Cinta pertama. Biasanya tidak akan berhasil meski sulit untuk dilupakan. Dulu aku akan menganggap kalimat itu sebagai kepercayaan yang mengada-ada. Karena aku tidak ingin percaya. Aku terlanjur menjadikannya cinta pertamaku. Tentu saja aku tidak menginginkan akhir yang menyedihkan.
Tapi kini, aku percaya setelah mengalaminya sendiri. Cinta pertama.. Tidak akan berakhir bahagia. Memang awalnya sulit untu melupakannya, namun setelah aku menemukan seseorang yang aku cintai lebih dari diriku sendiri, aku mulai bisa menjalani hidup dengan normal. Bagiku, orang itu adalah segalanya. Pria paling tampan sedunia.
"Ahjumma!" Seorang namja yang berada di meja paling sudut berteriak. "Tambah soju lagi!"
"Ne!" Aku bergegas mengambilkan pesanannya.
Hari ini, warung kaki lima tempatku bekerja saat ini begitu ramai. Aku kesulitan menanganinya seorang diri. Awal bulan. Aku rasa itu alasannya. Para karyawan sibuk menghabiskan uang mereka dengan minum-minum dengan beberapa teman kerja mereka. Kalau begini, aku tidak bisa menepati janjiku pada putraku satu-satunya. Aku berjanji akan membelikannya kue ulang tahun. Ya, hari ini ulang tahunnya.
Aku melihat arlojiku. Pukul sembilan malam dan pengunjung tempat ini terus berdatangan seolah tak ada habisnya. Aku menyuruh putraku menunggu di bangku panjang di belakang warung selama aku bekerja. Dia pasti lelah menunggu. Kasihan sekali anak itu.
"Ahjumma!" Kini suara seorang wanita. "Aku mau pesan."
Aku separuh berlari menghampiri sumber suara. Karena terburu-buru, aku tersandung lantai yang tidak rata dan nyaris menumpahkan nampan berisi mangkuk sup yang sedang kubawa. Untung saja seseorang membantuku. Ia menangkap nampan itu sebelum sempat terbalik.
"Hati-hati." Ujarnya. Suaranya terdengar sangat familiar.
"Coesunghamnida..." Aku menengadah dan terhenti saat melihat wajah orang yang menolongku barusan. Orang itu.. Akhirnya dia menemukanku.
"Lama tidak berjumpa, Fany-ah.." Ia menatapku tanpa berkedip seolah tak percaya aku sedang berdiri di hadapannya. Persis seperti apa yang aku lakukan. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku.."
"Ahjumma!" Suara pelanggan wanita tadi kembali terdengar dan sepertinya ia tidak sabaran.
"Ne!" Aku memutuskan untuk meladeni wanita itu terlebih dahulu. Namun saat aku selesai dengan si pelanggan tidak sabaran, orang itu sudah tidak ada lagi.
Aku menatap tempat kosong dimana ia berdiri tadi dengan perasaan kecewa. Mengapa dia pergi begitu cepat? Aku pikir ia senang bertemu lagi denganku. Tapi tidak. Dia bahkan tidak mau menunggu sebentar saja. Sepuluh tahun berlalu. Waktu yang begitu lama untuk menyimpan seseorang di dalam hatinya. Pada akhirnya, ia juga akan melupakanku. Bahkan caranya memanggilku terasa berbeda.
"Kim Tae Yeon." Gumamku pelan sambil berdiri mematung. "Ne, lama tidak berjumpa."
Seoul, Musim gugur 2004.
"Hei, aku dengar kau datang dari Los Angeles." Seorang anak perempuan duduk di bangku sebelahku. Saat itu jam istirahat pertama. Songsaenim baru saja keluar dari kelas dan aku sedang membereskan buku-bukuku.
Aku melihat namanya dari name tag yang ia kenakan. Jung Jessica. Ia memang sekelas denganku tapi belum pernah sekalipun kami bicara. Tempat duduknya sedikit jauh dariku sehingga kami tidak pernah berinteraksi.
"Ne." Aku mengangguk. Dari namanya, aku menebak ia pasti juga berasal dari luar negeri.
"Kau bisa memanggilku Jessi." Ia mengulurkan tangannya padaku.
