"Kau di butik?" Tanya Tae Yeon meneleponku. "Aku dan Tae Young sudah berada di parkiran depan. Tapi tempatmu gelap sekali. Sepertinya tidak ada orang."
Aku melihat ke luar jendela. Memang sudah gelap di luar. Para pekerja pasti sudah selesai dan Seok Jin mungkin sudah pulang. Aku belum bisa meninggalkan tempat ini karena Jessica terlalu mabuk dan tidur di sofaku. Setelah apa yang ia ceritakan padaku, aku tidak tega membangunkannya. Padahal aku memiliki janji makan malam dengan Tae Yeon dan Tae Young. Aku sudah selesai mandi, berganti pakaian, dan siap-siap, tapi Jessica belum juga bangun.
"Aku di lantai tiga." Jawabku.
"Ah, ya. Lampu lantai tiga masih menyala." Sepertinya ia baru saja menengadah untuk melihat ke atas. "Kalau begitu kami akan masuk."
"Jangan!" Aku buru-buru menghentikannya. "Jessica disini. Dan dia mabuk. Aku belum bisa pergi sekarang."
"Jessica?"
"Eoh!" Dan tiba-tiba saja ide itu terlintas di benakku. "Apa bisa kau menghubungi Yu Ri? Katakan padanya untuk menjemput Jessica disini. Jadi kita bisa pergi."
"Yu Ri? Kenapa Yu Ri? Dia punya suami."
"Suaminya sedang di luar negeri." Aku mencari alasan. Dan kebetulan itu benar.
"Tapi mengapa harus Yu Ri?" Kedengarannya Tae Yeon tidak terima.
"Aku tidak bisa pergi jika kau tidak menghubungi Yu Ri."
"Ya, aku tahu. Tapi mengapa Yu Ri?"
"Lakukan saja atau aku tidak akan pergi!" Ancamku.
"Eoh, arraseo." Akhirnya ia menyerah. "Tapi aku tidak menjamin dia akan datang."
"Katakan padanya untuk langsung masuk saja. Kau berikan paswordnya padanya."
"Eoh, arraseo!"
"Kalau begitu aku akan turun sekarang. Gomawo, Tae Yeon-ah!" Aku memutus sambungan telepon lalu memasukkan ponselku ke dalam tas.
Aku pergi ke ruang tamu untuk mengecek keadaan Jessica. Ia masih tertidur dengan lelap. Aku memperbaiki selimutnya lalu mengecup dahinya. Sejenak aku berpikir, ia akan lebih merasa nyaman jika tidur di ranjang. Ia mungkin terjatuh karena sofanya terlalu sempit. Tapi karena aku tidak sanggup mengangkatnya sendirian, aku hanya menyusun bantal di bawah sofa. Untuk jaga-jaga siapa tahu ia terjatuh.
Setelah memastikan ia akan baik-baik saja saat aku pergi, aku beranjak dari sana. Sebelum mencapai pintu, sekali lagi aku menoleh ke belakang. Aku merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya. Selama sepuluh tahun terakhir ia pasti sangat tertekan. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku akan selalu berada di sisinya untuk menghiburnya.
Yu Ri juga tidak bisa disalahkan. Meskipun Jessica berusaha begitu gigih untuk mendapatkan hatinya, apa yang bisa dilakukan saat Yu Ri begitu bodoh, lamban, dan tidak punya hati. Ada seorang gadis secantik Jessica yang mengejarnya selama bertahun-tahun. Apa tidak pernah sekalipun ia tergoda? Apa ia alien? Apa ia dokkaebi?
"Kau sudah menghubungi Yu Ri?" Tanyaku begitu aku masuk ke dalam mobil Tae Yeon. Aku duduk di belakang karena sudah ada Tae Young di depan.
"Hmm.." Ia mengangguk. "Tanyakan saja pada Tae Young jika tidak percaya."
"Aigoo.. My little sun!" Aku mencubit gemas pipi Tae Young. "Apa kau menuggu lama?"
Tae Yeon berdehem. Ia mulai menjalankan mobilnya, keluar dari tempat parkir. "Aku juga menunggu."
"Kau ingin aku mencubit pipimu juga?" Aku tertawa atas kecemburuannya pada Tae Young.
Ia menunjuk pipinya. "Poppo!"
