Sorry, I Didn't Know

644 93 8
                                        

Kami kembali ke rumah sebelum terlalu larut dan udaranya semakin dingin. Jessica masih benci naik taksi, jadi aku terpaksa membawanya dengan motorku. Aku sedang mengurus penjualannya lalu menggantinya dengan mobil kecil. Maksudnya, tentu saja motorku yang ingin ku jual, bukan Jessica.

Kesalah pahaman ini sudah terjadi tadi. Ketika aku mengatakan pada Tae Yeon bahwa akan menjualnya, ia malah berkata, "Aku tidak yakin ada yang mau membeli sesuatu yang mengerikan seperti itu."

Tentu saja aku tersinggung karena selama ini aku merawat motorku dengan baik. Lalu aku berpikir, apa mungkin menurut orang lain motorku begitu buruk?

"Buang saja jika kau tidak mau," lanjut Tae Yeon lagi.

"Aku ingin menjualnya karena aku butuh uang untuk membeli mobil," Aku menjelaskan. "Mana mungkin aku membuangnya?"

"Kalau kau butuh uang, jual saja motormu," kata Tae Yeon kemudian.

"Itu yang sedang ku katakan padamu!" Ingin rasanya aku berkata kasar. Apa ia benar-benar dokter? Bagaimana mungkin percakapan sesederhana ini saja begitu rumit baginya.

Dan ia malah tertawa, "Ku pikir kau ingin menjual Jessica."

Aku benar-benar berkata kasar setelahnya. Ia beruntung Jessica tidak mendengar itu. Jika tidak, ia tak hanya mendapat kata-kata kasar. Aku yakin ia akan kehilangan kepalanya. Dan ketika Jessica dan Tiffany kembali dari dapur membawa camilan, ia bersikap seperti anak baik. Ia menyiapkan tempat duduk untuk Jessica bahkan menepukkan debu sebelumnya. Ia juga melayani Jessica layaknya tuan putri. Seandainya aku bukan orang yang setia kawan, aku akan mengadukannya.

"Aku mau mandi," kata Jessica ketika kami telah tiba di rumahku.

Ia memang mulai tinggal denganku. Ia meninggalkan rumah suaminya yang besar itu untuk pindah ke tempatku yang kecil. Meski aku merasa besar kepala karenanya, tetap saja ini terasa tidak benar. Bukannya aku lebih suka menyerah atasnya, tapi setidaknya pria itu berhak tahu kemana istrinya pergi. Mungkin saat ini Kris sedang kebingungan karena dirinya menghilang.

Itu benar. Jessica hanya pergi denganku dengan membawa barang-barangnya. Suaminya belum kembali dari Jepang saat aku membawanya pergi. Sebenarnya aku sudah mengatakan untuk menunggu Kris dulu. Yang aku lakukan memang bukanlah hal yang terhormat, tapi pergi tanpa mengatakan apapun seperti ini terasa seperti melarikan diri. Walau aku merebut istrinya, setidaknya ia berhak tahu apa yang terjadi.

Tapi Jessica mengatakan bahwa itu bukan masalah besar. Kris tidak memiliki urusan tentang kemana ia akan pergi. Mungkin ia tidak memiliki perasaan terhadap pria itu sehingga tidak peduli pada perasaan suaminya. Namun tetap saja ini terasa tidak benar.

"Kau sudah menghubungi Kris?" tanyaku sambil meletakkan helmku di atas lemari.

Ia malah menatapku tajam penuh kebencian. "Apa maksudmu? Mengapa aku harus menghubunginya? Aku hanya ingin mandi. Aku tidak perlu melaporkan segala hal yang akan ku lakukan padanya."

Seolah ia memang melaporkan beberapa hal saja pada suaminya itu. Lagipula bukan itu maksudku. Aku tidak memintanya menghubungi pria itu untuk melaporkan bahwa ia ingin mandi. Aku menanyakan apa ia sudah menghubungi Kris dan memberitahukan bahwa ia pergi bersamaku. Apa aku salah bertanya? Atau pertanyaanku terlalu sulit dimengerti. Mengapa hari ini orang-orang selalu salah paham padaku?

Sepertinya ini memang kesalahanku. Aku harusnya menanyakan dengan lebih detail. Tae Yeon tadi juga sempat salah paham dengan pertanyaanku.

"Bukan tentang mandi, tapi tentang keberadaanmu saat ini. Ia mungkin khawatir. Sebaiknya kau menghubunginya untuk memberi kabar," jelasku.

"Aku mau mandi!" Bentaknya, tak mau mendengar apa yang kujelaskan padanya.

Yah, mungkin ia takut. Bukan hanya aku yang melakukan kesalahan disini, tapi juga dirinya. Mengkhianati suaminya dan pergi dengan orang lain bukan hanya hal yang jahat, namun juga memalukan. Aku mengerti ketakutannya. Bahwa Kris akan memaki dan menghujatnya. Ia mungkin belum siap menerima itu saat ini. Jadi, aku tidak akan memaksanya.

That WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang