Aku bagai berjalan di kegelapan
Mencari titik terang
Tidak tau arah dan tujuan
Mencari jati diri yang telah hilang
~Alfa Antarik Putra~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Alfa memegang pipinya. Tamparan Nata begitu terasa. Siapa dia sebenarnya.
Tatapan matanya begitu terluka. Apakah dia orang yang berarti bagi Alfa? Alfa terus memikirkannya.
Bahkan sekarang. Nata sudah tidak terlihat lagi.
"Lo sebenernya ada masalah apa si Al sama Ana?" tanya Erik
"Lo itu keterlaluan tau Al. Pura-pura gak tau siapa ana" Rendi menggelengkan kepalanya.
Jika saja mereka tau, bahwa Alfa tidak ingat siapapun. Alfa semakin bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan.
Alfa hanya diam. Alfa juga merasa sangat sakit melihat Nata dengan mata berkaca-kaca dan penuh dengan terluka.
"Bukannya lo suka banget sama Ana? Kenapa sekarang jadi gini?" tanya Erik lagi kemudian.
Alfa hanya bisa diam. Tidak mengeluarkan kata apapun.
"Lo kenapa sih Al diem aja. Cape ngomong dari tadi gak ditanggepin" kata Erik dengan wajah kesal.
"Udah rik, kita pergi aja. Alfa butuh sendiri!" Rendi segera menarik Erik meninggalkan Alfa.
Alfa memejamkan matanya. Kemudian membukanya kembali.
Gelap, seperti hidupnya saat ini. Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
Banyak hal yang Alfa ingin tau tentang dirinya. Mengapa semuanya begitu rumit?
Kenapa ingatannya hilang? Kapan Alfa bisa mengetahui semuanya.
Kenangan apa yang paling penting baginya. Siapa orang berharga yang ada di hatinya?
Apakah dia Ana atau Serly. Alfa tidak tau. Alfa merasa dekat keduanya.
Mereka berdua serasa tidak asing baginya. Alfa merasa bahwa Alfa sangat dekat dengan mereka.
Tapi siapa yang selalu ada di hatinya? Siapa yang Alfa cinta?
Kenapa Ana mengakhiri sebuah hubungan sedangkan yang Alfa tau dia adalah pacar Serly.
Pertanyaan ini Alfa simpan sendiri. Biarlah waktu yang menjawab semuanya. Alfa tidak bisa memaksa ingatannya.
~~~~~
Nata berlari ke arah toilet. Nata sudah tidak kuat menahan air matanya. Tapi sebelum sampai, air matanya telah keluar.
Nata begitu rapuh. Begini sakitnya jika di anggap tidak ada.
"Kenapa kau mengajarkanku mencintai jika kau menyakiti?" lirih Nata.
Dengan air mata yang masih mengalir. Nata membuka pintu toilet dan langsung menutupnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hati Yang Terluka
Ficção AdolescenteKetika hati yang terluka karena cinta. Bukan mulut yang bicara melainkan air mata yang meluncur begitu saja. Anatasya andika wijaya gadis polos yang berubah karena penghianatan dan perpisahan kedua orangtuanya. Ia merasa hidupnya sebatangkara. Ketik...
