Ada kenyataan yang tak menyenangkan bagi filsuf mana pun yang masih sibuk mengamati manusia pada setiap harinya. Bahkan bagi filsuf yang mencoba untuk tak lagi banyak berurusan dengannya, akan terjerumus pada kenyataan manusia yang susah untuk bisa ditolak.
Kenyataan saat ini, dalam dunia yang diselimuti oleh wabah. Umat manusia masih mengulangi diri dalam kebodohan dan kepicikan yang sama.
Saat nurani harusnya ditumbuhkan dan kebijaksanaan menjadi nilai utama di masa krisis kemanusiaan. Sebagain besar manusia, dan mungkin yang terbanyak, tak lagi peduli dengan apa itu empati.
Apa yang bisa diharapkan dari manusia beragama dan bermoral jika kenyataan telah membuat segala topeng itu tampak bodoh dan tak bisa lagi menyimpan segala jenis kepura-puraan?
Apa yang bisa diharapkan dari manusia yang bahkan gagal dalam hal berpura-pura?
Di era semacam ini, sangat susah menjadi filsuf. Begitu sulit dan melelahkan melihat kenyataan sehari-hari manusia yang begitu jarang mengakui kebobrokan dirinya sendiri.
Dan begitu sangat tak menyenangkan menjadi filsuf yang mengetahui perasaan, pikiran, dan tindakan manusia dalam setiap hari yang kadang menjadi begitu sangat menjengkelkan.
Begitu pandainya kah manusia mengelak kenyataannya pribadinya sendiri? Sehingga di masa wabah yang entah kapan akan berakhir ini. Segala jenis kenyataan pribadi manusia yang dalam dunia normal ditutup-tutupi. Kini meledak dalam bentuk yang paling menjijikan dan brutal.
Di mata filsuf yang sudah bosan dengan polah tingkah manusia dalam dunia keseharian. Nyaris tak ada hal baru dari polah tingkah manusia. Tapi tetap saja, kenyataan tanpa pengakuan diri yang juga mewabah ini, membuat filsuf mana pun yang masih bisa berpikir, merasa jengkel dan benar-benar tak habis pikir.
Beginikah rupa manusia dalam wabah pandemi, yang orang-orang masih tak mau mengakuinya?
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
