Dalam hampir setiap protes dan demonstrasi yang tak terarah dengan baik dan sangat reaksioner tanpa tujuan yang jelas dan kuat. Akan selalu ada rumah dan toko-toko yang dijarah. Orang-orang yang mencari kesempatan untuk mencuri dan mengambil harta pribadi atau milik publik. Juga, akan selalu ada rumah-rumah yang dibakar. Bangunan-bangunan yang dilalap kobaran api. Juga, selalu ada parasit-parasit yang tak turun ke jalan tapi mengomentari semua peristiwa dan berlagak menentang ini dan itu selain orang bayaran yang menyusup dalam barisan untuk mengacaukan tujuan yang ingin dicapai demonstrasi itu sendiri.
Dalam banyak sejarah demonstrasi, kerusuhan bisa dimanfaatkan sebagai kritik dan suara ketidakpuasan yang nantinya akan mengancam kekuasaan negara dan menjatuhkan para pejabat korup yang ada atau berakhir sebagai tindakan yang tak menghasilkan apa-apa karena ketidakmampuan untuk mencapai tujuan hingga akhir.
Terkadang, rumah-rumah memang harus terbakar. Rumah-rumah milik pejabat korup harus dijarah dan dibumihanguskan. Fasilitas publik dan gedung-gedung lembaga negara harus dirusak dan dimusnahkan. Membuat kota tak lagi berfungsi dan negara berada di ambang krisis skala besar sehingga militer harus turun tangan adalah hal yang sangat diperlukan.
Dalam negara dengan pemerintah yang korup dan pejabat publik atau politisi yang membusuk dan tebal muka. Melakukan kerusuhan massal, penjarahan dan kerusakan di sana sini memiliki fungsi nyata untuk menciptakan garis batas.
Apakah militer, politisi, negarawan dan rakyat banyak akan mendukung perubahan atau tidak atau lebih sibuk memikirkan diri mereka sendiri.
Kegunaan kerusuhan massal adalah untuk menarik keluar orang-orang yang lebih memilih menjadi parasit, berdiam diri dan malah tak suka dengan para demonstran atau orang-orang yang tengah melakukan protes dan pemberontakan.
Bahkan jika demonstrasi dan protes disusupi atau coba dikendalikan oleh intelijen negara dan mereka yang berkepentingan. Jika kerusuhan juga bermula dari orang-orang yang menyusup dan dibayar oleh para penguasa dan aparatur negara. Itu tetap saja berguna untuk menciptakan garis batas dan melihat siapa saja yang akan mendukung sampai akhir dan mereka yang tetap tak melakukan apa-apa dan sekadar sebagai parasit.
Akan selalu ada orang yang diuntungkan dari sistem lama dan sudah memiliki kehidupan yang stabil dan aman sehingga mereka menolak adanya perubahan dan membenci adanya demonstrasi atau hal-hal yang dianggap merusak.
Akan ada banyak orang-orang yang merasa tak berkepentingan dan tak terganggu sehingga masih melakukan aktivitas normal seperti biasanya karena mereka takut akan perubahan sosial yang terlampau buruk dan berdarah atau memang sudah berada dalam tahap kestabilan akan banyak hal.
Orang-orang semacam itu tak menyukai perubahan dan cenderung menganggap hina mereka yang turun ke jalan. Atau, yang mungkin paling banyak adalah orang-orang yang ingin adanya perubahan tapi tak melakukan apa pun dan sekadar menjadi penonton dan berlagak menjadi komentator moral karena takut, dianggap melelahkan, dan bukan kebutuhan utama dari kehidupan mereka.
Kerusuhan massal dengan tujuan yang jelas dan masih mampu mengendalikan berbagai macam ketidakmenentuan yang ada di lapangan akibat sabotase banyak pihak memiliki fungsi yang sangat jelas dan krusial. Kebutuhan akan adanya garis batas yang jelas antara mereka yang mendukung rakyat yang menginginkan perubahan segera dan mereka yang tidak mendukung atau membencinya.
Perubahan sosial dan politik skala besar akan lebih mudah terjadi jika yang menginginkannya jauh lebih banyak daripada mereka yang membenci dan tak menginginkannya.
Perubahan yang damai dan revolusi yang cenderung bersih tanpa banyak korban jiwa bisa dilakukan asalkan rakyat banyak mendukung dan yang paling penting militer dan pejabat yang korup sadar diri untuk meletakkan jabatan dan diganti dengan orang-orang baru yang lebih ahli dan baik.
Jika militer menolak mendukung rakyat, banyak pejabat dan politisi menolak mengundurkan diri, dan masih banyak masyarakat yang sudah nyaman dalam posisinya masing-masing tak ingin adanya perubahan sama sekali atau tak ingin ikut serta sama sekali. Kerusuhan massal dengan pembakaran berbagai fasilitas publik dan rumah-rumah pejabat korup atau warga yang menentang perubahan jadi tak terhindarkan.
Melumpuhkan aktivitas ekonomi dan jalannya pemerintahan sebuah kota dan wilayah menjadi kebutuhan penting untuk menghancurkan fondasi lama. Kehancuran sistem lama akan diwarnai dengan banyak hal tak menyenangkan dan tak menguntungkan, terlebih bagi mereka yang tak siap dan tak menginginkannya.
Dalam kerusakan massal skala besar itu, garis batas pun tercipta dan semakin jelas. Jika kerusuhan skala besar masih tak bisa menyadarkan banyak pihak untuk ikut serta turun ke jalan dan bersama-sama melakukan perubahan sampai akhir. Maka kebutuhan selanjutnya semakin jelas, yaitu perang saudara dan yang menang dari peperangan berdarah itu akan menjadi penguasa baru dengan sistem dan nilai yang juga baru.
Atau memilih melakukan referendum serentak, parsial dan masing-masing wilayah memilih kemerdekaan dirinya sendiri.
Mereka yang membenci perubahan dan menolak sistem baru harus terkurung dalam wilayah yang terbatas dan negara yang lebih kecil sebagai akibat dari sikap pasif dan menolak ikut dalam perubahan jika akhirnya negara berakhir bubar atau banyak wilayahnya memisahkan diri. Mereka yang sekadar jadi penonton harus mengikuti mereka yang memiliki suara lebih banyak, yang nanti akan menentukan nasib negara secara keseluruhan.
Perubahan yang cenderung damai sangat mudah terjadi jika hampir semua lapisan masyarakat secara besar-besaran mendukung dan bersama-sama menurunkan penguasa lama dan membuat dunia baru yang dinginkan dan dianggap lebih baik. Jika kondisi yang ideal itu tak terjadi. Satu-satunya cara adalah dengan paksaan. Melakukan perang saudara, pengambilalihan kekuasaan secara paksa atau referendum serentak yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Saat tak banyak orang memiliki tujuan yang searah dan sama. Peperangan untuk menentukan siapa yang jadi pemenang haruslah terjadi. Atau kita harus berpisah dan berjalan berlainan dengan tak lagi bersama dalam satu negara kesatuan yang sudah ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
