SELAMAT MENIKMATI WABAH

127 8 1
                                        

Pandemi ini, entah kapan berakhir. Aku tak tahu. Yang aku tahu, setiap hari, berita kematian telah menjadi hal yang biasa dan tak lagi menakutkan.

Di banyak kota, orang-orang menjadi ribut dan mengurung diri kembali ke kamarnya masing-masing. Aturan baru. Semua, demi keinginan untuk meredam penyebaran wabah.

Hanya saja, manusia sudah terlanjur menjadi manusia. Selama seluruh manusia tidak mengalami kehilangan orang yang disayangi, tidak terkena langsung, atau tidak menderita dan hampir mati. Pandemi ini, entah kapan akan berakhir.

Mungkin, satu tahun lagi. Atau malah, lima sampai sepuluh tahun lagi. Siapa tahu?

Saat ini, aku tengah membaca buku Fareed Zakaria, Sepuluh Pelajaran Untuk Dunia Pasca-Pandemi. Menceritakan perihal wabah. Pandemi. Atau, Covid.

Buku yang aku baca ini, mungkin, hanya akan dibaca sedikit orang. Lagian, di abad semacam ini, siapa yang mau sibuk mengakui diri sendiri dan secara sadar, merenungkan, bahwa banyaknya wabah baru, muncul karena ulah manusia sendiri yang kian menggusur alam dan menghancurkan ekosistem yang ada.

Siapa, di masa pandemi ini, yang menjadi bijak dan sadar terhadap apa yang telah dilakukannnya? Atau, malah, menuntut, menyalahkan, menolak, dan menjadi bebal?

Menjadi bebal adalah pilihan utama di masa wabah menerpa. Juga, menjadi oportunis, jahat, dan tak peduli.

Kemunculan Corona atau Covid 19, dengan banyak varian lainnya. Menjadikan manusia lahan sempurna bagi kematian-kematian baru di masa depan. Saat masa krisis terjadi, para pejabat negara sangat senang melakukan korupsi dan membisniskan semuanya. Mereka yang berpendidikan, pengusaha, sampai rakyat kecil, juga melakukan yang sama. Maka, kita, hanya bisa menyambut wabah ini dengan suka cita.

Selamat datang kematian-kematian. Kematian hari ini dan yang akan datang. Dan, kematian-kematian nurani.

Sebagai orang yang masih hidup dan mengamati. Setiap hari adalah kebohongan umat manusia. Saat pemimpin negara tak bisa dipercaya dan omongannya begitu sulit dipegang. Dan rakyat biasa begitu tak menghargai ilmuwan dan sangat mudah menghujat siapa saja.

Apa yang masih tersisa dari sebuah masyarakat terkecuali kepura-puraan bersama?

Dalam masyarakat pura-pura, yang saling melempar tanggung jawab dan susah dipercaya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menikmati wabah ini. Menikmati kematian-kematian. Menikmati kemungkinan krisis ekonomi. Dan juga, selagi bisa, memperbanyak kekayaan diri dan biarkan orang lain mati atau menderita.

Ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari wabah saat ini. Selama kita kaya, atau makmur, segala sesuatunya hanyalah sekedar jeda. Tak ada yang perlu ditakutkan. Bahkan jika kita mati, kita bisa mati jauh lebih makmur dan mendadak, tanpa harus kelaparan dan ketakutan mengenai biaya rumah sakit.

Selama kita memiliki uang. Kematian tak lebih dari pada berita. Pembatasan kegiatan di luar ruangan. Ancaman kehilangan pekerjaan. Dan kelaparan, bukan hal yang penting. Apalagi, jika kita kuat menanggung kebosanan dan kegilaan. Wabah hanyalah hal yang biasa.

Dengan menjadi kaya, seseorang masih bisa menikmati wabah.

Menonton televisi. Bercinta. Bekerja di rumah. Bermain game. Menikmati rebahan. Membaca buku. Dan mengurangi empati.

Wabah, pada akhirnya, hanyalah ketakutan mereka yang miskin dan orang kaya yang takut mati. Selama kita tak kekurangan apa pun dan kematian tak lebih dari saudara dekat yang akan datang kapan saja. Maka, wabah adalah kenikmatan dalam kemalasan harian.

Saat virus kian menggila dan bagaikan membalas dendam kepada umat manusia. Saat sebuah negara menutup diri. Siklus ekonomi terjeda. Dan rumah sakit terlalu penuh dengan orang-orang sakit. Umat manusia, sudah terlanjur menjadi terlalu manusia.

Apa yang bisa kita lakukan, saat manusia sudah terlanjur menjadi terlalu manusia?

Yah, yang bisa kita lakukan hanyalah menikmati wabah dan mengamati bagaimana hati manusia saat krisis melanda.

Akan ada yang menarik saat manusia, pada akhirnya, terlalu sibuk berpura-pura dan tak segan menghancurkan yang lainnya. Tanpa, berpikir serius, untuk benar-benar menghentikan wabah.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang