Bagi mereka yang tak memiliki anak dan tak tertarik dengan adanya anak. Masa depan adalah hari ini dan esok lusa. Itu berarti, seseorang bisa melakukan apa saja tanpa perlu merasa bersalah mengenai masa depan dan generasi yang akan datang.
Apakah gaya hidupku hari ini akan membuat derita generasi yang akan datang? Pikiran semacam ini, siapa yang peduli? Biarkan masa depan diurus mereka yang menginginkan anak dan hari ini telah melahirkan anak.
Bahkan, di depan mataku, mereka yang melahirkan anak di masa pandemi hari ini, adalah sekumpulan orang yang juga tidak peduli dengan masa depan anaknya sendiri. Mereka melahirkan anak di saat wabah dan pembatasan sosial terjadi. Menghadiahi anaknya dengan penyakit fisik sekaligus penyakit sosial yang akan berpengaruh pada psikologisme anak di masa depan nanti.
Generasi masa depan yang dilahirkan para orangtua tak bertanggung jawab ini, bukanlah tanggung jawabku. Biarkan mereka menjadi tanggung jawab orangtua mereka masing-masing. Apakah orangtua mereka mau bekerja keras untuk makmur, untuk memahami kejiwaan anaknya, dan juga berusaha memulihkan negara yang kacau ini. Atau mereka hanya sekedar ingin melahirkan dan lepas tangan sambil mengumpat?
Yah, itu urusan mereka. Bagi orang yang hari ini menganut filosofi hari ini dan yang mengejar kemakmuran masa bodoh untuk diri sendiri. Masa depan yang baik dan sehat, bukan menjadi urusanku.
Untuk apa memikirkan dan mengurus masa depan anak-anak yang tidak aku lahirkan?
Jika kelak, karena konsumsi berlebihan dan pengabaian terhadap pemerintahan yang baik akan menimbulkan kelaparan, pendidikan yang mahal dan kacau, korupsi yang menggila, wabah yang menyengsarakan, pengangguran dan kemiskinan yang naik, krisis ekologi dan lingkungan, atau bahkan perang saudara dan kediktatoran. Apa peduliku?
Biarkan semua itu akan menjadi derita bagi generasi masa depan, yang hari ini mereka baru saja dilahirkan atau masih sangat kecil untuk mengerti dunia. Mereka dipaksa lahir oleh orangtua mereka dan yang sangat luar biasa, orang tua mereka mewariskan lingkungan yang buruk, pemerintahan yang kacau, dan hutang negara yang menggunung. Dan lagi, orangtua mereka merasa tak bersalah atas itu semua dan merasa santai dan tak peduli.
Karena begitu banyaknya bayi yang lahir di masa pandemi dan anak-anak yang beranjak dewasa, yang lahir dari orangtua yang masa bodoh. Aku, yang tak tertarik dengan anak sama sekali. Juga tak terlalu tertarik dengan masa depan anak-anak yang tak aku lahirkan.
Dengan tak memiliki tanggung jawab mengenai masa depan generasi yang akan datang. Aku bisa membeli apa saja. Mengonsumsi apa saja. Tak perlu berpikir mengenai sungai yang keruh dan berisi sampah. Tak usah peduli mengenai hutan dan satwa liar yang hilang. Tak perlu berpikir mengenai kota yang nyaman. Tak perlu memikirkan korupsi pejabat negara. Tak perlu ikut serta dalam hal-hal yang memusingkan dan yang mana aku perlu terlibat di dalamnya.
Mengenai masa depan negara ini yang baik, biarkan para orangtua yang melahirkan anak yang memikirkan dan mengurusinya. Bahkan, jika presiden terus berhutang dan mencekik masa depan masyarakat kita. Itu urusan generasi yang akan datang. Biarkan mereka yang membayar hutang itu. Pada dasarnya, generasi masa depan memang dilahirkan untuk membayar hutang negara. Dan bagaimana jika kelak, sebagian dari generasi yang mulai dewasa itu sangat tidak beruntung dan menjadi miskin? Lalu mengeluh mengenai masyarakat, lingkungan dan pemerintahan yang buruk.
Itu bukan urusanku. Itu urusan orangtua mereka kenapa anak-anak mereka menjadi miskin, menderita, tak punya pekerjaan, dan saat ada masalah politik, kesehatan, dan guncangan ekonomi nasional. Mereka menjadi yang pertama tersingkir dan menderita.
Itu urusan orangtua mereka yang membuat masa depan anak-anaknya menjadi serba terbatas dan menderita. Biarkan saja. Biarkan saja generasi masa depan itu menikmati penderitaan yang diwariskan. Lagian, aku tak punya kepentingan soal mereka.
Hal yang bisa aku lakukan hari ini adalah hidup dengan aman, makmur, bersenang-senang, dan sebisa mungkin tidak gila dan bosan. Mengenai generasi masa depan, itu urusan para orangtua dan mereka yang begitu gila dengan kelahiran. Mereka sudah berani melahirkan. Maka mereka harus juga berani bertanggung jawab.
Jika kelak, masa depan generasi yang akan datang, sebagian besar menjadi sangat buruk dan penuh dengan derita. Biarkan saja. Biarkan mereka menikmatinya.
Karena memang, mereka dilahirkan sejak awal untuk mewarisi penderitaan yang diciptakan bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
No Ficciónapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
