(Replay 2004) Hwang Tae Young

476 57 2
                                        

Seoul, musim gugur 2004

Aku?

Ia baru saja mengatakan hal yang lebih cantik dari sakura adalah aku? Dan kemudian ia menyambar kotak bekalnya dan berlari meninggalkanku. Kami bahkan belum sempat makan siang dan ia sudah pergi.

Aku kembali ke kelas dengan perasaan bingung sambil membawa blazer Tae Yeon yang lupa ia bawa tadi. Langkahku begitu pelan karena memikirkan kata-kata Tae Yeon barusan. Apa benar ia menyukaiku? Memang ia tidak mengatakannya langsung. Tapi bukankah arti kata-katanya adalah ia menyukaiku? Apa ia sama anehnya denganku?

Tidak mungkin. Tae Yeon menyukai sunbae si kapten tim sepak bola itu. Dia mungkin hanya menyukaiku sebagai teman. Ya, hanya sebagai teman. Dia tidak mungkin menyukai sesama yeoja sepertiku dengan cara yang lain.

Hanya saja.. Aku merasakan tatapan yang berbeda terhadapku. Itu bukan hanya sekedar imajinasiku saja kan? Dan.. Mengapa dia harus lari jika memang menganggapku teman?

Aku harus meminta penjelasan padanya. Harus.

Dia tidak ada di kelas saat aku kesana. Yu Ri dan Seo Hyun berada di kelas tapi tidak dengan Tae Yeon. Kemana dia pergi? Aku langsung mengejarnya saat ia lari. Harusnya ia tidak akan pergi terlalu jauh, hanya saja jalanku terlalu lamban karena bingung dengan kata-kata yang ia ucapkan tadi.

Aku akan mencarinya ke tempat lain saat mendengar suara-suara dekat deretan loker di lorong.

"Pabo!" Suara seorang gadis yang rasanya tak asing.

Aku melihat sekeliling. Tidak ada siapapun di sekitarku namun suara itu terdengar begitu dekat.

"Sekarang dia tidak akan mau berteman denganku lagi."

Itu suara Tae Yeon aku yakin. Tapi dimana dia?

"Pabo! Pabo!" Kini suara itu terdengar lebih keras diiringi suara lempengan besi menghantam sesuatu.

Aku menoleh pada loker tepat di sampingku. Asalnya dari sana. Aku mendekatinya lalu mencoba membuka pintu loker dimana suara tadi berasal. Tidak dikunci.

Dan aku menemukan Tae Yeon disana. Ia duduk di dalam kotak loker yang sempit sambil memegangi kepalanya. Saat aku membuka loker itu, ia tampak terkejut.

"Ppany-ah!" Ia lebih terkejut lagi saat melihat itu adalah aku.

"Kau meninggalkan ini." Aku menyodorkan blazer miliknya.

Ia mengambilnya tanpa sedikitpun niat keluar dari dalam tempat sempit itu. "Gomawo."

"Mengapa kau lari?" Tanyaku langsung. Aku maju satu langkah hingga berdiri tepat di depan pintu loker untuk mencegahnya lari lagi. "Kita belum makan siang."

"Ne?" Ia menatapku bingung. Tidak sadarkah ia bahwa dirinya telah lebih dulu membuatku bingung? "Kau masih mau makan siang denganku?"

"Tentu saja."

"Wae?"

"Aku lapar dan aku tidak suka makan sendiri."

"Maksudku... Apa kau tidak merasa jijik padaku? Takut atau semacamnya?"

Aku mengernyit sambil coba mengingat. Apa ia melakukan sesuatu yang menjijikkan tadi? "Mengapa aku harus begitu?"

"Aku.." Ia tampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Kemudian ia melongokkan kepalanya keluar dari loker, melihat ke kiri dan ke kanan, dan kembali masuk saat melihat tidak ada orang yang cukup dekat dengan kami. "Aku baru saja mengatakan bahwa aku menyukaimu. Tidakkah kau ingin menjauhiku karena itu?"

That WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang