apa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kadang aku membayangkan, jika Martin Suryajaya adalah hegel. Maka aku adalah Schopenhauer. Sosok yang lebih kecil. Tak terkenal. Dan bukan siapa-siapa.
Tapi, kami sama-sama menyukai filsafat. Hidup di dalamnya. Dan terkadang, menemukan banyak kenyataan yang sama dalam hidup bermasyarakat atau menemukan titik-titik kesimpulan yang nyaris tak jauh berbeda; entah tentang sastra, masyarakat kita yang hidup hari ini, tentang lingkungan pemikiran yang hampir mati, dan banyak hal lainnya.
Tapi, pijakan filsafat kami berbeda. Dan bagaimana kami menggunakan filsafat juga jauh berbeda. Tapi itu tak jadi soal. Yang aku tahu, dia-lah salah satu penulis dan orang yang mau memikirkan filsafat jauh lebih serius dari pada para pemikir lainnya di masa-ku.
Dalam segala kesibukannya, ia bisa menghasilkan karya-karya tebal yang terstruktur dan sistematis. Suatu hal yang tak akan pernah bisa aku lakukan, mengingat ketidaksukaanku terhadap aturan, sistem, dan segal hal yang berbau detail. Mungkin, hidupku memang mirip filsafat itu sendiri. Bukan filsafat yang rigid. Yang penuh dengan perhitungan atas keseluruhan. Hidupku layaknya filsafat kegilaan. Yang tak runut. Bergerak dari satu sisi ke sisi lainnya. Tak pernah menetap dan pasti. Layaknya gangguan jiwa yang selama berpuluh tahun aku alami. Dan kecemasan yang nyaris setiap hari. Membuatku nyaris tak akan pernah bisa menulis atau mungkin, membuat buku yang terstruktur secara rapi.
Itulah kenapa, di masa aku hidup, keberadaan Martin Surjaya adalah semacam pemicu bagiku. Melihat masih ada orang yang terlibat dalam dunia semacam itu. Saat dunia buku-buku sebentar lagi punah. Bukti-bukti sains yang tak dipedulikan oleh orang pada umumnya. Dan kekayaan dan hidup berkecukupan jauh lebih penting dari pada berkecimpung dalam pemikiran. Dalam filsafat. Dan segala upaya hidup hanya untuk sekedar menyembuhkan diri dan terbebas dari racun lingkungan (manusia-manusia toxic) yang terlalu banyak.
Masih ada sosok yang serius dalam dunia yang aneh ini, yang mau menulis buku tebal dan terlalu berat bagi kebanyakan manusia di negara ini, adalah suatu kehormatan tersendiri.
Itu juga berarti, dalam artian tertentu, aku menghormatinya. Sebagai sesama pemikir. Sebagai orang yang terlibat dalam filsafat. Sebagai filsuf.
Buku PrincipiaLogica adalah buku yang sangat tebal. Entah berapa orang yang benar-benar akan menyelesaikan membaca buku yang tak terlalu menghibur untuk dibaca itu. Aku tak tahu. Setidaknya, aku akan mencoba menyelesaikannya. Walau aku tahu, aku tak pernah, dan tak akan pernah bisa mencintai logika dan segala jenis filsafat yang semacam itu.
Dan yang paling penting, aku tahu, ada orang yang tengah bekerja lebih keras dari pada yang lainnya. Yang rela meluangkan waktunya dalam urusan semacam ini. Itu membuatku ingin menyelesaikan sebagai besar gagasan-gagasan filsafatku sendiri.
Martin dengan caranya sendiri. Aku, dengan caraku. Yang terpenting, kami sama-sama mempercayai dan mencoba untuk mencari, melihat, memetakan, dan mungkin, membangun sesuatu yang bisa saja baru atau sekedar cara memandang yang sedikit lain.
Aku menyukai bagian awal buku miliknya, saat ia menulis, "Apa yang diperlukan adalah keberanian Odysseus untuk berfilsafat tanpa beban, tanpa rasa bersalah -tanpa ampun. Para filsuf hari ini tidak bisa berfilsafat sambil terus menggotong-gotong bangkai abad ke-20; mereka tidak bisa terus merasa bersalah atas dosa-dosa masa lalu yang tidak mereka perbuat. Para filsuf tidak seharusnya menyensor dirinya sendiri dan membatasi kemungkinan-kemungkinan filsafat pada apa yang diizinkan oleh moral pada abad ke-20; menghindari kecenderungan untuk mentotalisasi, mengedepankan ciri parsial dan fragmentaris pemikiran, menciutkan filsafat menjadi sekedar catatan kritis. "
Apa yang ia tulis di bagian itu, seolah tengah membicarakan diriku sendiri. Di masa kita hidup, sebagian orang yang terlibat dalam filsafat hanya orang-orang yang sekedar membaca buku filsafat, bingung dengan dunia ini, tertarik dengan filsafat sebagai sekedar pelarian, terapi psikologis, dan membaca buku filsafat sebagai sekedar bahan bacaan saja. Di masa kita hidup, mereka yang kita temui dalam dunia yang kita kenali ini, menjadikan filsafat tak lebih dari pada pekerjaan dan sekedar untuk pendampingan melanjutkan hidup.
