Ada tiga hal penting yang terjadi di abad ini. Tiga hal yang menjadi acuan besar dan sejarah pada hidupku sendiri.
Pertama, Greta Thunberg, anak remaja yang mempelopori gerakan lingkungan anak-anak yang akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Mengisi berbagai kota di dunia dengan unjuk rasa damai mengingatkan generasi tua yang gagal dalam menyelamatkan bumi.
Greta menjadi tokoh penting bagi generasi yang lahir di tahun 2000. Sedangkan Severn Cullis-Suzuki harusnya menjadi tokoh penting bagi generasiku. Hanya saja, di masa keberadaan Severn yang pada waktu itu nyaris seusia dengan Greta, tak banyak orang memiliki televisi. Tak ada banyak telepon. Radio pun masih termasuk mewah. Sedangkan buku hanya dimiliki oleh orang-orang perkotaan dan terpelajar. Internet belum memasuki era seperti sekarang ini. Saat media sosial menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari.
Mengapa Greta menjadi begitu sangat penting bagi generasi milenial 2000?
Greta dan rekan sebayanya hidup di masa kegagalan ilmu pengetahuan, wacana, kebaikan, agama, ide-ide, dan manusia itu sendiri. Juga kegagalan orang tua mereka dan mereka yang hari ini hidup dan sekedar memiliki anak tapi tak pernah peduli dengan setiap konsumsi kesehariannya.
Di masa Greta, miliaran orang seolah tak mampu atau tak ingin berbuat banyak untuk alam: rumah manusia itu sendiri. Ketidakmauan manusia sangat jelas terlihat di media dan internet sehari-hari. Kegagalannya bisa dilihat dan diamati setiap hari juga. Ini berbeda dengan Severn yang pada waktu itu, media informasi begitu terbatas dan tak bisa menyentuh banyak pihak.
Greta penting karena dia menyuarakan ambruknya alam di tangan manusia dan mendorong orang tua mereka dan rekan-rekannya untuk berbuat.
Berbagai protes yang aku lihat di berbagai media, yang diisi oleh anak-anak dan para remaja, begitu luar biasa di mataku. Gerakan anak-anak dalam menuntut lingkungan yang bersih, bumi yang baik, dan kritik terhadap para orang dewasa, semakin menyebar dan akhirnya diikuti oleh banyaknya orang dari berbagai macam usia.
Sayangnya tak banyak orang tua peduli dengan anak-anak mereka.
Saat anak-anak ingin berbuat dan mengingatkan para orang tua yang abai dan gagal. Sebagian besar orang tua bersikap bertahan, anti kritik, dan tak peduli. Mempertahankan pandangan kuno mereka yang telah merusak banyak hal.
Dalam dunia semacam itu, sekali lagi, sejak Severn yang membuat banyak orang terpenting dunia menahan napas karena isi pidatonya yang menyentuh sekaligus menohok. Lalu tibalah Greta bagi generasi anak-anak dan remaja, juga setidaknya anak sekolah dan mahasiswa dewasa ini.
Hanya saja, kemunculan Greta dan gerakannya, pun tak bisa menyentuh kebebalan manusia yang jumlahnya begitu banyak.
Bagi anak usia 10-20 tahun, kemunculan Greta harusnya membuat mereka mulai berpikir akan lingkungan dan masa depan bumi. Juga mulai menyadari bahwa anak-anak juga penting dan bisa berbuat sesuatu yang besar.
Hanya saja, di Indonesia, dan bagian dunia lainnya, para orang tua yang tak suka berpikir dan enggan dimintai tanggung jawab ekologis, mengajari anaknya untuk tak peduli akan hal semacam itu. Akhirnya, di negara ini, Greta bukan keberadaan yang populer untuk diikuti.
Bahkan bisa dibilang tak penting. Untuk membaca buku saja tak mau apalagi harus turun ke jalan dan berpikir mengenai penyelamatan bumi. Pasti banyak orang tua tak akan mengijinkan. Hanya sedikit kemunculannya lalu menguap seketika. Itulah Indonesia.
Setelah protes Greta dan anak-anak segenerasinya seakan berada di jalan buntu. Muncullah kebakaran hutan terbesar di dunia yang memusnahkan jutaan makhluk hidup di Australia.
Kebakaran hutan itu menjadi titik balik sejarah penting lainnya, yang banyak dikhawatirkan oleh para pakar, ilmuwan, dah para enviromentalis.
Abad iklim yang panas bergerak terlalu cepat, didorong oleh manusia, dan memusnahkan begitu banyak kehidupan.
Sudah sangat lama perdebatan mengenai kepunahan keenam mengemuka sampai istilah Antroposen menjadi umum di banyak kalangan ilmuwan dan orang awam. Dalam jarak di masa lalu sampai saat ini, tak banyak berubah.
Greta, para ilmuwan, penulis alam, aktivis lingkungan, dan kebakaran hutan yang mengerikan itu. Tak banyak menyadarkan orang-orang karena memiliki dampak terbatas dan sedikit orang yang terkena penderitaannya.
Saat kegagalan kesadaran semacam itu telah menjadi umum dan bebal. Saat penyadaran apa pun tak bisa membuat sadar mayoritas besar manusia. Datanglah virus tak terlihat bernama Korona.
Korona menjadi titik balik akan banyak hal. Dari kegagalan empati, ketidaksatuan manusia, kerapuhan struktur ekonomi dan politik, begitu rantannya emosi manusia, dan yang jauh lebih penting, setelah perdebatan panjang dan kegagalan mencapai kesepakatan akan isu pemanasan global, kepunahan yang disebabkan manusia, sampai krisis iklim. Saat tak satu pun manusia bisa mencapainya. Virus Korona tiba-tiba saja bisa melakukannya.
Manusia mendadak hilang di jalan-jalan, menghentikan aktivitasnya, ketakutan, dan udara yang buruk oleh bensin dan mesin-mesin, berhenti sebentar. Membuat langit menjadi lebih cerah, puncak gunung menjadi terlihat, udara lebih bersih dan segar, dan berbagai makhluk hidup yang bermunculan di banyak tempat yang awalnya padat dengan kerumunan manusia.
Bukan manusia yang melakukannya. Tapi Korona. Alam pun, melawan balik. Mengingatkanku akan satu bab dari Silent Spring karya Rachel Carson dan andaian Alan Weisman dalam Bumi Tanpa Manusia mengenai kemungkinan punahnya manusia oleh virus.
Hanya saja, setelah wabah Korona berakhir. Manusia akan menjadi seperti biasanya. Tak lebih dari ulangan yang kemarin. Di tengah dunia yang sedang bergejolak dan panik dengan kematian. Tak banyak yang berubah. Krisis akibat Korona tak membawa banyak perubahan. Ini berarti, apa yang dilakukan Greta Thunberg pun menjadi hal yang percuma.
Karena kebanyakan orang sangat tak ingin masa depan. Kenapa kita tak segera saja menghentikan masa depan itu sendiri?
Apakah manusia masih membutuhkan masa depan?
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
