PERANG AKAN SEMAKIN SERING TERJADI

55 5 1
                                        

Rusia sudah mulai bergerak. Ukraina harus membayar mahal akibat kebodohan pemimpin mereka. Rakyat mereka juga lebih memilih perang dan mati. Maka biarkan saja.

Lagian, bisa menyaksikan kemungkinan perang dunia ketiga di depan mata sendiri, rasanya akan menarik. Dari pada bosan dengan kehidupan sehari-hari. Menyaksikan perang sipil Myanmar, kerusuhan di Taiwan dan Kanada, sesekali saling bunuh antara Israel dan Palestina, kehancuran Afghanistan, ambruknya Syria, dan terkadang, masalah Papua yang entah kapan bisa selesai.

Jika perang skala besar terjadi, keruntuhan ekonomi ada di depan mata. Tentunya wajib militer. Pemadaman listrik. Internet mati. Pemutusan kerja besar-besaran. Dan mereka yang hari ini ekonominya buruk, lebih baik siap-siap menderita saja.

Bagi orang yang hidup di negara ini, mulai sekarang, perhatikan baik-baik China. Negara besar itu ingin dijadikan teman atah musuh. Jika musuh, bersiaplah mengalami neraka ekonomi yang parah. Tidak hanya neraka ekonomi, tapi juga secara militer.

Jika China akhirnya memilih terlibat dan mendukung Rusia. Sedangkan mereka yang mendukung Amerika juga ikut serta. Maka, mulai saat itu juga, semua yang berwajah China dan Tionghoa, segeralah tiarap. Menyelamatkan diri. Dan lari.

Karena, begitu banyak orang berdarah China yang hidup di mana-mana. Itu juga berarti pengusiran dan diskriminasi besar-besaran. 

Semua orang yang berwajah China, berharaplah, negara yang kalian tinggali tidak bermusuhan dengan negara besar itu. Jika China terlibat dalam Perang Dunia entah kapan, nasib kalian juga akan ditentukan waktu itu juga. Sekali saja China terlihat dalam perang skala besar dengan Barat, takdir kalian disegel nyaris sepenuhnya.

Hal yang menarik dari perang adalah keadaan rakyat yang tak peduli. Yang masa bodoh. Dan hidupnya setiap hari seolah damai tanpa peduli banyak hal. Tak peduli jalannya politik negara dan dunia internasional. Maka, mereka harus ikut para pemimpin mereka dalam mengatasi masalah luar negeri. Seperti halnya rakyat Rusia dan Ukraina. Mereka hanya korban dari pemimpin mereka masing-masing. Juga korban kebodohan dan keangkuhan mereka sendiri.

Mereka semua bisa menolak perang besar-besaran terjadi. Tapi mereka membiarkannya. Mereka tak berbuat banyak. Memilih diam. Malah seolah ingin terjun dalam perang konyol yang mereka keluhkan. Dan, baiklah, silahkan berperang. Aku hanya mengamati abad yang menarik ini. Abad yang akan memunculkan banyak perang di masa depan.

Sekarang ini, aku tengah memikirkan Harari dengan Homo Deusnya. Ia mengatakan bahwa kemungkinan perang skala besar tak akan terjadi lagi. Yah, waktu membaca bukunya, aku lebih dulu tak setuju. Perang di masa depan, akan menjadi tak kalah brutal dan mengerikan.

Bisa jadi, perang skala dunia tak terjadi hari ini. Semua pemimpin negara yang terlibat antara Rusia dan Ukraina bertemu. Menjalin kesepakatan bersama.  Lalu pasukan ditarik mundur. Hanya saja, sisa ketegangannya masih ada. Kebencian masih terngiang. Dan masa depan, sayangnya, masih menyisakan banyak tahun.

Di masa depan yang entah, manusia tetap saja berbangga dengan kebodohan mereka. Dengan kebanggaan mereka yang semu. Dengan segala ketidakbijaksanaan mereka. Menghasilkan berbagai macam perang, yang tak pernah dibayangkan para pemikir yang beranggap bahwa semua perang skala besar ditakdirkan berakhir.

Mulai hari ini, cita-cita gerakan hijau dan penyelesaian krisis iklim pun semakin berat. Banyak pihak akan mulai kembali mempersenjatai diri. Membeli dan mengembangkan alat perang mereka. Tentu saja, abad nuklir akan kembali meriah.

Nuklir, yang selama ini dibenci dan dijauhi semenjak krisis Hiroshima dan Chernobyl, akan menjadi dua sisi menarik. Satu sisi, akan digunakan untuk keperluan perang. Sisi lainnya, untuk energi dan alam yang kembali setelah tak adanya lagi manusia di sekitar.

Jika perang skala besar di eraku ini benar terjadi. Semua orang akan terpengaruh. Dunia sudah terlanjur terhubung. Berbagai negara sudah lebih dulu memilih sekutu mereka. Orang-orang awam yang masa bodoh tak lagi bisa sesantai dan seenaknya lagi. Mereka tak bisa lagi tak peduli saat krisis Timur Tengah terjadi. Mereka tak bisa lagi menutup mata dan hidup dengan santai saat perang sipil Myanmar ada di dekat negara mereka. Mereka tak akan jadi manusia yang seenaknya berkomentar kejam di media sosial lagi saat perang menghampiri keluarga dan rumah yang ditinggali.

Saat perang terjadi, semua orang sinis dan kejam di media sosial mendadak menangis dan meminta bantuan. Mereka yang masa bodoh dan setiap hari berkomentar sesuka hati mendadak ketakutan. Lari. Dan minta dikasihani. Orang-orang yang tak punya hati dan pandai membully orang lain, seketika menjadi orang pertama yang tak siap menghadapi kenyataan. Sebuah negara dengan ratusan juta jiwa yang begitu pandai meremehkan orang lain. Saat perang ada di rumah mereka. Mereka semua meraung minta bantuan.

Perang, membuat mereka menjadi diam dan tak lagi berkomentar keji. Siapa yang akan membantu mereka, jika masih menjadi masyarakat yang tak sopan dan kejam di media sosial sedunia?

Perang menarik dalam banyak hal jika sekedar diamati. Terlebih bagaimana rakyat yang buruk dan tak peduli dengan semua hal. Akhirnya tersadar, mereka butuh pertolongan dari perang yang mereka ciptakan sendiri. Yang mereka biarkan dengan terbuka. Yang telah mereka abaikan gejala dan kemungkinan terjadinya.

Perang masa depan adalah hasil ketidakpedulian miliaran manusia yang menyebut dirinya rakyat. Yang lebih memilih bercinta. Menyelesaikan pendidikan dan karirnya. Dan masa bodoh dengan yang lainnya.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang