Kami belum melakukan pembicaraan serius sejak hari itu. Ia tidak ingin membahasnya. Aku tidak ingin membahasnya. Semacam ada kesepakatan tanpa kata yang dibuat antara aku dan dirinya untuk tidak mengungkit masa lalu. Aku tidak tahu alasannya, tapi aku memiliki alasanku sendiri. Ada ketakutan dalam diriku. Bahwa aku mungkin akan sakit hati lagi. Bahwa aku tidak bisa menerima apa yang akan ia katakan nanti.
Ini mungkin tindakan pengecut. Tidak. Ini memang tindakan pengecut. Membawa lari istri orang lain secara diam-diam. Bisa saja Kris tidak tahu bahwa aku yang melakukannya, karena itu ia tidak pernah menerorku. Ia akan membenci Jessica seumur hidupnya sementara aku berlindung di balik punggung orang yang ia benci itu. Ia mungkin tidak membenciku karena aku adalah yeoja. Saat ia memergokiku di rumahnya dulu ia juga tidak terlihat curiga. Ku rasa itu bukan karena ia pandai berpura-pura. Tetapi karena aku adalah yeoja. Ia bahkan memintaku menjaga istrinya karena berpikir aku adalah teman dekat Jessica. Siapa sangka aku akan menikamnya dari belakang seperti ini. Aku merusak kepercayaannya.
Karena itu, meski aku tidak ingin membahasnya dengan Jessica, setidaknya aku harus memberitahu Kris. Semurka apapun pria itu nantinya, ia tak akan lebih mengerikan dari Jessica.
Aku mencoba mengatur pertemuan dengannya. Jadi, aku meneleponnya.
"Hallo?" Suaranya tidak terdengar marah ketika aku menghubunginya siang itu di jam istirahat. Dugaanku benar. Pria malang itu tidak tahu apa-apa.
"Kris-ssi, bagaimana kabarmu?" tanyaku, memulainya dengan basa-basi.
"Baik, bagaimana denganmu?" Ia terdengar sibuk dengan suara-suara di belakang sana. Sepertinya ia sedang bekerja bahkan di jam istirahat siang.
"Aku, baik," Aku mencengkeram ponselku begitu mendengar nada yang sama seperti sebelumnya. Aku rubah betina licik yang tidak menyesali perbuatanku. "Apa kau sudah kembali ke Seoul? Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu."
"Sayangnya aku berada di Tiongkok sekarang," Ia tertawa renyah tidak menyadari betapa menyedihkan dirinya. Bahwa istrinya telah melarikan diri. "Jika yang ingin kau sampaikan tentang Jessica, kau tidak perlu bertemu denganku. Nikmati saja waktumu."
Nikmati saja waktuku? Orang ini benar-benar unik. Kata-katanya seolah ia tidak peduli, tapi ia repot-repot meneleponku karena Jessica sakit sementara ia terjebak badai salju.
"Dia bersamamu kan?" Tebaknya, tepat sasaran. "Aku bisa menduganya saat pulang dan tidak menemukannya di rumah. Lalu Pelayan Oh mengatakan bahwa ia memang pergi denganmu membawa tas yang besar sekali."
Ia sudah tahu, tapi mengapa ia tidak mencoba mendapatkan istrinya kembali? Atau ia berpikir ini hanya semacam liburan? Karena itu ia memintaku menikmati waktuku? Ia mungkin mengira Jessica akan kembali setelah liburannya usai. Namun tidak seperti itu. Aku tidak akan pernah mengembalikan Jessica padanya. Jessica boleh menjadi istrinya yang sah untuk saat ini, tapi ia adalah wanitaku.
"Karena itu, kita harus membicarakannya," kataku berusaha terdengar seserius mungkin.
"Kau lucu sekali Kwon Yu Ri," Ia tertawa lebih keras. "Aku tidak merasa ada yang harus kita bicarakan. Nikmati saja waktumu dan jangan cemaskan apapun. Dan jika kau ingin aku menceraikannya, aku minta maaf karena aku tidak bisa melakukan itu."
Dia tidak bisa menceraikannya? Ia tahu persis apa yang sedang terjadi. Ia bukan pria malang bodoh yang tak tahu apa-apa. Ia mengetahui semuanya. Menegaskan bahwa ia tak akan menceraikan Jessica berarti ia sudah siap untuk melawanku. Ia akan mempertahankan wanitaku sebagai istrinya.
"Tetap saja kita harus bicara empat mata. Membahas ini di telepon ...," Aku belum selesai bicara ketika ia menyelaku.
"Maafkan aku, tapi aku benar-benar sibuk saat ini. Lain kali saja, ne?" Setelah itu, ia memutus sambungan telepon. Aku mencoba menghubunginya lagi tapi nomornya tidak aktif. Ia mematikan ponselnya.
