AKU, MEMANDANG KESENIAN

97 5 1
                                        

Seni tak lebih dari sekedar alat untuk melanjutkan hidup. Dan kesenian adalah rumah besar bersama untuk orang-orang sakit yang mencoba bertahan hidup dengan cara mereka sendiri. Karena seni kematian dan bunuh diri tak populer di dunia ini. Maka para seniman berlomba-lomba melahirkan karya untuk memperpanjang usia mereka.

Seni mereka adalah perpanjangan dari diri mereka. Karena tak berani mati. Maka mereka harus tetap hidup. Itu berarti, mereka harus terus berkarya sampai menua dan mati. Atau menyerah dengan kesenian mereka dan beralih profesi ke bidang lainnya agar masih bisa makan dan sedikit bertahan.

Dengan terus berkarya, mereka bisa mengosongkan penyakit-penyakit emosional yang mereka alami. Mereka bisa mendapatkan uang untuk membeli segala kebutuhan bertahan hidup ke depan. Mereka bisa mendapatkan kepopuleran untuk mengurangi perasaan mereka yang rapuh dan sesekali, mengalami kesenangan untuk melupakan betapa brengseknya kehidupan ini.

Karya seni mereka dan proses mereka menciptakan karya seni adalah kenikmatan untuk melupakan kenyataan hidup. Mereka terserap karya seni mereka sendiri. Mereka masuk ke dalam proses kesenian mereka sendiri. Sehingga terkadang mereka bisa melupakan dunia nyata.

Kekayaan. Kepopuleran. Proses mencipta dan kelahiran karya baru. Hanyalah obat sementara untuk menekan ketidakberartian. Kehampaan. Atau tekanan hidup yang sebenarnya sejak awal sudah tak menyenangkan.

Jika sang seniman tak segera mendapatkan semua itu. Hidup menjadi begitu berat dan sangat menyakitkan. Beberapa di antara mereka akan mulai mempertanyakan diri sendiri dengan cara serius dan lebih ekstrem. Beberapa di antaranya bahkan menjauh dari dunia kesenian agar sedikit selamat dari orang-orang terdekatnya yang jauh lebih berhasil. Dan bagi mereka yang berhasil menjadi seniman yang terkenal. Mereka akan menyatu dengan para seniman tua yang akhirnya bersama-sama dalam membangun benteng pertahanan hidup mereka sendiri.

Mereka tak akan lagi banyak peduli dengan kebenaran, dengan logika ketat intelektual, tak mau banyak tahu mengenai baik dan buruk, dan segala karya seni yang ia buat, adalah kepura-puraan yang disepakati bersama di antara kalangan mereka sendiri.

Saat seorang seniman secara sadar menaruh dirinya sendiri dalam kerangkeng bernama galeri seni dengan segala aturan-aturannya. Mereka sendiri telah mempersembahkan dirinya untuk diatur dan diperbudak.

Karena galeri seni, tak lain bukan, adalah kerangkeng domestifikasi para seniman-seniman liar dan yang terlalu sibuk dengan ego mereka sendiri. Saat para seniman memasuki galeri dan sistem besar kesenian nasional atau internasional. Maka, sebagian besar hidupnya adalah aturan. Mematuhi aturan. Dan membatasi diri sendiri.

Keseharian mereka berisi kebohongan dan penipuan. Karya-karya mereka berteriak histeris karena menampilkan kenyataan yang berbeda, dari keseharian sang seniman yang sudah diatur dan dipenjara sedemikian rupa.

Agar menjadi terkenal, karya-karyanya laku, dan terus bertahan di dunia kesenian yang cita rasanya berubah-ubah. Maka, para seniman harus bisa menahan diri dan tidak melampaui batas. Takdir mereka seolah diatur sedemikian rupa. Kebebasan berekspresi dan pikiran mereka dikekang oleh diri sendiri dan siapa pun yang berkaitan dengan kebesaran mereka. Dan yang paling menyedihkan, sebagian dari mereka telah menjadi kolot bahkan saat masih terlalu muda. Mereka menjadi bagian para seniman tua dengan begitu cepatnya. Nyaman di sana. Meneruskan hidup. Lalu menjalani hidup layaknya kebanyakan orang. Karya seni mereka berubah sebagai alat tukar untuk memperpanjang kehidupannya.

Hal yang paling mudah diliat dari dunia kesenian adalah kenyataan bahwa di antara mereka sendiri, kritik terhadap diri sendiri dan sesama teman, nyaris tidak berlaku. Hal itu telah menjadi benteng bersama agar mereka masih bisa bertahan dan hidup. Mereka saling tahu, untuk bisa bertahan, kesepakatan bersama dalam kebohongan dan kepura-puraan harus dibuat. Orang yang berani melampaui batas itu, harus diasingkan atau disingkirkan.

