Setiap kali ada perempuan yang dirusak, tak dinafkahi, diselingkuhi, atau bahkan menjalani kehidupan rumah tangga yang buruk atau bahkan kehilangan rasa cinta dan perasaannya menjadi hambar di tengah jalan saat kehidupan rumah tangga masih berlangsung. Yang nyaris selalu disalahkan adalah laki-laki. Mereka selalu menyalahkan laki-laki yang menjadi suami mereka sendiri atas pilihan sadar dan keputusan hidup mereka sendiri. Selalu merasa menjadi korban dan tak ingin disalahkan atau tak merasa bersalah.
Jarang dari mereka terlihat merasa bersalah dan mengakui berbagai kekurangan dan kebodohan diri mereka dalam memilih suami atau memutuskan jalan hidup yang sangat jelas ditentukan diri mereka sendiri selain tekanan lingkungan, orangtua dan keluarga besar, budaya, agama, ideologi tertentu, sistem masyarakat, arah politik dan kebijakan negara dan lain sebagainya.
Banyak dari mereka mengeluhkan betapa buruk dan tak bertanggung jawabnya laki-laki hari ini sebagai pasangan hidup atau kepala keluarga. Padahal yang memilih laki-laki buruk adalah diri mereka sendiri. Yang melahirkan laki-laki, mengasuh dan mendidiknya adalah para perempuan itu sendiri. Banyaknya laki-laki buruk yang memenuhi lingkungan atau masyarakat adalah hasil dari banyak kombinasi yang di antaranya ada perempuan yang juga harus bertanggung jawab. Hanya saja, pengakuan semacam ini sangat sulit ketika media sosial dan dunia nyata lebih berpihak pada kemarahan para perempuan yang tak bisa diajak bicara dan selalu menghindari tanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Mereka bersama-sama nyaris selalu menyalahkan laki-laki. Berkumpul bersama dalam suka cita menyalahkan laki-laki dan mendorong narasi atau wacana mengenai betapa buruknya laki-laki. Bahkan mereka menciptakan semacam tren dan cara pandang hidup yang menyingkirkan kategori-kategori tertentu dari laki-laki baik dan bertanggung jawab demi harta benda, kemewahan dan menukar laki-laki baik demi egoisme pribadi dan khayalan akan hidup serba enak.
Mereka sendiri yang memilih laki-laki yang jelas-jelas buruk sebagai pasangan dan suami. Mereka juga yang menyingkirkan dan membuang laki-laki baik dan bertanggung jawab demi egoisme mereka yang terlalu besar dan susah dikendalikan.
Lalu, mereka menyalahkan laki-laki atas semua kejadian buruk yang mereka alami dalam hidup. Jika hidup mereka tak berjalan sesuai apa yang mereka inginkan. Mereka akan menyalahkan laki-laki. Entah laki-laki sebagai orangtua, sebagai kekasih, sebagai suami, sebagai politisi, hingga laki-laki dalam bentuk sistem sosial dan politik yang mereka sebut patriarki.
Kita semua sama-sama tahu bahwa dunia ini masih dikuasai laki-laki dalam banyak hal. Tapi di dalam semua keburukan itu, nyaris selalu ada perempuan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari segala macam keburukan yang dilakukan laki-laki sebagai manusia dan individu yang sadar.
Lucunya, banyak perempuan secara sadar memilih dan mendukung para laki-laki buruk untuk menjadi selebriti, pejabat publik hingga pemimpin negara yang nantinya akan memengaruhi kehidupan mereka juga.
Kebanyakan para laki-laki yang melakukan berbagai keburukan di dunia ini adalah laki-laki yang berumah tangga. Mereka memiliki anak dan istri. Mereka memiliki keluarga besar yang berisi laki-laki dan tentu saja, nyaris selalu ada perempuan di dalamnya.
Mereka yang korup biasanya memiliki anak dan istri. Entah pra politisi, pengusaha, pejabat publik, pemimpin sebuah negara atau seorang karyawan dan mereka yang memiliki status tinggi di perusahan tertentu.
Mereka yang menjadi kriminal dan pencuri juga seringkali memiliki anak dan istri. Mereka yang mencuri skala kecil atau sangat besar dari uang atau pajak negara. Mereka yang melakukan kriminalitas ringan hingga rela membunuh seseorang demi melindungi diri dari tekanan publik karena ia seorang penjabat atau pengusaha besar dan orang penting di mata orang banyak.
Mereka yang menjadi tiran, diktator, melakukan pemusnahan massal dan mengawali peperangan dan pembantaian berdarah adalah mereka yang juga seringkali memiliki anak dan istri. Sangat jarang penguasa korup dan bengis yang tak memiliki keluarga dan hidup sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
