Tuhan ada di mana-mana. Membuatku muak dan merasa jengkel. Nyaris tidak bisa disinggung. Tidak bisa dibicarakan dengan nada mengejek. Bahkan tidak bisa dijadikan bahan gurauan. Keberadaannya begitu suci untuk sekedar dijadikan humor. Membuat banyak orang merasa tersakiti dan marah. Begitu gilanya mereka merasa bahwa Tuhan mereka penting, sedangkan mereka sendiri setiap hari mengutukinya. Mengabaikan semua hukum dan tindakannya. Bahkan nyaris tidak peduli keberadannya.
Mengapa, hanya disentil sedikit saja, banyak dari mereka marah? Orang-orang gila nan tolol itu? Para keparat yang memuja Tuhan dalam kemunafikan yang begitu eksrem?
Setiap hari aku melihat berita soal para pemuja Tuhan yang melakukan tindak kekerasan, mencabuli para anak gadis, melakukan tindak koruptor secara besar-besaran, membunuh karena hal sepele, dan beberapa di antara sangat suka berperang dan haus dengan kekuasaan. Sedangkan yang paling banyak di antara mereka, hidup dengan cara nyaris tak bertuhan sama sekali. Tapi menganggap diri orang yang paling mencintai Tuhan dan menganggap Tuhan sangat berharga.
Aku sangat iritasi dengan orang-orang munafik semacam itu. Jika jumlahnya satu atau dua, itu tak masalah. Tapi jumlahnya begitu banyak. Dari keluarga sendiri. Pasangan. Teman. Orang sekitar. Sampai yang entah ada di mana. Mereka semua sangat marah jika Tuhan mereka dijadikan candaan. Dianggap remeh. Padahal keseharian hidupnya layaknya orang-orang brengsek.
Saat di Bali, dunia terasa begitu sepi dengan pembicaraan akan Tuhan. Menjadi lebih santai. Tuhan hanyalah kata sepele yang bisa dibicarakan sangat mudah dengan cara apa pun. Di sini, Tuhan seperti semacam berhala yang pemujanya mirip para idiot yang tak tahu diri.
Di antara mereka banyak orang-orang baik dalam hubungan sosial terbatas. Tapi bukan orang yang taat beragama. Bahkan bisa dibilang, lebih ke para pendosa besar yang tak akan bisa diampuni. Hanya saja, mereka masih tak terima saat Tuhan mereka dibicarakan dengan cara yang tak mereka sukai.
Aku sendiri sudah lama tak peduli soal Tuhan. Biarkan mereka mengurus diri sendiri. Asalkan tidak menggangguku. Itu urusan mereka. Karena bagiku sendiri, Tuhan hanyalah keberadaan tak penting. Semacam orang gila yang begitu kejam dan keparat. Yang melahirkan begitu banyaknya kehidupan dan lepas terhadap tanggung jawab. Maniak keji yang begitu mengerikan. Yang tahan umpatan, hinaan, dan kebal terhadap sumpah serapah karena keberadaanya yang begitu berkuasa.
Aku malah lebih menyukai Tuhan yang bunuh diri. Tapi apa ia mau? Itu sangat tak mungkin.
Karena Tuhan adalah keberadaan yang kebal terhadap manusia. Walau kadang ia begitu reaktif dan melakukan hal yang suka-suka sendiri. Karena Tuhan tidak bisa dibunuh, disiksa, dibom, dimusnkan, atau dipaksa untuk mengakhiri diri sendiri. Maka aku lepas tangan terhadap Tuhan. Aku sudah tak ingin membicarakannya lagi. Karena percuma. Percuma membicarakan keberadaan yang jauh, yang tak tiba terkena dampak langsung dari tindakan manusia.
Aku pun diam. Bungkam. Tak lagi ingin bergelut dengan hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan. Jika banyak orang yang bertuhan hidup baik dan bertetangga baik. Anggap saja itu sekedar hubungan sosial yang baik. Tak perlu mencoba menghina mereka. Merendahkan mereka. Dan sebisa mungkin tak perlu berdebat dengan mereka.
