"Ketimpangan antara besarnya tugasku dengan kecilnya orang-orang sezamanku menemukan ekspresinya dalam fakta bahwa aku tidaklah didengarkan atau lebih lagi tidak dilihat orang," tulis filsuf bernama Friedrich Nietzsche, dalam buku autobiografinya, Ecce Homo.
Hal semacam itu, juga telah dituliskannya, dalam awal-awal perjalanan Zarathustra, "Kau telah menjadi seorang yang telah terbangun kan: dan apa yang akan kau lakukan di tanah orang-orang tidur ini?"
Dalam pemikiran dan tulisan-tulisan seorang filsuf yang telah mati di awal abad 20. Setelah merenungkan dirinya kini, suaranya masih juga tak banyak didengar.
Banyak pemujanya. Banyak sekali mereka yang merasa sangat mengagumi dan terpengaruh dengannya. Tapi, kebanyakan mereka tak melakukan apa pun.
Dan lebih banyak lagi yang bahkan belum pernah sama sekali mengetahui namanya dan mengetahui buku-bukunya. Apa lagi, apa yang tertulis di dalamnya.
Dalam diri Nietzsche-lah, aku akhirnya menemukan, segala pemikiran, gagasan, dan ilmu pengetahuan bahkan tulisan itu sendiri, mati.
Hal semacam itu sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu kala. Tapi lewat Nietszche-lah, kematian segalanya tampak begitu jelas dan tak bisa lagi dipulihkan.
Bagiku sendiri, Nietszche dan semua yang ia temukan, pikirkan, dan tulis, benar-benar bagaikan tak pernah ada.
Saat penemuan-penemuannya diabaikan. Maka, sudah tak ada lagi hal yang perlu diberi perhatian lebih terhadap segala jenis penemuan lainnya. Karena nasib segala jenis penemuan akan selalu diabaikan dan hanya ditarik oleh beberapa orang saja.
Nietzsche bagiku, adalah filsuf penutup segala jenis utopia. Filsuf yang memperjelas manusia itu sendiri. Yang tak akan pernah diselesaikan oleh siapa pun.
Sebaik apa pun filsuf memberikan pandangan dan penemuannya akan dunia. Begitu juga para ilmuwan dan segenap pakar lainnya. Kebanyakan manusia yang hidup tak peduli dengan penemuan-penemuan itu.
Mereka tak ingin membaca. Mereka tak ingin bersusah merenung. Mereka tak ingin kelelahan memikirkan dunia ini beserta masalahnya. Itulah sebabnya, sebanyak apa pun bukti dan kejelasan ada di depan mata. Kebanyakan manusia mengabaikannya dan tak mempedulikannya.
Lalu, kehidupan terus berlanjut dengan perjalanan sirkusnya. Manusia berlomba-lomba saling membantah, saling meminta penyelesaian, menginginkan penjelasan dan penjelasan. Menginginkan data, fakta, dan kisah yang jelas dan masuk akal.
Padahal, ada ribuan pemikir dan penulis yang sudah memberikan jawaban hampir semua hal yang hari ini dipermasalahkan. Tapi, mereka dianggap tak pernah ada.
Lalu, untuk apa, harus menjelaskan lagi, memberikan penyelesaian lagi, dan berbicara lagi? Untuk apa menulis lagi? Jika, pada akhirnya, akan kembali terabaikan seperti para pemikir besar dahulu kala.
Ini akan menjadi abad baru, di mana, kita seharusnya tak lagi menyelesaikan masalah apa pun. Kecuali masalah paling penting dan paling akhir, yaitu, nihilisme.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Nonfiksiapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
