(Replay 2004) Are We Will Be Married?

266 51 3
                                        

Seoul, musim panas 2006.

"Mi Young-ah!" Tae Yeon menyandarkan tubuhnya di punggungku. "Sebenarnya, kapan kita akan menikah?"

Sepulang dari Hagwon, aku mengeluarkan bukuku untuk mengulang pelajaran. Belum sampai lima belas menit saat Tae Yeon datang. Sebenarnya aku bisa menebak. Ia selalu menghampiriku setiap kali aku sedang belajar di malam hari. Ia selalu mencoba menarik perhatianku. Kemarin ia mengajakku menonton film. Sekarang, ia membahas tentang pernikahan. Tidak bisakah ia membiarkanku fokus pada ujian yang tak lama lagi?

"Kapan kau akan memberitahu orangtuamu?" Jawabku tanpa mengalihkan perhatianku dari buku. Sekaligus memberi pukulan telak padanya. Ya, hingga saat ini ia belum mengatakan apapun pada kedua orangtuanya. Aku mengerti. Ia pasti takut. Karena itu aku tidak mendesaknya. Karena aku juga takut. Aku takut mereka akan membenciku.

Tae Yeon menghela nafas. Kelihatan sekali ia belum siap melakukannya. Sama denganku. Aku juga belum siap menerima kemarahan abeonim, juga eomonim. Aku yakin sekali mereka akan lebih marah padaku. Karena Tae Yeon adalah putri mereka.

Ia menggeser duduknya ke samping lalu berbaring di pangkuanku. "Tidak bisakah kita menikah dulu, baru memberitahu mereka?"

"Sekalian saja aku membuatmu hamil lebih dulu agar orangtuamu tidak bisa menentang pernikahan kita." Celetukku asal.

"Ide bagus!" Tae Yeon tersenyum mesum. Salahku. Aku yang memancingnya. "Mungkin kita bisa mulai mengusahakannya sekarang."

Yeah, konyol sekali. Itu adalah hal yang tidak mungkin. Aku hanya asal bicara dan dia malah menjadikannya sebuah kesempatan besar. Tidak! Tidak akan pernah!

"Menyingkir dari sini! Aku mau belajar!" Aku mendorong kepalanya dari kakiku.

Tae Yeon duduk sambil bersungut-sungut. Meski tidak bisa mendengarnya dengan jelas, aku tahu ia sedang mengomel. Aku pura-pura tidak peduli lalu melanjutkan belajarku.

"Mi Young-ah!" Tae Yeon kembali mendekat padaku. Ia memainkan telingaku, membuatku kehilangan konsentrasi.

"Apa yang kau lakukan?" Aku menangkap tangannya. "Aku sedang berusaha keras untuk masuk universitas yang sama denganmu!"

Benar juga! Aku ingin kuliah di fakultas hukum Universitas Seoul agar bisa kuliah bersama Tae Yeon. Tapi apa yang ia lakukan kini? Saat aku belajar sekuat tenaga, ia menggangguku. Ia juga jarang sekali belajar dan lebih banyak melakukan hal-hal tidak berguna.

"Mengapa kau tidak belajar?" Tanyaku. "Setelah melamarku, kau tidak ingin kuliah lagi?"

"Menikah denganmu adalah impian terbesarku." Jawabnya dengan nada santai. "Jika itu terwujud, bagiku yang lain bukanlah masalah penting."

"Ya!" Aku menarik hidungnya hingga ia mencium bukuku. "Kau memintaku menikah denganmu! Apa kau tidak merasa bertanggung jawab? Jangan katakan kau hanya akan bergantung pada orangtuamu setelah kita menikah nanti. Apa kau lupa? Aku hanya akan menikah dengan seorang jaksa, atau hakim!"

"Eii! Jangan terlalu serius begitu!" Tae Yeon balas menarik hidungku, namun dengan gemas. Kemudian ia mengambil buku yang sedang ku baca dan meletakkan di depannya. "Lihat! Aku belajar!"

Baiklah, ia belajar. Tapi.. Rasanya tetap saja ada yang salah. Ia tidak terlihat sungguh-sungguh.

"Bagaimana jika belajar bersama?" Tawarku.

"Daripada belajar, ada hal lain yang lebih menyenangkan jika dilakukan bersama." Tae Yeon mengedipkan sebelah matanya padaku. "Kau mau coba?"

That WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang