HYT 35

652 28 2
                                        

Di kantin semua teman sekelas nata menikmati makanan dan minuman yang gratis. Siapa lagi yang akan membayarnya kalau bukan nata.

Dari arah pojok ada fatan, erik dan rendi. Mereka melihat nata yang seperti mencari seseorang.

"Kenapa nat?" tanya amel yang melihat nata gelisah

"Perasaan gue ko gak enak ya?" kata nata

"Udah jangan bawa perasaan terus. Belum tentukan ada hal buruk" ucap positif amel.

Nata hanya diam dan menganggukan kepalanya. Sedangkan disana di tempat fatan keributan terjadi. Setelah fatan menarima telepon. Ia langsung pergi dari kantin di ikuti rendi dan erik.

Nata memerhatikannya dari jauh. Perasaannya semakin tidak enak. Ia gelisah melihat wajah fatan yang berubah cemas.

~~~~~

Di rumah sakit para suster berjalan keluar masuk ruangan alfa. Kondisi alfa yang sedikit demi sedikit meningkat sekarang menurun drastis.

Fatan berlari mendahului erik dan rendi. Ia begitu cemas kepada adiknya. Apalagi mendengar alfa kembali memburuk.

"Aggghhhh" fatan menjambak rambutnya di depan ruangan alfa. Kedua orang tuanya sedang ada pekerjaan ke luar negeri dan besok baru pulang.

"Sabar tan" erik mencoba menenangkan fatan.

"Sabar!?Lo BILANG SABAR!? GIMANA GUE BISA SABAR HAH?" emosi fatan meledak. Membuat nyali erik dan rendi menciut. Mereka tau bagaimana kalau fatan mengamuk. Alfa saja sudah membuat mereka pusing apalagi kembarannya yang dingin?

"G...ue....gu..e.....maaf" kata erik terbata.

"Lo tau gak gue tiap hari ajakin al ngobrol. Supaya apa? Supaya dia denger gue terus mau bangun. Dan sekarang, semuanya sia-sia. Gue abang yang buruk" badan fatan merosot ke bawah.

Ia menangis. Baru pertama kali erik dan rendi melihat fatan menangis. Ia juga merasa sedih akan alfa.

Sebuah suara sepatu melangkah dengan tenang ke arah fatan. Fatan mengabaikannya. Ia menyembunyikan kepalanya dengan tangan. Seseorang mengusap rambut fatan.

Membuat mengangkat kepalanya. Saat melihat dia fatan semakin sedih. Air matanya tumpah kembali.

"Udah nangisnya?" suara lembut itu membuat fatan berdiri. Ia memeluk seorang perempuan yang seumurannya.

"Ssstttt...udah, aku disini. Alfa pasti baik...ok!" ia mengusap punggung fatan. Erik dan rendi pergi takut mengganggu mereka.

Suaranya membuat fatan sedikit tenang. Perlahan-lahan ia membawa fatan ke kursi. Fatan tidak mau melepaskan pelukannya meskipun sudah tenang.

Seorang dokter keluar dari ruangan alfa. Fatan yang mendengar suara pintu segera bangun menemui dokter.

"Gimana dok? Adik saya gak papa kan?" tanya fatan dengan cepat. Membuat dokter memahami fatan.

"Alhamdulillah pasien sudah melewati masa kritisnya. Tapi kami tidak tau kapan pasien akan sadar. Kondisi pasien semuanya normal. Emm...kondisi ini sama seperti pasien di rumah sakit kami. Ia juga sama lecelakaan tapi tidak pernah bangun. Tapi kami akan berusaha sebaik mungkin untuk pasien" sesudah itu dokter mengundurkan diri.

Hati Yang TerlukaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang