(Replay 2004) First Fight

363 48 5
                                        

Seoul, musim semi 2005.

"Ya! Sunny-ah! Apa kau lihat itu tadi?" Aku duduk di atas meja Sunny. Selalu menyenangkan bergosip di setiap jeda antara mata pelajaran.

"Apa? Apa?" Hyo Yeon yang duduk di depan berbalik karena ingin tahu.

"Kim Sem! Setiap kali ia melakukan ini.." Aku menirukan gaya Sem saat beliau menyelipkan rambut panjangnya di balik telinga. "Di bawah telinganya, kalian juga lihat kan?"

Sunny menggeleng. "Aku hanya memperhatikan pelajaran. Aku tidak lihat yang lain."

"Aissh! Itu jelas sekali. Ehm.. Itu..." Aku memikirkan bagaimana orang Korea menyebutnya namun aku lupa. "Ada hickey yang sangat jelas. Dia pasti baru melakukannya sebelum masuk ke kelas kita. Tidakkah kalian penasaran dengan siapa itu?"

"Eonni! Tidak baik membicarakan guru seperti itu." Seo Hyun sudah ikut berbalik menghadapku.

"Mengapa kau terlihat begitu bersemangat?" Hyo Yeon menanggapiku dengan tertawa. "Karena kau bukan satu-satunya yang berkeliaran di sekolah dengan bekas cupang di lehermu?"

"Ya! Hyo Yeon-ah! Mengapa kau mengungkit itu lagi sekarang? Itu sudah lama sekali!" Aku tidak percaya Hyo Yeon mengungkit hal memalukan itu. Mengingatnya saja sudah membuatku ingin membenamkan diri ke dalam laci meja agar tidak ada yang melihat wajahku.

"Lama apanya? Itu baru beberapa hari." Sunny ikut-ikutan menertawakanku. "Ngomong-ngomong dimana si pendek itu? Biasanya dia menempel terus padamu."

"Dia ke toilet." Mendadak aku kehilangan semangat untuk bergosip.

"Mengapa kau tidak ikut? Kalian bisa berciuman disana. Daripada melakukannya di kelas." Ujar Hyo Yeon blak-blakan.

"Kau pikir aku tidak punya kerjaan selain berciuman dengannya huh?" Aku memukul kepala Hyo Yeon dengan penggaris yang aku dapatkan dari meja Sunny.

"Terlihat seperti itu." Sunny dan Hyo Yeon melakukan highfive.

"Ya! Kalian pikir aku tidak bosan?" Aku memajukan bibirku lalu menunduk sedikit untuk memamerkannya pada dua orang itu. "Lihat! Bibirku sampai jontor begini."

"Aku tidak dengar! Aku tidak dengar!" Seo Hyun menutup kedua telinganya dengan telapk tangan lalu memutar tubuhnya dan kembali menghadap depan. Ia memaksakan diri membaca buku sains yang tidak menarik agar tidak mendengar pembicaraan kami.

"Ahaha.. Jadi kau bosan? Kau ingin putus darinya?" Tanya Sunny dengan maksud menggodaku.

"Hmm.. Ide yang bagus. Mungkin sebaiknya aku ganti pacar saja." Aku mencolek punggung Seo Hyun. "Seo Hyun-ah! Kau mau pacaran denganku?"

"Kau terlalu banyak bergaul dengan Yu Ri Eonni." Jawab Seo Hyun tanpa berbalik.

"Benar! Benar!" Hyo Yeon mengacungkan telunjuknya kesenangan. "Kau terdengar persis seperti Yu Ri."

"Apa itu sebuah pujian?" Aku tahu mereka tidak sungguh-sungguh. Itu hanya lelucon.

"Omo! Bahkan Jessica mulai melirikmu!" Seru Hyo Yeon.

Aku melihat ke arah Jessica. Memang gadis itu sedang melihat ke arah kami. Bukan karena tertarik padaku melainkan lebih pada terganggu pada suara kami yang terlalu keras. Aku mengedipkan mataku padanya kemudian melayangkan sebuah flying kiss. Jessica merespon dengan sebuah tinju yang terangkat. Aku menelan ludah. Dan itu kembali berhasil membuat Sunny dan Hyo Yeon tertawa. Mereka sepertinya menikmati hal ini.

"Kalian begitu senang, eoh?" Aku melompat turun dari atas meja. Berencana kembali ke mejaku. Saat itu aku melihat Tae Yeon kembali dari toilet. Ia terlihat kesal padahal tadi baik-baik saja.

That WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang