apa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sekarang hampir setengah tiga pagi. Kepalaku masih terlalu sibuk untuk bisa membuat mataku menutup. Entah mengapa, terlintas pikiran, aku masih hidup? Betapa anehnya.
Aku gila. Aku sakit secara fisik. Aku bosan. Aku enggan hidup. Aku bahkan terlalu malas untuk memaksimalkan potensi-potensi yang aku miliki. Dan entah mengapa, aku masih hidup dan menjalani dunia keseharian nyaris sendirian selama hampir 15 tahun lamanya.
Aku tak pernah memiliki orang yang aku anggap sebagai sahabat. Tak pernah benar-benar memiliki teman dekat yang bertahan sangat lama. Tak bisa menjaga pertemanan dan hubungan sosial dengan baik. Atau anggap saja, aku tak pernah pandai menjaga pertemanan dan berusaha sebaik mungkin untuk itu.
Mungkin, aku sudah lelah dengan diriku sendiri. Dan sudah tak banyak berharap dengan orang lain dan kepada diri sendiri. Itulah sebabnya, aku menyerah dalam mempertahankan hubungan sosial apa pun. Kecuali hubungan romantis sepasang kekasih. Mungkin itulah satu-satunya hubungan yang tetap menjaga aku hidup sampai sekarang selain keinginan untuk menyelesaikan gagasan-gagasanku.
Jika orang ingin tetap berhubungan denganku dan masuk dalam dunia yang telah aku jalani. Ia harus orang yang sabar dan tak terlalu memikirkan timbal balik empati. Karena aku sosok yang tak pernah pasti. Hidup dalam ketidakjelasan hari ini dan yang akan datang. Datang dan menghilang sesuka hati. Dan tak pernah memiliki perasaan yang benar-benar tenang. Dunia kecemasan yang abadi, membuatku tak bisa dijadikan pegangan dalam hubungan sosial.
Mungkin, itu yang membuatku juga kian nyaman dengan diriku sendiri. Dengan kesendirianku. Bahkan rumah yang aku tempati sekarang ini, yang cukup besar bagi kebanyakan orang, hanya aku sendiri yang ada di dalamnya.
Selama bertahun-tahun lamanya, aku hidup dalam kamar dan rumah nyaris seorang diri. Dan berkeliaran di dunia luar, nyari selalu sendiri.
Selama hampir dua bulan lamanya, aku mengalami insomnia. Susah memejamkan mata. Dunia ini terlalu banyak buatku. Buat seseorang yang ingin bunuh diri sebelum usia 30 tahun. Dan melihat diriku yang sekarang masih hidup. Malah anehnya, aku cukup makmur. Benar-benar aneh.
Hampir satu bulan lamanya juga aku sakit. Mengobati diri sendiri. Merawat diri sendiri. Menjalani hidup untuk diri sendiri. Itulah keseharianku selama ini. Terasa seperti seorang yang begitu sangat mandiri dan menjalani hampir semuanya sendiri.
Aku bukan orang yang introvert. Aku hanya orang yang lelah terhadap diriku sendiri. Aku terlampau bosan terhadap kehidupanku sendiri.
Dan untuk tetap menjaga kegilaanku masih pada tempatnya. Aku membutuhkan uang yang cukup dan setidaknya satu hubungan yang kuat. Bagi orang yang sudah tak banyak berharap terhadap kehidupan ini kecuali hal-hal yang datang akibat dari keadaan terpaksa karena melanjutkan hidup, yang sering menambah daftar kecemasan dan beban pikiran. Sebisa mungkin aku harus tetap sedikit aktif di media sosial. Karena di dunia nyata, aku sudah begitu terputus dengan orang-orang.
Aku sudah tak lagi memiliki hubungan sosial di dunia nyata. Kecuali dengan orang-orang yang lewat, para tetangga yang tak akrab, dan para kurir yang datang dan pergi saat butuh mengantarkan paket saja.
Aku nyaris terputus dengan orang-orang yang aku kenal dan juga yang cukup mengenalku. Aku nyaris hidup sendirian setiap harinya. Mencoba tetap mempertahankan kadar kegilaan agar sesuai pada tempatnya. Dan menjaga agar kebosanan hidup yang aku jalani dengan cara yang begitu sulit, tidak meledak menjadi suatu hal yang mengerikan.
Setidaknya, aku masih bisa menulis. Mencoba sebisa mungkin menyelesaikan isi kepalaku. Masih tetap menulis untuk menuangkan gagasan-gagasanku dalam kondisi kecemasan yang parah, kegilaan yang tak menentu, tubuh yang sakit-sakitan, dan kecemasan yang bagaikan tanpa jeda. Aku akan tetap menulis kalau keadaan memungkinkan. Walau aku tak pernah bisa menuliskannya dengan cara yang baik dan sungguh-sungguh. Juga saat ini, ada kondisi tertentu agar aku bisa benar-benar menikmati menulis.
Aku hanya bisa benar-benar menikmati menulis saat ada di luar, di perjalanan, atau di kafe. Itulah keadaan menulis yang masih bisa aku nikmati untuk saat ini. Itu yang juga membuatku, bisa nyaris setiap hari pergi ke kafe. Karena dalam satu hari ke kafe, aku bisa mendapatkan satu tulisan atau dua tiga esai kecil. Itu cukup lumayan bagi orang yang sudah hampir kehilangan semua yang ada dalam dirinya.
Aku hidup dalam dunia kecilku nyaris seorang diri. Membawa buku dan alat gaming kemana-mana. Membangun keadaan yang tepat untuk tetap bertahan walau setiap hari adalah dunia yang tak jauh berbeda. Yang menggelisahkan dan kehilangan daya tariknya.
Setidaknya, dalam keadaan gila dan pesimis. Aku hidup sangat nyaman dan berkecukupan. Aku bisa membeli berbagai hobi yang aku inginkan. Melakukan banyak perjalanan yang aku mau. Dan setiap hari adalah hari minggu.
Aku orang gila dan depresi yang cukup beruntung. Jika mati mendadak pun, aku sudah cukup puas. Tak ada penyesalan.
Karena masih banyak orang waras di luar sana, yang di antaranya juga ada teman-temanku sendiri, yang kini tengah kesusahan dengan kenyataan hidup yang begitu mahal dan tak menyenangkan.
Satu atau tiga bulan terakhirku di Jogja. Aku ingin menyelesaikan satu buku. Tahun depan, aku akan berada di Bali. Mencoba bergerak. Lari dari kebosanan dan keadaan emosional yang sudah tak lagi membuatku nyaman.
Jika aku masih hidup sampai umur di atas 40 tahun. Mungkin aku bisa menerbitkan lebih dari sepuluh buku yang dicetak cukup bagus dan agak layak dipegang. Menulis lebih dari 30-50 buku yang jadi walau tidak diterbitkan. Menuliskan ribuan esai dan tulisan kecil. Dan jika semaunya dikumpulkan dan dijadikan buku. Entah berapa ribu halaman yang telah aku tulis selama ini.
Jika aku mati dalam usia 70-80 tahunan, dengan kondisi yang masih cukup bagus dalam menulis lewat barang elektronik. Mungkin aku bisa menyelesaikan ratusan buku. Masih bisa menulis ribuan esai. Itu bisa tadi, jika aku tidak bosan dengan keadaanku sendiri dan menyerah total terhadap semua.
Saat mencapai titik akhir dari tulisan ini. Waktu sudah hampir mendekati pagi hari dengan suasana mataharinya aku sudah mulai mengantuk. Mataku sudah lelah. Kepalaku juga sudah mulai agak diam. Mungkin, aku sudah bisa benar-benar bisa menikmati tidur.
Sebelum akhirnya, pada siang harinya, aku harus kembali pada kenyataan hidup yang sama. Masih sambil mencoba bertahan dari kehidupan yang enggan ini.