🚨 Wiu wiu wiu 🚨
Yang belum cukup umur, dimohon untuk angkat mata dari cerita kali ini xixixi
••
Bragh!
Tubuh seorang perempuan tersentak menghantam dinding di belakangnya ketika satu tangan mendorong keras tepat di ceruk lehernya—napasnya terengah, perpaduan antara hasrat yang meluap dan libido yang menanjak ke puncaknya.
Ia telah dibuat setengah telanjang, sementara sesuatu di bawah sana sudah berdenyut tak menentu—menanti tuk disentuh.
"Kim Ji... soo," suara itu terdengar letih, diluluhlantakkan oleh kuasa hasratnya sendiri.
"Kenapa? Kau yang lebih dulu menginginkannya, kan, Sayang?"
"Yakhh—shhhithh~"
Desahan itu semata meluncur dari bibir Jennie—ia bahkan tak sanggup merangkai sepatah kata pun, ketika bibir Jisoo menyesap dalam puncak dadanya yang telah mengeras di ambang kenikmatan. Bola mata hitamnya terangkat ke atas, lenyap dalam arus rasa yang meraupnya sepenuhnya—nikmat yang kini meluap, tak tertandingi oleh apa pun yang pernah ia kenal dari siapapun—selain sentuhan Jisoo.
Sementara bibirnya sibuk mencuri kendali—menyusuri bagian atas yang kenyal, lembut, hangat, dan memabukkan itu, tangan Jisoo bergerak secara instingtif—bergerak lancang, menyusup ke balik rok pendek Jennie—meraba pelan, mencari sesuatu yang telah menanti sapaan jemari rampingnya.
"Ahghh..." Leher Jennie terlengkung anggun, beriringan dengan desah serak yang lolos tipis dari bibirnya.
Sumber keresahan itu disebabkan oleh dua jemari Jisoo yang mendarat tepat sasaran—menyentuh lipatan luar milik Jennie yang berambut halus, sebelum perlahan melaju ke dalam—sedikit menyingkap hingga ibu jarinya menemukan pusat denyut yang paling peka, klitoris.
"Basah..."
"Because of you. Finish it—slowly, ughhhh~"
Jisoo menyunggingkan senyum miring, menangkap raut Jennie yang nyaris luruh—setengah pasrah, setengah resah—saat hasrat menggerogoti batas dirinya, menggiringnya ke tepi kenikmatan yang tak lagi bisa dielakkan.
"Don't stop before it means something?" Jisoo mengangkat wajahnya perlahan, menautkan pandang dengan sorot mata yang meredup di tepi hasrat—terhanyut oleh erangan samar dan ekspresi Jennie yang menggoda, cukup untuk menyeret nalurinya ke pusaran yang hangat sekaligus menggelisahkan seluruh dirinya.
Jennie menggigit bibir bawahnya, menahan desakan yang kian tak tertampung—keinginan untuk segera disentuh berkelindan dengan sensasi yang membuatnya limbung. Napasnya terengah, pandangannya kerap kehilangan fokus.
Dengan suara setengah tersadar yang teranyam di sela-sela desahnya, ia pun berujar, "Yeahshh—uhh... You started this. Don't let it fade—biarkan aku merasakan akhirnya malam ini. ahhh~"
Jisoo hanya tersenyum simpul, puas menangkap setiap desahan lirih yang lolos dari bibir Jennie. Ibu jarinya lalu bergerak pelan, mengusap dengan sabar pada kulit yang telah hangat dan basah, ritmenya sengaja ditahan—perlahan, lalu sedikit menekan, seakan ingin menguji batas kendali.
"—oh, FUCK," umpatan itu terlepas tanpa sadar. Jemari Jennie spontan menyusup ke rambut Jisoo, menjambaknya tidak keras, namun cukup kuat—sebuah belaian kasar yang lahir dari tubuh yang kian dilanda panas dan kehilangan ritme.
"Manis?" bisik Jisoo usai mengecap singkat puncak dada Jennie yang bersemu merah muda itu. "Uhhh, kau pandai sekali menjaga apa yang seharusnya kau jaga, Jennie." Ia kembali menurunkan kecupan-kecupan kecil, seiring ibu jarinya yang tak jemu menelusur dan membelai lembut si mungil di bawah sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
