Setelah acara Reuni selesai, semua orang kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan aku dan Tae Young berada di toko buku yang berada tepat di sebelah kafe. Kami hanya datang untuk melihat-lihat dan mungkin jika ada yang Tae Young sukai, aku akan membelikan satu untuknya.
"Mom!" Aku sedang melihat-lihat majalah fashion saat Tae Young datang menghampiriku. Ia terlihat bosan. "I prefer New York rather than this place. Sampai kapan kita harus berkeliaran seperti ini?"
"Eoh, wait a minute." Aku merongoh tas tangan yang ku bawa untuk mengambil ponselku. Berkeliaran. Tae Young tidak salah. Beberapa hari ini aku memang membuatnya harus berkeliaran bersamaku tanpa tujuan yang jelas. Bukannya aku datang kemari tanpa tujuan. Aku memilikinya hanya saja aku tidak tahu harus kemana saat semua rencana yang sudah aku susun jauh-jauh hari berantakan hanya karena satu orang tidak mengangkat ponselnya. "I'll try to call your Hyung again."
Astaga! Ponselku tidak ada! Dimana aku meninggalkannya? Seingatku aku masih memegangnya tadi di kafe saat menyimpan nomor ponsel teman-temanku. Apa aku meninggalkannya disana?
"Is there something wrong?" Tae Young berjinjit untuk ikut melihat isi tasku.
"My phone." Aku menyerah untuk mencarinya karena aku yakin telah meninggalkannya. "I thought I left it in that cafe."
"Good. You forgot your phone." Tae Young melangkah gontai menuju pintu keluar toko buku. "Let's go! We need to got it back!"
Aku menyusulnya. Bahkan anak itu lebih dulu tahu apa yang harus dilakukan sementara aku hanya panik di tempat.
"Mianhe, Tae Young-ah!" Aku menunduk karena merasa bersalah.
"Aku tidak tahu apa jadinya Mom tanpaku." Ia memegang tanganku kemudian menengadah sambil tertawa riang. "So, I'll never leave you."
"I'll never leave you too." Kemudian kami berjalan ke kafe sambil mengayunkan tangan kami yang saling bertautan.
"I want ice cream again." Kami baru saja memasuki kafe itu lagi saat Tae Young menunjuk poster es krim berukuran besar yang ia makan tadi.
"No, you're eating ice cream too much today." Sebenarnya aku tidak tega menolak permintaannya. Hanya saja..
"Why don't you asking dad first?"
"Bukan.. Bukan begitu." Aku rasa Tae Young salah paham mengapa aku tidak mau membalikannya es krim lagi.
"Ask dad! Ask dad!" Tae Young menggoyang-goyangkan tanganku dengan tatapan memohon.
"I'll buy you Ice cream." Aku terkejut mendengar suara yang muncul tiba-tiba dari belakangku.
Aku berbalik dan melihatnya berdiri tepat di belakangku dan Tae Young. "Tae Yeon-ah..."
"Noona!" Tae Young bersorak senang sambil berlari untuk memeluk Tae Yeon.
Ck, Noona? Seandainya Tae Young tahu siapa yang ia panggil dengan sebutan Noona itu.
"Mianhe.." Tae Yeon menatapku sendu seolah ada sesuatu yang membuatnya begitu sedih. Apa ia tidak senang bertemu denganku? "Aku datang terlambat."
Aah.. Dia datang untuk reuni. Apa yang aku pikirkan? Dia tidak mungkin datang untuk bertemu denganku. Dia sudah bertunangan. "Teman-teman yang lain sudah lama pergi. Apa kau salah melihat waktunya?"
"Aniya.. Aku tahu waktunya. Justru aku yang menyusun acara ini." Tae Yeon mengedarkan pandangannya ke tempat yang sudah kosong itu. "Pasti seru sekali tadi."
"Tentu saja. Hanya kau yang tidak datang." Aku menarik Tae Young agar kembali ke dekatku. "Lalu mengapa kau terlambat?"
"Pekerjaan." Jawabnya singkat. Ia kemudian menunduk pada Tae Young. Terlihat jelas bahwa ia lebih antusias bertemu dengan Tae Young dibandingkan aku. "Kajja Tae Young-ah! We eat Ice cream."