Atau mereka yang menulis filsafat sebagai sekedar sejarah filsafat dan hanya menyuarakan kembali pemikiran orang lain terus-menerus.
Itulah kenapa, kita tak banyak menghasilkan gagasan-gagasan yang bukan milik orang lain. Kita jarang menemukan filsuf di antara kita. Sebagai besar orang yang menyukai dan membaca buku filsafat, tak pernah benar-benar tertarik menjadi filsuf.
Tuntutan Martin dalam awal bukunya, sangatlah tinggi dan bisa dibilang sulit. Ia menginginkan sosok orang, entah siapa itu, semacam ini, "Berfilsafat tanpa beban adalah keberanian untuk memandang segalanya bersifat opsional. Tidak ada yang wajib diandaikan, tidak ada yang wajib disimpulkan. Berpikir lebih penting dari percaya; variasikan semua pengandaian dan kesimpulan yang mungkin, eksplorasi-lah segala kemungkinan sampai ke ujung terjauhnya, jangan menyisakan asumsi-asumsi tersembunyi yang dianggap terlampau sakral untuk diutak-atik, bongkar semua, taruh di atas meja, baru kemudian putuskan yang lebih tepat untuk dipercaya dalam konteks seperti apa."
Kenyataan yang begitu sulit untuk diraih dalam kenyataan hidup bernama Indonesia beserta seluruh jenis masyarakatnya, yang sampai saat ini, merantai kemungkinan-kemungkinan filsafat dan cara berpikir para filsuf.
Kita hidup, di sebuah negara dengan masyarakat yang jauh lebih brutal dan kejam. Dunia media sosial yang tak tahu malu dan penuh dengan kebencian. Para penerbit dan toko buku yang tak pernah ramah dengan pemikiran-pemikiran yang mungkin akan merugikan mereka. Iklim intelektual yang nyaris punah. Segala yang viral dan penuh hujatan. Manusia-manusia yang tak akan pernah bijak sampai kapan pun mereka hidup. Dan institusi pemikiran yang nyaris tak mungkin.
Sebagai filsuf, hidup dalam lingkungan negara dan masyarakat Indonesia pada umumnya, adalah kehidupan yang sulit. Sangat sulit. Apalagi, jika menjadi filsuf yang bebas berpikir, bebas dalam menilik berbagai persoalan, bebas dalam mengkritik, dan bebas dalam menghasilkan dan menyimpulkan gagasan-gagasan. Hal-hal yang semacam itu, di lingkungan sekitar kita, hanya bisa dilakukan oleh luar biasa sedikit orang saja. Satu berbanding ratusan juta manusia yang hidup.
Seorang yang tak banyak terikat dengan keluarga, dengan anak-anak, dengan banyak aturan pemerintah, dengan gaji dan segala ketakutannya, yang tak peduli dengan mati hari ini atau besok, dan sosok yang bisa menulis, berpikir, dan melakukan banyak percobaan pemikiran tanpa peduli dengan apa pun.
Sebuah keberadaan yang benar-benar begitu sangat langka. Karena menjadi filsuf adalah seumur hidup. Sampai mati. Bukan sebuah pekerjaan yang bisa diletakkan dengan mudah dan berakhir dalam status sebagai mantan filsuf.
Buku PrincipiaLogica adalah kisah langka di negara yang sekarang ini aku tinggali. Sebentuk hadiah tersendiri bagi orang-orang semacam diriku. Sebagai pengingat bahwa aku tak sendirian. Masih ada pemikir dan orang yang serius dalam filsafat yang masih hidup. Dan dengan begitu, sebagai penghormatan, aku akan menjadi salah satu orang yang mungkin, akan memberikan kejutan dari segala yang mungkin.
Tak seperti orang-orang lainnya yang membaca buku Martin Surjaya sebagai hiburan dan keingintahuan semata. Aku, dengan cara yang berbeda, akan membangun jaringan gagasanku sendiri. Dengan jauh lebih serius. Menuliskannya. Menuliskannya dengan cara yang tak banyak orang segenerasiku mau untuk melakukannya.
Itu juga berarti, sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang yang juga serius dalam bidang yang sama. Seseorang yang sama-sama tahu, bahwa kita hidup di era, di mana perjalanan pemikiran yang serius, mungkin hampir akan berakhir dalam jeda panjang segala yang ringan dan dangkal.
Suatu masa, saat tak ada satu pun pemikir dan gagasan penting yang dihasilkan di masa kita hidup. Kecuali gagasan-gagasan import yang kita kunyah layaknya bahan pokok dan teknologi siap pakai sehari-hari.
Dan kita, adalah sisa dari generasi terakhir yang hampir punah dalam jeda panjang itu.