Bagi beberapa perempuan, melahirkan bukanlah tujuan hidup. Melahirkan tidaklah penting. Dan keputusan tidak memiliki anak adalah pilihan.
Masyarakat, terlalu sering memaksa para perempuan untuk melahirkan. Memaksa mereka melahirkan apa yang tidak diinginkannya, tidak hanya ini bisa dibilang sebagai kejahatan tapi juga, keegoisan yang berujung pada banyaknya bayi yang tumbuh dewasa dalam kegilaan.
Mereka yang memiliki rahim, berhak menghapus rahim mereka. Mereka juga berhak menggugurkan kandungannya jika memang tak menginginkannya.
Beberapa orangtua yang terpaksa melahirkan, akan jauh lebih berbahaya dari pada para penjahat terkeji sekalipun.
Jauh lebih mengerikan melihat mereka yang tak siap melahirkan dan membenci memiliki anak, dipaksa dan memaksa diri untuk melahirkan bayi ke dunia ini.
Sebagai besar perempuan, bersama pasangannya, menganggap anak tak menarik untuk dimiliki dan malah menjadi beban dalam kehidupan rumah tangga. Hanya saja, kehamilan yang tak diinginkan biasanya akan segera diberi status hukum dan nilai-nilai. Atas nama kehidupan, rahim yang bahkan belum bernapas itu, sudah terlampau disucikan .
Aborsi menjadi kejahatan. Padahal, membiarkan embrio membesar dan menjadi calon anak yang tak diharapkan, adalah Tuhan dari segala kejahatan itu sendiri.
Perempuan, berhak menolak untuk meneruskan proses kehamilannya. Mereka memiliki hak atas tubuhnya dan masa depannya. Terlebih, bagi mereka yang sadar bahwa mereka bukanlah calon orangtua yang baik. Juga, bagi mereka yang menganggap kelahiran bayi-bayi baru adalah pemaksaan terhadap kehidupan yang kelak akan menyakitkan. Memilih untuk tidak memiliki anak dan tidak melahirkan adalah keputusan yang bagi mereka adalah tepat.
Tapi, masyarakat dan nilai-nilai yang menyertainya, seringkali mengancam dan mengecam. Sehingga, banyak sekali perempuan yang terpaksa melahirkan apa yang tak diinginkannya.
Dalam siklus semacam itu, kita melihat dunia yang kita kenal hari ini. Dunia yang bisa dicegah tapi dipaksakan ada dan dikeluhkan tanpa sadar diri.
Hak untuk tidak melahirkan dan menolak untuk melahirkan adalah hak yang sangat penting dan harus dimiliki oleh setiap perempuan.
Perempuan berhak menolak proses kehamilannya. Perempuan juga berhak untuk tidak dipaksa memiliki anak oleh orangtua, pasangan, dan keluarga besar yang nyaris tak tahu apa-apa tentang diri seorang manusia perorangan.
Memiliki anak bukan keadaan yang menarik. Beberapa orang lebih menyukai diri mereka sendiri. Merasa lebih bebas dan hidup tanpa seorang anak yang tak mereka inginkan.
Perempuan yang memiliki rahim, menentukan proses kelahiran yang mengerikan itu. Apakah para perempuan itu akan mengutuk bayi-bayi yang baru lahir dengan kekejaman dunia? Atau memutuskan untuk tidak perlu melahirkan kehidupan baru dalam kehidupan lama yang sudah terlanjur menyedihkan untuk dijalani.
Sebagai perempuan, memiliki hak untuk tak melahirkan kehidupan-kehidupan baru di dunia ini. Dan mereka berhak untuk tidak melahirkan siapa pun di dunia ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Документальная прозаapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
