PERANG DAN AKHIR: PERPISAHAN YANG SANGAT BERDARAH

8 0 0
                                        

Bagaimana rasanya membunuh tetangga, saudara dan orang-orang di kota atau wilayah yang sama?

Mungkin kita bisa bertanya ke siapa saja yang pernah melakukan pembantaian terhadap salah satu suku tertentu atau pemusnahan massal berdarah yang hingga hari masih menjadi sesuatu yang sangat susah dibicarakan. Juga ke mereka yang akhir-akhir ini tak segan-segan mengambil nyawa orang lain hanya karena rasa benci, kemarahan yang menutupi segalanya dan hal-hal yang terkadang, terkesan sangat remeh dan di luar jangkauan pikiran kita yang rasional.

Kita sekarang tengah berada di sebuah negara yang hampir runtuh. Masyarakat yang sudah membusuk dengan orang-orang yang kelelahan dan siap meledak kapan saja.

Kita telah memasuki suatu kondisi, membunuh orang lain menjadi begitu sangat mudahnya. Banyak dari kita sudah tak lagi merasa terhubung dengan orang-orang walau hidup, berkegiatan dan tinggal di wilayah yang sama. Penderitaan dan kematian orang lain bukan lagi menjadi urusan kita. Walau, tentu saja, sesekali kita mencoba membantu yang lain. Hanya saja, jika dilihat dari seluruh usia kita hidup. Membantu orang lain secara serius terjadi hanya beberapa kali dalam sejarah kita bernapas.

Masyarakat yang telah membusuk semacam itu tentu saja akan menghasilan para elite politik dan konglomerat yang lebih sibuk membentengi dirinya dari orang-orang. Mereka hidup dalam masyarakat yang tak lagi saling membantu dan terhubung dengan orang lain menjadi sangat sulit dan menyakitkan.

Banyak dari kita tak lagi memiliki teman setelah dewasa. Kita juga semakin tak peduli dengan orang lain. Orang lain juga sama tak pedulinya dengan kita. Lalu, apakah kita bisa berharap para politisi memedulikan kita sebagai rakyat jika sejak awal mereka merasa sendirian dan tak berkepentingan dengan siapa pun?

Hari ini, saat perang terlihat semakin mendekat dan ada di depan mata kita masing-masing. Kita lebih memilih sibuk untuk tak peduli atau malah kian menyuburkan rasisme antara daerah satu dan lainnya. Sejujurnya, kita juga sudah terbiasa berperang di antara diri kita sendiri. Melawan semua orang yang tak cocok, tak kita sukai dan kita benci dengan beragam alasannya.

Kita juga sudah terbiasa mengabaikan orang-orang. Kita juga sudah terbiasa dengan penderitaan dan kematian orang lain. Kita juga kian biasa menghina dan merendahkan kehidupan orang yang berseberangan dengan kita. Kita adalah orang-orang yang sangat pandai merundung orang lain dan bersembunyi dengan beragam alibi yang dipaksakan sebagai masuk akal.

Perbedaan ideologi dan politik saja sudah cukup berkali-kali untuk memisahkan banyak dari kita. Teman yang tak lagi menjadi teman. Perdebatan ringan yang berujung saling membenci dan tak lagi bertegur sapa. Hal yang sepele pun sudah cukup untuk membuat banyak dari kita tak lagi saling peduli.

Indonesia selalu kekurangan orang pintar dan selalu dipenuhi orang bodoh. Itulah kenapa selama berabad-abad lamanya, wilayahnya dikuasai oleh pihak luar dan ketika kemerdekaan didapat pun, hanya para diktator dan mereka yang koruplah yang lebih banyak mengisi jabatan negara.

Kita tak pernah memiliki begitu banyaknya orang pintar dalam masa hidup yang sama. Orang pintar di negara kita selalu sedikit. Selalu berakhir sebagai minoritas. Tak pernah banyak dari keseluruhan yang hidup sebagai warga negara. Mereka yang sedikit itu pun seringkali dibenci, diasingkan, dibuang, dan tak diberi perhatian yang layak.

Terlebih mereka yang bijak di antara orang pintar itu seringkali dimusuhi oleh banyak pihak. Kita semua sebenarnya menciptakan suatu kondisi yang membuat kita semua menderita. Entah dalam diam atau saat sebagian dari kita lebih memilih menjadi orang-orang yang mudah mengkhianati sesama saudara dan dibayar untuk memuaskan kesenangan hidup diri sendiri.

Masyarakat negara ini bersama dengan para elite politik selalu curiga dan tak senang dengan orang-orang pintar yang cerdas dan berani hidup dengan cara berbeda. Keterbukaan pikiran dan intelektual selalu sebagai suatu kondisi umum yang mengganggu.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang