(Replay 2004) Can We Go Back as Before?

451 58 8
                                        

Pada akhirnya aku ikut dengan Tae Yeon ke rumahnya. Aku tidak punya pilihan lain. Dia memaksa. Dan.. Bukankah ia mengatakan akan membatalkan pertunangannya dengan pria pendek itu? Ia bahkan masih menyimpan cincin kami. Tidak salah jika aku masih berharap. Terlebih ia yang lebih dulu mengatakan ingin memperbaiki kesalahannya di masa lalu.

"Masuklah! Tidak usah sungkan." Ujar Tae Yeon saat mempersilahkan kami masuk. Aku tahu kalimat barusan lebih ia tujukan pada Tae Yeon karena aku tidak merasa sungkan. Aku biasa datang kesini.

Tae Yeon masih tinggal di rumah lamanya. Tidak banyak berubah. Seperti Tae Yeon yang terlihat sama persis dengan sepuluh tahun yang lalu.

Aku dan Tae Young tidak membawa barang apapun selain tas tangan yang kutenteng. Aku meletakkan barang-barangku di loker stasiun karena akan merepotkan membawa barang sebanyak itu ke acara reuni terlebih aku saat itu tidak memiliki tempat tinggal. Aku juga tidak ingin merepotkan Tae Yeon dengan memintanya menjemput barang-barangku terlebih dahulu. Ia terlihat kelelahan. Aku tidak tega. Besok, aku akan menjemputnya sendiri.

"Tae Young bisa tidur di kamarmu yang lama sementara kau di kamarku." Tae Yeon membawa kami langsung naik ke lantai dua rumahnya. "Oppa sedang menjalani wajib militer. Jadi untuk sementara aku bisa menempati kamarnya."

Ahh. Ji Woong oppa tidak ada. Berarti aku tidak akan bertemu dengannya. Sudah lama sekali terakhir kali aku melihatnya.

Pertama kali, Tae Yeon mengantarkan Tae Young menuju kamar yang akan anak itu tempati. Tae Young yang malang harus menyipitkan matanya karena silau begitu Tae Yeon membuka pintu dan menyalakan lampu.

"Ah! My eyes!" Tae Young berpaling melihat warna yang begitu mencolok dan menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangan. Aku bisa mendengar umpatan pelannya. "Why must pink?"

"Kau tidak mengganti walpapernya?" Aku melihat sekeliling. Tempat ini sama persis seperti saat terakhir kali aku tinggalkan. Tae Yeon tidak merubah apapun. Tidak hanya walpaper. Bahkan semua yang ada disini tidak berubah.

"Aku tidak punya waktu menggantinya." Tae Yeon mengusap tengkuknya sambil tersenyum malu. Dia masih saja terlihat menggemaskan.

"Can I get another room?" Tae Young menatap Tae Yeon memohon.

"No!" Aku yang menolak dengan keras. Bukannya aku tidak suka kamar ini. Aku masih menyukainya. Hanya saja aku lebih menginginkan kamar Tae Yeon. Tempat dimana Tae Yeon tinggal selama sepuluh tahun terakhir. Tempat dimana hanya ada aroma Tae Yeon. Jangan salahkan aku. Tae Yeon yang membuatku begini. Dia yang menawarkan kamarnya padaku. "It's impolite. Terima apa yang diberikan padamu!"

"Ne!" Dengan wajah cemberut Tae Young akhirnya menerima. Bukankah dia anak yang baik? Meski tidak suka, ia tetap menurut.

"Aku akan mencarikan baju ganti untuk Tae Young. Aku rasa oppa memiliki beberapa pakaian anak-anak. Dia sering membelinya untuk disumbangkan ke yayasan. Dan untukmu.." Tae Yeon menatap pakaian yang aku kenakan. Ini adalah pakaian yang bagus. Sungguh! Hanya saja.. Ini sedikit tidak nyaman untuk tidur. Mungkin itu yang ada dipikiran Tae Yeon saat ini. "Kau tidak keberatan memakai pakaianku kan?"

Aku mengangguk cepat. Tentu saja aku tidak keberatan. Sudah lama aku tidak memakai pakaiannya. Berada dalam pakaian Tae Yeon rasanya seolah Tae Yeon memeluk seluruh tubuhku.

Omo! Apa yang aku pikirkan? Sadarlah Fany-ah!

"Kurasa aku tidak perlu menunjukkan kamarmu karena kau tahu tempatnya." Lanjut Tae Yeon. "Kau bisa memilih sendiri pakaian yang kau suka di dalam lemari."

"Eoh!" Aku sedikit kecewa karena Tae Yeon tidak mengantarku. Juga.. Mungkin cemburu. Ia mengambilkan pakaian untuk Tae Young sementara aku disuruh mengambil sendiri. Tae Yeon pilih kasih!

That WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang