Perang besar akan terjadi di negara ini. Tapi entah kapan. Tak ada yang tahu.
Hanya perang-perang kecil yang bisa dijadikan contoh untuk masa depan. Dan bagaimana masyarakat sedang mengarahkan dirinya sendiri ke sana.
Sebuah perang yang bisa aku bayangkan, perang besar di masa depan. Perang saudara yang begitu dingin dan kejam.
Baiklah, mari kita bayangkan, jika benar perang besar itu terjadi. Kemungkinan apa yang akan terjadi di sekitar kita?
Di sekitar rumah kita diisi oleh begitu banyak manusia dengan sejarah hidup dan keyakinan yang berbeda-beda. Ada yang baik. Toleran. Dan ada yang juga toleran karena keterpaksaan.
Saat ekonomi tak memburuk dan keadaan sosial yang damai. Banyak orang masih bisa menyimpan kejengkelan dan amarah mereka masing-masing.
Tapi ini adalah situasi perang. Kita sudah tahu banyak soal masyarakat Indonesia dalam kondisi paling damainya. Dan mungkin inilah yang akan terjadi jika perang hadir di sekitar rumah kita.
Beberapa tetangga kita mungkin akan menjadi ancaman. Yang membuat kita harus segera berpindah atau kabur entah kemana.
Berjalan kaki atau menggunakan kendaraan pribadi, yang akhirnya terhenti oleh para preman yang kini bebas melakukan apa saja di jalanan. Dan mereka yang menjadi perampok secara sembunyi-sembunyi, kini bebas menjarah siapa saja.
Baik di rumah kita sendiri. Atau di jalan-jalan.
Saat kita tengah cemas dan ketakutan akan kemungkinan air minum yang mulai habis. Makanan yang tak seberapa. Dan kelelahan yang sangat.
Kita akan melihat langsung, beberapa orang yang membakar rumah-rumah. Merusak. Dan mencuri semua isi di dalamnya.
Sebagian orang tak segan-segan menghunus senjata tajam. Teriakan di sana-sini. Jeritan kesakitan dan memohon. Pemandangan akan banyaknya mayat di jalanan, mungkin akan menjadi hal yang biasa.
Pemerkosaan juga akan jadi pemandangan yang terpaksa harus kita lihat.
Di dalam satu kota saja, saling bunuh karena perbedaan ideologi, agama, ras, dan siapa yang dipercaya dan dijadikan pemimpin. Akan menjadikan sebuah kota ajang sempurna bagi segala jenis kengerian.
Dalam masa damai yang tentram, pembunuhan menjadi hal yang biasa dan tak terlalu dihiraukan. Dari rakyat kecil sampai pejabat publik. Dari yang miskin sampai yang kaya raya.
Tertahan oleh hukum dan ekonomi yang baik, monster-monster yang bersembunyi karena kedamaian akhirnya bisa kita lihat jelas saat hari itu tiba.
Saat perang tepat di depan mata kita. Sebagian dari rakyat Indonesia akan benar-benar sangat menakutkan dan tak lagi menghargai sebuah nyawa.
Beberapa pemimpin daerah akan sangat bersuka hati dalam memanfaatkan situasi. Sebagian dari mereka ingin menjadi raja-raja kecil dan mendorong pengikutnya untuk memerdekan diri. Sebagian lain, mendaki karir secara suka cinta dengan membunuhi mereka yang dinamakan pemberontak.
Di masa perang, semua orang memiliki agendanya masing-masing.
Ingin lebih berkuasa, berpengaruh dan kaya.
Akan selalu ada pengkhianat di berbagai kota dan desa. Dan akan selalu ada orang yang berbeda pendapat, berseteru, dan tak suka berdiskusi.
Kekerasan adalah jalan utama untuk menyelesaikan masalah Indonesia.
Dan yang paling buruk, akan banyak perempuan diperkosa di sana sini. Saat jutaan laki-laki Indonesia sejak kecil sudah terbiasa dengan gairah seksual tinggi dan mencoba-coba untuk memperkosa teman sekolah dasarnya sendiri. Di masa perang saudara, saat hukum tak lagi ada, akan ada banyak laki-laki yang bersuka cita melampiaskan nafsunya. Teror seksualitas akan mewarnai jalannya perang yang brutal, berdarah, dan benar-benar tak perlu menggunakan isi kepala untuk saling mencari jalan keluar secara damai.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
No Ficciónapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
