HYT 75

391 23 2
                                        

Ruangan yang serba putih dan bau obat-obatan. Ada seorang gadis sedang duduk di tempat tidur dengan mata kosong.

Ia terus menatap ke depan. Matanya sembab. Mukanya pucat pasi.

Tidak ada jejak kehidupan di matanya. Hanya ada kekosongan.

Hanya ada kesedihan. Hanya kepedihan. Jejak air mata masih nampak di pipinya.

Itulah yang Nata lihat pertama kali. Mata Nata hanya tertuju pada Serly.

Nata tidak menyangka bahwa Serly akan seperti itu.

"Sely!?" panggil Nata.

Serly masih diam di tempatnya. Ia seakan tidak mendengar Nata yang memanggilnya.

"Hiks....Ana bantu Serly. Akan saya lakukan apapun agar serly kembali!" kata ibunya Serly yang berada di belakang Nata.

"Berikan saya waktu untuk menjawabnya"

Nata keluar dari ruangan itu. Ia berjalan menjauh dari ruangan Serly.

Nata berjalan sambil memikirkan apa yang terjadi.

Langkah Nata sangatlah pelan. Apa ia begitu jahat pada Serly.

Nata merasa menyesal ketika dulu berbicara kasar kepadanya.

"Maaf!" kata Nata sambil menyenggol bahu seseorang.

"Ana!?"  panggilan seseorang membuat Nata menghentikan langkahnya.

"Rendi? Ngapain lo disini?"

"Eh, lo belum tau ya? Si Alfa jatuh dari tangga. Untung aja gak papa. Tapi syukur juga karena jatuh dari tangga dia bisa. Ups...."

Rendi membekap mulutnya. Kenapa ia bisa bicara seperti itu kepada Nata.

Rendi menepuk mulutnya. Ia menggerutu di dalam hatinya.

"Hah, apa?"

"Gak papa gak papa. Aduh bicara apa sih gue tadi. Kayaknya masih ngelantur deh"

Rendi langsung berlari menghindari Nata. Nata tidak memikirkan kelakuan Rendi.

Ia berjalan pargi dari sana. Dengan segala masalah yang ada saat ini.

Meskipun ada jejak ke khawatiran tapi Nata sudah mendengar bahwa Alfa tidak apa-apa.

~~~

Sebuah tiket pesawat berada di tangan Nata. Nata sudah memutuskan ini sejak lama.

Melihat bagaimana Serly saat ini karena ulah Alfa membuat Nata ragu.

Nata berfikir lagi tentang kondisi Serly saat ini. Ada perasaan kasihan ketika melihatnya.

"Nata, udah selesai belum?" tanya Dina ketika memasuki kamar Nata.

Banyak baju yang masih berserakan di kasur. Nata bahkan belum merapihkannya.

"Mama bantuin ya"

"Gak usah ma. Nanti nata beresin sendiri. Mama istirahat aja" tolak Nata.

Dina kemudian pergi dari kamar Nata. Nata menatap lekat-lekat tiketnya.

Setelah itu Nata menaruh tiketnya di atas meja. Nata melihat ke arah baju dan tiketnya.

Nata menghela nafas. Pertama semuanya berjalan dengan lancar.

Keputusan yang ia ambil sudah bulat. Tapi sekarang semuanya berjalan dengan rumit.

Hati Yang TerlukaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang