apa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kehidupan tak lebih dari kebosanan yang berulang. Dari habisnya segala yang menarik. Saat dunia menjadi hambar dan tak menyenangkan.
Aku mengalami periode kebosanan yang begitu panjang. Kebosanan yang bisa saja membuatku bunuh diri. Atau berjalan ke arah yang entah;
Menjadi filsuf yang menulis apa yang ia pikiran dan perasaannya rasakan. Apa saja.
Entah itu soal kematian. Hidup yang memuakkan. Kebosanan tiada akhir. Kebencian akan manusia. Mengutuki para orang tua. Kebijaksanaan dalam kata-kata yang sadis. Dan rakyat yang sudah tak lagi menarik untuk dibela.
Atau merayakan egoisme. Berjalan sendirian sambil meracau akan dunia yang benar-benar tak lagi menarik untuk ditinggali.
Buku ini mengenai kebosanan hidup. Kebosanan yang begitu panjang dan tak dapat disembuhkan. Dari kehidupan yang hanya sekedar ulangan. Menjadi ringkasan mengenai sebagian dunia yang aku temukan.
Dunia yang membosankan, mungkin, akan menjadi salah satu buku terpenting yang pernah aku terbitkan. Buku yang merangkum sebagian besar gagasan-gagasanku. Penemuan-penemuanku. Dan buku yang mengawali banyak hal.
Seorang laki-laki, yang menyebut dirinya sebagai nihilis.