Alfa pulang ke rumah dengan ceria. Apalagi ia selalu tersenyum. Sudah lama Alfa tidak dekat dengan Nata. Hari ini ia senang bisa dekat lagi dengan Nata.
"Hay abangku" Alfa duduk di dekat Fatan yang sedang menonton tv.
Fatan hanya sebentar melirik Alfa. Ia kembali fokus menonton. Fatan sudah bisa menebak apa yang menyebabkan Alfa sesenang ini.
"Serius amat nontonnya. Gue mau minta pendapat nih. Menurut lo gue harus apa biar Ana kaya dulu lagi?" tanya Alfa. Alfa memikirkan bagaimana Nata saat ini.
Nata semakin berubah. Sejak kenal dengan Nata. Alfa tidak pernah melihat Nata sehancur ini. Alfa bahkan bisa melihat rasa putus asa di matanya.
"Pikir sendiri!" ucapan Fatan memang selalu membuat emosi. Alfa sudah memikirkannya, namun belum ada ide juga.
"Kalo gue tau, gak mungkin gue nanya bang" kata Alfa kesal.
"Ana akan berubah untuk orang yang ia sayang. Sekeras apapun lo berusaha, kalau Ana gak suka sama lo, dia gak akan berubah" ucap Fatan tiba-tiba. Fatan dapat dengan mudah melihat tinkah seseorang dari matanya.
Saat di rumah sakit Fatan melihat itu dari mata Nata. Melihat Rasa sakit yang merubah dirinya. Fatan juga melihat ada sisi lain yang Nata sembunyikan. Entah itu sisi yang bagaimana.
"Orang yang dia sayang. Tapi siapa" gumam Alfa. Ia sedang berfikir dengan keras. Ia harus mencari orang yang Nata sayangi. Alfa ingin Nata kembali seperti yang ia kenal. Tidak melukai dirinya sendiri.
"Ana lukai dirinya sendiri!" ucap Fatan.
Kalau saja Alfa tidak melihatnya sendiri. Ia tidak akan mengerti apa yang di maksud Fatan.
"Gue udah tau" kata Alfa sedih. Ia merasa sakit melihat Nata menyakiti dirinya sendiri.
"Ana butuh seseorang disisinya" Fatan bangkit dari duduknya.
Ia menepuk bahu Alfa pelan. Fatan mencoba membuat Alfa segera mencari jalan keluar dengan kata-katanya.
Karena Fatan tau Alfa bukanlah orang yang peka. Melainkan lemot satu dua dengan rendi. Tapi kalau rendi sudah lemot akut. Susah dimengerti.
~~~~~
Sebenarnya Alfa kurang mengerti harus apa. Tapi fatan sudah menyuarakan pendapatnya. Alfa belum juga paham.
"Orang yang disayangi. Butuh seseorang di sisinya. Siapa yang disayangi Ana dan Ana harapkan untuk ada di sisinya?" tanya Alfa pada dirinya sendiri.
Alfa berfikir tentang Amel. Tapi amel bilang Nata tidak terbuka padanya. Alfa ingat bahwa kakaknya Nata tidak pulang setelah Ayah Nata meninggal. Jadi ada kemungkinan Nata membutuhkan kakaknya.
Alfa harus membicarakan ini dengan Amel. Alfa mengambil tasnya. Ia segera berjalan ke luar rumah. Alfa sudah rapih dari tadi untuk berangkat sekolah. Hanya saja ia berfikir terlalu keras sehingga masih dirumah.
"Alfa mau kemana?" tanya bundanya.
"Sekolah bun" Kata Alfa sambil berlari. Sebenarnya Alfa harus beristirahat di rumah dulu.
Alfa segera mengambil motornya dibagasi. Ia dengan cepat keluar dari rumah. Bundanya berlari ingin mengejar Alfa. Tapi Alfa sudah pergi.
"Anak itu, baru juga kemarin pulang dari rumah sakit. Sekarang udah kesekolah" bundanya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Alfa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hati Yang Terluka
Teen FictionKetika hati yang terluka karena cinta. Bukan mulut yang bicara melainkan air mata yang meluncur begitu saja. Anatasya andika wijaya gadis polos yang berubah karena penghianatan dan perpisahan kedua orangtuanya. Ia merasa hidupnya sebatangkara. Ketik...
