Akhirnya, setelah bersusah payah untuk mempertahankan hidup yang sudah sangat lama tak aku inginkan ini. Aku berada di pintu ketiadaan. Seluruh bagian dari diriku telah selesai dan aku merasa puas dengan itu.
Memang benar aku menderita. Tapi aku puas dengan apa yang telah aku selesaikan. Tak banyak orang yang bisa menyelesaikan apa yang telah aku selesaikan.
Akhir-akhir ini, kota yang sementara ini aku tinggali tengah dilahap oleh hujan yang sangat lebat. Hujan terus-menerus nyaris setiap hari. Membuat aku sangat ingin menikmati diriku sendiri sebelum tubuh dan jiwa benar-benar rusak. Selama ini aku mengejar kondisi diriku yang mungkin akan runtuh kapan saja.
Sekarang, keruntuhannya begitu cepat. Tubuhku perlahan-lahan tak lagi menjadi milikku sendiri dan aku tak lagi benar-benar bisa mengendalikannya seutuhnya.
Apakah orang yang tak pernah ingin hidup lama dan menua seperti diriku, merasa perlu mencintai sebuah negara dan merasa terikat dengannya?
Dunia tanpa adanya diriku akan tetap berjalan seperti biasanya. Hari di mana aku mati akan tetap normal seperti hari-hari yang lain. Ada atau tidaknya diriku negara ini tetap berjalan di tangan kebanyakan orang buruk.
Mungkin, jika semakin banyak orang memilih mati seperti diriku dan tak lagi terikat dengan tanah di mana ia dilahirkan. Negara ini di masa depan yang dekat akan kehilangan masa terbaiknya. Terlebih jika mereka yang potensial lebih memilih mati muda atau meninggalkan negara ini. Tapi apa urusanku?
Orang-orang yang membutuhkan negara inilah yang seharusnya merasa khawatir jika mereka ingin hidup lama dengan rasa aman yang menenangkan. Negara ini hanya penting untuk mereka yang membutuhkan hidup dan menjalani usia tua tanpa banyak gangguan dan masalah. Mereka yang tak tertarik dengan hidupnya sendiri dan merasa usia tua tak lain bukan adalah jebakan omong kosong, tak memiliki kepentingan untuk memikirkan negara ini.
Untuk apa terikat pada sebuah negara yang dikelola oleh para pemimpin yang tak tahu keberadaan kita nyata atau tidak. Kita benar-benar ada atau tidak, mereka tak pernah tahu. Kita sakit atau menderita tak ada yang tahu. Mereka bahkan juga tak peduli.
Nasionalisme hanya untuk mereka yang ingin hidup dan sekadar kebanggaan mereka yang sakit dan takut mati. Atau mereka yang ingin mempertahankan kekayaan dan bersenang-senang dengannya hingga menua.
Mencintai negara dalam kemiskinan apa gunanya? Buat apa kalian jatuh cinta dengan negara ini jika setiap hari dipenuhi rasa sakit? Bagaimana bisa seseorang dipaksa mencintai sebuah negara yang ia tak pernah merasakan apa itu kebahagiaan atau sekadar hidup nyaman?
Di abad kita ini, cinta negara tak lebih daripada kebodohan yang aneh. Banyak orang merasa mencintai negara ini padahal setiap hari mereka tak lebih daripada sapi perah sistem dan dieksploitasi oleh mereka yang korup.
Negara ini adalah negara yang dijalankan oleh orang-orang dewasa dan mereka yang menua. Apa jadinya jika kita menyerah untuk beranjak dewasa dan memperpendek usia hidup kita?
Negara yang kehilangan orang-orang dewasanya dan anak-anak yang kehilangan minat dengan menua yang tampak mengerikan dan terkesan hina itu.
Sehina itukah menua? Ya. Memang sehina itu.
Lihatlah kepala negara, para menteri, anggota dewan, aparatur negara, mereka yang menjaga hukum hingga kedua orangtua kita sendiri. Negara ini dibentuk oleh mereka. Generasi orangtua kita adalah generasi paling hina dari semua generasi.
Merekalah yang memiliki kekuasaan menghancurkan negara ini dengan kekuasaannya. Sedangkan mereka sebagai orang biasa menua dengan menjadi budak pekerja dari hari ke hari. Diam membisu melihat kerusakan yang disebabkan oleh generasi mereka tanpa mau berbuat sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
No Ficciónapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
