Bagaimana cara untuk menyelesaikan perang yang begitu membosankan itu? Perang yang entah berapa kali aku saksikan dari jauh semenjak aku kecil sampai hari ini. Yang aku pikir, bahkan jika aku mati pun, konflik itu akan terus berlangsung.
Dan dunia, beserta orang di dalamnya, hanya sibuk berpura-pura berempati tanpa mau menyelesaikanya sama sekali.
Saat semua negara dengan rakyatnya lebih memilih diam dan memilih hidup amannya sendiri. Maka, apa yang bisa diharapkan dari masyarakat dunia? Mereka yang humanis dan beragama, hanyalah contoh dari kegagalan kemanusiaan dan agama itu sendiri.
Setiap perang itu pecah di layar kaca dan media berita dipenuhi oleh komentar-komentar membosankan dari orang-orang yang tak melakukan apa-apa. Yang tersisa hanyalah satu cara. Cara yang terus aku percayai sejak dulu.
Mari, hapus Israel dan Palestina. Seperti halnya, sejarah penting yang mengosongkan tanah Chernobyl sampai entah kapan akan terisi lagi manusia.
Dengan menghilangnya Israel dan Palestina, kepura-puraan berempati dan merasa bermoral akan tak lagi ada, menyangkut masalah kedua bangsa itu.
Dengan begitu, semua orang bisa berpura-pura ke masalah lainnya. Bukan mengurusi perang paling membosankan dalam sejarah manusia.
Mungkin, apa yang dikatakan David Attenborough mengenai alam dan ledakan reaktor nuklir di Chernobyl, sangat layak, untuk menjadi cara terbaik untuk menyelesaikan perang yang tak berkesudahan itu;
"Tak ada manusia tanpa pelindung bisa tinggal di sini untuk waktu lama tanpa risiko mematikan. Tapi dengan mengusir kita, radiasi telah menciptakan tempat untuk kembalinya kehidupan liar. "
Mungkin, dari pada tanah itu terlalu berisik dengan sejarah kebohongan dan perang. Lebih baik, biarkan alam yang mengambil alih. Dari pada tanah itu dan orang-orang di dalamnya, disiksa oleh miliaran manusia yang hanya sibuk berkomentar saja.
Ah, sebuah dunia tanpa Israel dan Palestina adalah impianku.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
