palestina adalah genosida. Pembersihan penduduk dan pencaplokan wilayah yang didukung oleh pihak-pihak yang bahkan sering menyerukan kemanusiaan itu sendiri.

Ya itu adalah genosida. Bagi mereka yang masih memiliki sedikit sisa hati, pikiran, dan mata untuk melihat. Itulah adalah genosida terburuk di abad yang menjadikan peperangan adalah tontonan massal dan hiburan harian manusia.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang