Happy reading yeorobunn~~
•
•
Hujan turun sejak petang dan belum juga mereda ketika Jisoo akhirnya berhenti bekerja. Jam di sudut layar laptop menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh, tetapi dokumen yang terbuka di hadapannya masih menyisakan halaman yang sama sejak hampir satu jam lalu. Ia sudah membaca paragraf itu berkali-kali tanpa benar-benar memahami isinya. Sesekali jemarinya bergerak di atas papan ketik, lalu berhenti lagi ketika pikirannya terlanjur berkelana ke tempat lain.
*drrrtt*
Ponsel di sebelah laptop bergetar.
Nama Jennie muncul di layar.
Jisoo memandanginya beberapa saat sebelum meraih ponsel itu dan menggeser tombol jawab. "Halo."
"Baru diangkat," suara Jennie langsung terdengar dari seberang, disusul tawa kecil yang samar. "Aku sudah sempat berpikir kau mungkin sudah tidur."
"Aku masih bekerja," jawab Jisoo sambil bersandar ke sofa, matanya jatuh pada kertas-kertas dokumen di atas meja. "Tadi sedang memeriksa beberapa hal."
"Memeriksa atau melamun?"
Jisoo tersenyum tipis. "Kau menelepon hanya untuk menuduhku?"
"Bukan menuduh. Aku sudah terlalu mengenalmu."
"Sejak kapan mengenalku berarti boleh seenaknya menebak?"
"Sejak kau menjadi kekasihku," jawab Jennie enteng. "Dan selama ini tebakanku hampir selalu benar."
"Hampir?"
"Baiklah, selalu."
Jisoo terkekeh pelan, kemudian mengusap wajahnya dengan satu tangan. Percakapan sederhana semacam itu seharusnya terasa biasa, tetapi entah mengapa malam itu ia justru merasakan semacam kekosongan yang sukar diterangkan. Ia menatap hujan di balik kaca jendela sambil mendengarkan suara Jennie yang terus bercerita mengenai hari yang baru dilewatinya.
"Aku tadi bertemu teman lama di kantor," kata Jennie setelah beberapa saat. "Dia sampai tidak mengenaliku karena katanya aku sekarang terlihat jauh lebih pendiam."
"Dia salah."
"Kenapa?"
"Kau tidak pernah pendiam jika sedang bersamaku."
Jennie tertawa. "Itu pujian atau keluhan?"
"Mungkin sedikit keluhan."
"Jahat."
Jisoo kembali tersenyum. "Kau yang bertanya."
"Ji..." Tiba-tiba suara Jennie merendah.
"Hm?"
"Aku merindukanmu."
Senyum itu perlahan menghilang.
Jisoo menundukkan pandangan. Jemarinya tanpa sadar memainkan ujung kabel pengisi daya yang tergeletak di meja.
"Aku juga," jawabnya kemudian.
"Benarkah?"
"Tentu."
"Kenapa jawabnya lama?"
Jisoo terdiam sesaat sebelum menyandarkan kepalanya pada sofa dengan lebih nyaman. "Hmmm... Aku sedang mencari cara supaya tidak terdengar seperti orang yang sudah mengantuk."
"Kau pasti memang mengantuk, ya?"
"Sedikit."
"Kalau begitu tidur saja. Aku menelepon bukan untuk membuatmu terjaga."
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
