Dalam negara yang didominasi oleh masyarakat yang anti politik dan hidup untuk diri sendiri. Dikuasai oleh pejabat publik dan pemerintah telah rusak dan tak lagi mau mendengar apa pun. Adakalanya, demonstrasi dan pemberontakan massal harus diwarnai oleh segala macam jenis kerusuhan atau bahkan penjarahan walau seringkali dipandang negatif oleh mereka yang hanya sekadar menonton dari jauh dan masih membutuhkan kondisi normal agar hidup tetap berjalan.
Tak banyak negara yang bisa melakukan demontrasi yang baik dan rapi dengan pejabat publik yang sadar diri dan akan segera mengundurkan diri jika diprotes dan ditunggu mundur oleh warganya sendiri.
Indonesia, membutuhkan gedung-gedung yang dirusak. Toko-toko yang dijarah. Fasilitas umum yang dibakar dan tak lagi bisa berfungsi. Ekonomi yang berhenti total dan semua orang tak bisa bekerja dalam waktu yang sangat lama. Masyarakat harus mengalami dan merasakan kondisi yang hampir mirip secara serentak agar mereka yang awalnya masih merasa aman dengan pekerjaan dan usaha tetap yang tak terpengaruh, pada akhirnya juga sadar dan terpaksa ikut turun ke jalan jika ingin semuanya berubah. Kalau tidak, banyak orang akan kembali bekerja seperti biasanya. Sistem buruk dan orang-orang buruk akan kembali menjalankan jabatannya seperti biasanya.
Merusak fasilitas umum dan membuat jalanan tak lagi berfungsi sangat diperlukan untuk melakukan penyadaran paksa walau banyak orang tak menyukainya. Meruntuhkan ekonomi sebuah kota diperlukan agar semuanya tak berfungsi dan negara jatuh dalam krisis. Itu juga memiliki fungsi untuk menekan para politisi dan militer agar mudah terekspos dalam skala internasional.
Semakin rusak, tak berfungsi, dan gagal sebuah kota dalam demontrasi, protes dan pemberontak massal. Semakin banyak berita yang akan ditulis baik di dalam dan di luar negeri. Bobrok negara akan mudah dilihat orang negara dan masyarakat asing. Sekali lagi, hal-hal ini tak disukai oleh banyak orang yang tak suka perubahan radikal dan lebih mementingkan pekerjaan dan sumber ekonomi mereka masing-masing.
Masalah terberat dari perubahan yang dratis dan besar adalah banyak orang tak siap untuk terlibat. Mereka yang hidupnya sudah enak tak siap dengan kejatuhan atau kebangkrutan yang mendadak dari sistem dan kondisi yang berubah. Orang-orang takut kehilangan pekerjaan. Takut menjadi miskin. Takut harta benda mereka hilang. Takut dengan apa yang biasanya normal dan masih bisa ditanggung, tak lagi mudah untuk dilakukan dan dijalani lagi.
Perubahan sosial dan politik secara besar-besaran sangat susah terjadi karena tak semua orang akan mengalami keuntungan, memiliki kondisi yang lebih baik dan bahkan bisa cenderung dirugikan. Inilah alasan kenapa dalam masyarakat yang tak sejalan dan banyak yang hidupnya enak dan tak ingin segalanya berubah.
Protes skala besar yang biasa saja akan cenderung padam dan tak membuat banyak perubahan yang berarti.
Orang-orang masih punya uang untuk bertahan hidup. Mereka masih memiliki pekerjaan untuk bisa abai terhadap dunia. Mereka memiliki keluarga makmur yang menyokong kondisi menganggur yang lama. Banyak dari mereka masih sibuk pamer menikmati hidup dan kekayaan di berbagai media sosial karena nyaris tak kena dampaknya sama sekali.
Tapi bayangkan jika seluruh kota atau negara gagal berfungsi secara menyeluruh? Saat semua orang tak lagi bisa bekerja dan toko-toko tutup sehingga mencari makan dan mendapatkan bahan makanan begitu susah.
Selama orang masih bisa bekerja dan makan. Tak banyak yang akan berubah. Orang kaya pun akan panik dan ketakutan jika mereka tak bisa makan dengan benar dan kekurangan air minum dan aliran listrik. Saat mereka tak lagi bisa mengamankan rumah mereka sendiri dari para kriminal dan penjarah yang masuk. Mereka akan terpaksa untuk meninggalkan negara atau ikut turun ke jalan menuntut perbaikan.
Ruang publik yang terbakar dan rusak di sana sini, terkadang memang diperlukan dan menjadi kebutuhan bagi perubahan yang radikal, brutal, dan keras. Di jalanan yang mencekam dan tak lagi aman untuk dilalui. Pemerintahan menjadi tak berfungsi dan pejabat publik memilih mencari aman, takut berkeliaran dan terlihat oleh rakyat yang marah.
Agar bisa mendapat suatu keadaan yang menyentak dan perubahan yang berarti. Ada beberapa orang yang memang harus dikorbankan dan dipaksa ikut serta walau mereka tak menyukainya. Ibu kota yang dipaksa berhenti berjalan. Ekonomi dan lembaga-lembaga publik yang tak berfungsi.
Untuk menyadarkan masyarakat dan pejabat yang anti empati dan tak mau ikut berubah. Kerusuhan massal dan kelaparan terkadang memang sangatlah diperlukan.
Saat orang-orang kaya yang abai dan karyawan yang masih tetap bekerja dan memilih tak mau terlibat dalam melakukan perubahan bersama-sama dipaksa oleh mayoritas dengan memblokir seluruh jalan yang ada di kota dan akses untuk menikmati dan mengisolasi diri sendiri dengan masih bisa makan sepuas hati dan bersenang-senang menjadi hilang. Mereka juga akan menderita pada akhirnya.
Bisa jadi, mereka akan ikut menuntut perubahan atau malah berbalik arah dengan memusuhi mereka yang melakukan protes dan pemberontakan. Dalam kondisi semacam itu, perang saudara mungkin akan terjadi. Kita akan saling bermusuhan dan membunuh.
Terlebih, di sebuah negara yang banyak rakyatnya bisa disuap dengan dibeli dengan mudahnya. Memusuhi saudara sebangsa itu sangatlah mudah.
Yang jelas, membakar ruang publik dan menjadikannya tak lagi berfungsi sekarang ini akan menjadi kebutuhan utama dari keadaan sebagian besar masyarakat yang tak mau berubah dan tak tertarik untuk ikut melakukannya.
Penyadaran secara paksa sangat diperlukan walau mereka sangat tak menyukainya.
Ruang terbuka harus terbakar. Kota harus tak berfungsi. Dan semua orang harus merasakan kondisi yang nyaris sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Kurgu Olmayanapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
