Seoul, musim semi 2006.
Aku datang pagi-pagi sekali berharap Tae Yeon sudah datang. Dia memang ada disana. Namun ia duduk di tempat Jessica, di sebelah Yu Ri. Aku menghubunginya semalaman tapi ia masih saja mematikan ponselnya. Karena merasa khawatir, aku menelepon Ji Woong. Ji Woong mengatakan ia sudah ada di rumah. Mengetahui Tae Yeon baik-baik saja, aku bisa sedikit tenang.
Setelah meletakkan tasku, aku pergi menghampiri Tae Yeon. Masih ada cukup waktu tersisa sebelum kelas di mulai. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya. Aku harus minta maaf padanya.
"Tae.." Aku bahkan belum sempat mengatakan apapun saat ia berdiri dari tempat duduk. Aku baru saja melangkah mendekatinya. Menyadari aku akan menghampirinya, ia langsung pergi.
Aku akan mengejarnya namun Yu Ri menahanku. "Biarkan dia!"
"Aku harus bicara dengannya Yu Ri-ah." Aku mencoba melepaskan tanganku, namun Yu Ri terus menahannya.
"Bukankah kau yang ingin dia pergi?" Yu Ri menatapku dingin. "Bukankah kau yang ingin ia tidak muncul lagi di hadapanmu?"
Jadi ia sudah menceritakannya pada Yu Ri. Gerakannya cukup cepat kalau begitu. Ia bahkan tidak menjawab panggilanku, tapi ia memiliki waktu untuk menceritakannya pada Yu Ri.
Ah.. Aku harus berhenti berpikir seperti ini. Kemarin aku telah melakukan kesalahan padanya. Ya, aku yang bersalah. Tidak seharusnya aku mencari-cari alasan untuk balik menyalahkannya. Ia tidak akan pergi jika aku tidak memintanya begitu.
"Lagi pula.. Aku tidak yakin ia mau bicara denganmu." Lanjutnya. "Kau lihat sendiri. Dia pergi begitu kau datang."
Mungkinkah Tae Yeon benar-benar telah lelah terhadapku. Melihat sikapku kemarin, mungkin ia berpikir 'Hmm.. Ini bukanlah Mi Young yang aku sukai' atau 'Aku tidak menyukai gadis yang hanya bisa berpikiran picik tentangku'. Tae Yeon tidak lagi menyukaiku. Aku bahkan menyebut-nyebut ayahnya juga saat itu. Ia pasti sangat tersinggung.
"Menurutmu, apa dia tidak menyukaiku lagi?" Tanyaku pada Yu Ri.
Yu Ri mengangkat bahunya. "Mana aku tahu. Aku tidak bisa membaca isi hati orang lain."
"Tapi dia bicara padamu. Apa yang ia katakan padamu? Apa yang ia katakan tentangku?" Aku terus bicara tak sabaran.
"Aku justru berpikir kau yang tidak peduli lagi padanya." Yu Ri tersenyum mengejek.
Aku tidak mendapatkan apapun pagi itu. Tidak maaf dari Tae Yeon. Juga tidak ada informasi dari Yu Ri. Setelah bel masuk berbunyi, Tae Yeon baru kembali ke kelas. Ia duduk di sebelah Yu Ri. Aku terus menoleh kebelakang berharap ia akan melirikku. Meski itu hanya beberapa detik yang singkat. Tapi tidak. Tae Yeon hanya berjalan lurus tanpa melihat apapun di sekitarnya. Setelah dudukpun ia sengaja menghindari bertemu pandang denganku.
"Kalian masih bertengkar?" Jessica yang terpaksa harus duduk di sebelahku ikut menoleh ke belakang. Bel memang sudah berbunyi, namun sem belum masuk. "Sebenarnya apa masalahnya? Kalian harus segera menyelesaikan ini agar aku bisa segera kembali pada Yu Ri."
"I'm sorry, Jess." Aku memutar tubuhku kembali menghadap depan lalu tertunduk penuh rasa bersalah. "Karena aku, kau harus duduk disini."
"Aku tidak akan bilang bahwa itu tidak apa-apa." Jessica tidak berusaha menghiburku. Karena.. Yah, dia tidak tahu masalahnya. Jikapun ia tahu, kurasa ia juga tidak akan menghiburku. Ia mungkin akan menyalahkanku. Ini semua memang salahku.
Aku menghela nafas. "Aku melakukan kesalahan padanya. Aku mengatakan sesuatu yang keterlaluan padanya."
Jessica mendengarkan sambil memainkan kursinya. Sesekali ia menoleh kebelakang. Tempat dimana Yu Ri berada. Walaupun mereka tidak pacaran, selama ini mereka selalu bersama. Karenaku, ia harus merasakan imbasnya.