Itulah sebabnya, menandai seorang seniman hari ini begitu sangat mudahnya. Siapa pun yang diambil dan dikontrak oleh sebuah galeri dalam jangka waktu tertentu atau lama. Maka ia seketika telah menjadi alat tukar bagi sang galeri itu sendiri. Dikerangkeng. Diatur. Dibatasi. Dan diarahkan. Dan beberapa dari seniman itu, akhirnya menjadi budak yang nyaris sempurna. Sebagian yang lain memberontak. Keluar. Dan mencari jati diri sendiri yang lebih bebas.

Hanya saja, banyak mereka yang memilih hidup di luar galeri kesenian, sedikit yang bisa dikenal dan banyak dari mereka terlupakan.

Dalam iklim kekejaman bersama itu. Yang kadang mengerikan dan nyaris tak berperasaan. Karya-karya seni akhirnya ada dan akan terus ada untuk sekedar memuaskan hasrat dari para konsumen kesenian. Karya-karya seni dibuat hanya untuk dijual dan dinikmati. Permintaan datang dari mereka yang mengagumi keindahan dan kejeniusan yang lahir dari proses yang penuh dengan perbudakan.

Para konsumen kesenian, membeli dan menikmati karya seni yang lahir dari para seniman yang diperbudak oleh lingkungan dunia kesenian. Memajang sebuah karya seni yang sudah dihabisi dalam beberapa makna dan bagian vitalnya. Yang tersisa dari karya seni yang dipajang adalah ampas dari tangisan sang seniman yang menukar bagian terdalam dari dirinya dengan kekayaan dan keberlangsungan hidup yang terjamin.

Perlahan dan pasti, kebanyakan seniman menukar diri mereka dengan hidup yang lebih lama. Mereka melahirkan karya-karya seni agar bisa terus bertahan hidup dan sebisa mungkin menikmati dunia.

Mereka menciptakan iklim kesenian bersama yang menopang dirinya sendiri untuk bisa stabil dalam menjalani hidup. Dan akhirnya, menjaring anak-anak muda untuk ikut dalam rencana hidupnya yang sudah ditentukan itu.

Kesenian, telah menjadi sekedar alat tukar untuk melanjutkan hidup. Tak lebih. Itulah sebabnya, para seniman memiliki kebohongan jauh lebih banyak dari pada orang lainnya saat mereka sudah terlanjur dijinakkan. Saat mereka sudah bersepakat dengan hidup, yang tersisa dari mereka adalah karya seni indah dan memesona yang penuh dengan kepura-puraan.

Untuk bisa melihat seniman-seniman yang berkarya dari kedalaman kejiwaan mereka sendiri. Pikiran mereka yang tak banyak disensor. Dan kedirian mereka yang sesukanya dan tak banyak diatur. Menemukam seniman semacam itu sekarang ini sangat begitu langka. Di usia muda dan saat mereka masih naif, mungkin kita masih bisa melihat karya-karya mereka yang tak beraturan dan meledak-ledak sesuka hati. Semakin dikenal dan diburu oleh konsumen seni. Mereka mulai berhati-hati dan seketika, menyensor diri sendiri dengan jauh lebih handal dan sadar diri.

Seni itu sendiri, dalam usia purbanya adalah ekspresi diri dari kehidupan. Lebih banyak kehidupan dari pada kematian-kematian. Itulah sebabnya, hingga saat ini, karya seni dan para seniman, tak lain bukan adalah perpanjangan dari kehidupan itu sendiri. Wahana bagi kehidupan untuk memperpanjang dirinya sendiri secara terus menerus.

Karya seni layaknya obat peredam depresi. Kadang malah lebih mirip narkoba. Membuat seorang bertahan hidup dan menikmati keindahan yang lahir dari segala macam tekanan. 

Dan tentunya, untuk bisa bertahan dari dunia kesenian seperti sekarang ini. Seorang seniman harus menjauh dari kebanyakan orang dan lebih banyak berteman di kalangan mereka sendiri. Atau berteman dengan orang yang tak akan pernah mengkritik dan merendahkan karya yang mereka buat secara terang-terangan.

Berbeda dengan filsuf yang hidupnya lebih bebas dan suka-suka. Seenaknya sendiri. Tak terlalu terikat oleh banyak hal. Para seniman, jika ingin hidup aman, makmur dan benar-benar dikenal luas. Harus mengikuti aturan dunia mereka. Aturan bersama yang memenjarakan mereka dalam kotak-kotak yang sudah ditetapkan. Dan banyak dari para seniman itu, akan terus di dalam kotak itu sampai mati. Terjinakkan dengan sangat sempurna.

AKU, NIHILISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang