Seoul, musim gugur 2004.
"Apa rencanamu hari ini?" Tanyanya padaku.
Tae Yeon sedang mencuci piring kotor sisa sarapan tadi di dapur sementara aku masih duduk di ruang makan sambil minum lemon hangat yang dibuatkan oleh Tae Yeon. Ji Woong sudah pergi saat kami masih sarapan. Pria itu tampak buru-buru sekali padahal ia menyempatkan diri mengobrol sebentar bersama kami. Menurut Tae Yeon, oppa-nya memang begitu.
Aku juga ingin punya oppa seperti Tae Yeon. Tidak harus oppa, eonni juga tidak masalah. Jadi anak satu-satunya tidak enak. Tidak ada yang membantuku saat aku memiliki masalah, tidak ada yang bertengkar denganku, tidak ada yang mengadukanku pada dad atas sikap burukku. Hanya ada dad dan Harry. Dad berbeda karena beliau orangtuaku sementara Harry, dia tidak bisa membantuku karena dia hanya bisa mengonggong, aku tidak bisa bertengkar dengannya atau aku akan digigit, dan bagaimana cara anjing itu mengadu pada dad?
Dulu saat masih sekolah dasar, aku pernah meminta dad untuk menikah lagi. Setidaknya aku bisa memiliki dongsaeng jika ia menikah lagi. Aku juga akan punya ibu. Tapi dad sangat payah. Untuk masalah wanita, ia culun dan penakut. Entah bagaimana caranya mom bisa berakhir menikah dengannya. Mungkin mom menculik dan memaksanya menikah.
Mom, aku tidak memiliki kenangan tentangnya. Aku masih sangat muda saat ia meninggalkan aku dan dad. Aku hanya mengenal wajahnya dari foto yang disimpan dad. Mungkin itu alasan yang membuat dad tidak mau menikah lagi. Karena ia masih mencintai mom. Aku juga. Meski tidak mengingatnya, aku mampu mencintai dan merindukan wanita itu hanya dari mendengar cerita dad tentangnya. Aku berharap bisa bertemu dengannya. Tapi tidak mungkin kan? Ia sudah pergi untuk selamanya.
"Entahlah." Aku sedikit terlambat menjawab pertanyaan Tae Yeon karena butuh waktu bagiku untuk mengerti maksud pertanyaan itu. "Biasanya aku dan dad akan menonton televisi atau berbelanja kebutuhan harian. Tapi hari ini dad mungkin akan tidur hingga sore karena kemarin ia mendapat tugas berjaga malam."
"Kalau begitu.." Tae Yeon mengeringkan tangannya setelah ia selesai mencuci peralatan makan itu kemudian kembali bergabung bersamaku. "Bagaimana jika kita pergi ke Hongdae?"
"Hongdae?" Aku tidak tahu apa yang ia sebutkan itu. Apakah itu nama tempat atau cara orang korea menyebut sesuatu. Katanya terdengar asing.
"Kau tahu.. Ehmm.." Tiba-tiba saja wajahnya menjadi merah. "Kita belum pernah pergi kencan."
"Kencan?" Aku rasa wajahku juga ikut memerah saat ini. Ia sudah membahasnya tadi malam. Hanya saja aku belum sempat memberi jawaban karena Ji Woong datang.
Tae Yeon mengangguk. "Kau mau kan?"
"Sure." Aku menjawab sambil tersenyum malu. Sebenarnya aku sudah menunggu-nunggu kapan ia akan menanyakan kembali karena aku sangat berharap pergi keluar dengannya. Sejak tiba di Seoul, aku belum pernah pergi kemanapun. Maksudku selain rumah, sekolah, dan supermarket. Terlebih aku tidak memiliki teman. Siapa yang akan mengajakku?
Tae Yeon adalah teman pertama bagiku sejak aku berada di Korea. Yang kedua tentu saja Seo Hyun dan Yu Ri. Dan siapa sangka teman pertama itu berubah menjadi pacar dalam waktu singkat. Bisa dikatakan aku sedikit nekat menerimanya sebagai pacarku padahal aku tidak tahu Tae Yeon seperti apa. Tapi aku memang seorang gadis yang nekat. Aku bahkan memasukkan Harry ke dalam rumah. Apa yang lebih nekat dibandingkan itu?
Sebenarnya Harry tidak begitu mengerikan. Dad lebih mengerikan. Bukan untukku melainkan teman-temanku saat di Los Angeles dulu. Mereka sering aku ajak bermain di rumah, namun suatu hari, dad pulang dari dinasnya dan menemukan kami sedang bermain di halaman belakang. Aku tidak tahu apa yang dad lakukan pada mereka. Tapi semua teman-temanku berlari berhamburan keluar rumah setelah dad duduk bergabung bersama mereka.