Hanya saja, hidup di Indonesia sangat susah untuk diam sepenuhnya soal Tuhan. Nyaris tak mungkin. Karena ada orang yang mudah marah di mana-mana. Yang saat aku tak sengaja berbicara, walau hanya dengan maksud baik dan bercanda. Orang lain bisa sangat marah.
Bertahun-tahun mencoba diam penuh terhadap hal-hal berkaitan dengan Tuhan dan menghargai orang-orang bertuhan, asalkan mereka baik-baik saja di tempat mereka masing-masing. Hanya sekali salah bicara, yang tak disengaja. Salah satu dari mereka menjadi berang. Tersakiti.
Dan itu menjengkelkan.
Yang membuatku muak selama ini bukan Tuhan itu sendiri. Keberadaannya sudah tak penting bagiku. Ada atau tidaknya Tuhan, aku sudah tak peduli. Tapi lebih kemasyarakat yang mengakui keberadannya. Yang seringkali begitu mengerikan dan bahkan gila.
Begitu banyak orang buruk dalam beragama dan nyaris membunuh keberadaan Tuhan secara nyata dalam keseharian mereka. Mereka masih ingin surga? Ingin diterima olehnya? Ingin diampuni dosanya? Dan masih menyisakan ruang bahwa kelak mereka bisa bertobat dan sebisa mungkin tak akan masuk neraka?
Keseharian mereka begitu menjijikkan dalam mata Tuhan. Tapi mereka masih mencoba menyisakan satu ruang khusus harapan akan ditebus dosanya dan perasaan bahwa mereka mencintai Tuhan mereka? Omong kosong semacam inilah yang paling membuatku muak.
Di keluargaku sendiri. Bahkan jika itu pasangan hidupku sendiri. Para munafik yang dalam hatinya terdalam masih berharap terhadap Tuhan dan tidak sadar terhadap tindakan mereka sehari-hari.
Salah satu dari jenis masyarakat yang paling memuakkan.
Tuhan adalah kata suci bagi mereka. Tak bisa disepelekan. Tak bisa dibuat becanda. Bahkan sangat begitu luar biasa suci sampai siapa pun yang mencoba meremehkannya, akan dibenci dan tak disukai. Ada kemarahan di antara mereka yang mencoba menyinggung Tuhan mereka. Sedangkan aku, ada kemarahan kepada mereka karena hidup dalam kemunafikan diri yang sangat ekstrem dan tolol.
Alasan terbesarnya terletak pada kemunafikan yang begitu ekstrem dan tak tahu malu. Jika yang marah adalah orang yang benar-benar manusia bijak yang setia terhadap Tuhannya. Yang selama hidup berada di jalannya dan mencintai manusia secara jauh lebih baik. Aku mungkin akan diam dan mengalah. Hanya saja, yang bicara adalah mereka yang tak kalah brengsek dan rusaknya seperti diriku. Sebagai nihilis, itu membuatku tersengat.
Yah, sangat susah hidup dengan tenang saat nyaris semua orang di sekitarmu adalah orang-orang yang tak sadar diri. Orang-orang bertuhan yang kesehariannya tak bertuhan. Mereka yang marah jika Tuhannya diejek tapi setiap hari melanggar setiap aturan miliknya.
Saat ini, lebih baik diam dan berusaha tak berkata apa pun di ruang publik. Tapi apa yang terjadi, jika pasanganmu sendiri, orang munafik yang sangat ekstrem itu? Yang terluka jika Tuhan yang nyaris tak dipedulikannya, sesekali dihina atau secara tak sengaja dijadikan bahan candaan?
Sebagai nihilis. Aku tak peduli. Aku tak peduli dengan orang munafik yang berpura-pura masih menganggap Tuhannya berharga walau kenyatannya, semua itu hanyalah omong kosong.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
