Perempat Final Turnamen (Bagian 1)

143 8 0
                                    

Sabtu, 17 Agustus 2049. Akademi Machenhaft. Jam 01.12.

"Hei lihat!" Teriak Leo sambil memperlihatkan ponselnya pada lima orang itu, "Saber berhasil mendapat tempat di perempat final!"

Clifford menyeringai sombong, dari balik kacamatanya terlihat tatapan kebanggaan yang sedikit tercampur dengan keangkuhan, "sudah pasti."

"Memang hebat, guru kita itu," celetuk Ivy dengan sifat malu-malunya yang manis, "apa kita tak akan pergi ke sana dan menonton pertandingan yang tersisa?"

"Tentu kita bisa ke sana," ucap Clifford, "kepala sekolah kita telah menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa, jadi beliau memutuskan untuk pergi menonton perempat final dua Minggu lagi."

"Kalau begitu, kita i-"

"Masalahnya bukan seperti itu," tukas Dorothy, "aku dan Ivy terlibat dalam penyerangan bulan lalu, begitupun dengan beberapa bangsawan di sana. Meski mereka menjamin keamanan dengan memanggil beberapa ksatria tingkat atas, murid-murid dari sekolah lain masih diimbau untuk tidak pergi ke arena."

"Begitu ya, cukup rumit juga sebenarnya," ucap Sara, "memang sih, kerajaan ini menganggap generasi kita adalah segalanya."

"Seperti itulah, atau mungkin ada sebuah keajaiban di mana kita diundang menonton ke sana."

Leo berpikir keras. Orang bertubuh besar seperti dia biasanya terkesan mengandalkan otot, tapi kali ini dia benar-benar menggunakan otaknya, "kenapa kita tidak meminta izin?"

"Pada kepala sekolah? Yang benar saja."

"Bukan, maksudku pada Lucia."

"Aah, benar-benar merepotkan memikirkannya," gerutu Leo, "benar-benar seperti drama saja melihatnya seperti itu."

"Tidak," Dorothy memotong perkataan Leo, matanya kemudian bergulir menatap gadis berambut pirang yang berdiri sambil memandang dunia luar lewat jendela, "hoi, kau ikut 'kan?"

Mulutnya menampakkan senyuman indah, "ya, tentu saja!"

---------------------------------------------------------
Tanggal yang sama. Akademi Khusus Ksatria Kerajaan. Jam 13.10.

"Eh!?" Yuu berteriak tak percaya, lorong berdinding biru itu menggemakan suaranya, "kau yakin Rex tidak berbohong!?"

Matanya terbelalak saat dia berbicara, ketidakpercayaan penuh jelas ditunjukkan, tapi Saber menghadapinya dengan dingin. Ia menatap lantai sementara kakinya masih berjalan pelan. "Aku mewaspadainya, sudah pasti. Dia tiba-tiba datang ke kamar dan mengajakku berbicara. Aku sudah siap dengan sihir meski tak membawa pedang partikel, tapi aku membatalkannya ketika sadar bahwa dia tak menyembunyikan apa-apa."

Yuu mengerenyitkan dahi, menatap Saber Yang memang sedang berbicara serius, "apa yang membuatmu yakin dia tidak menyembunyikan apapun?"

"Aku membukakan pintu saat dia datang, pisau besi kugenggam erat. Rex tahu itu, tapi sampai akhir dia tidak mengeluarkan sihirnya. Aku juga tahu pasti dia tidak menyembunyikan senjata apapun," Saber berhenti sejenak, "perubahan wujudnya itu, aku tak yakin apa dia berubah menjadi elf atau elf berubah menjadi manusia?"

"Oh ya, dia pangeran elf ya,"

"Betul sekali. Dia itu Pangeran Elf, yang berarti setiap informasi yang dia berikan menyangkut konflik antara semestanya, semesta kita, dan juga semesta merah yang telah hancur. Sementara itu dia mengatakan itu padaku yang sebagai pemilik Naga Hitam Bahamut. Aku tidak merasa dia akan berbohong tentang ini."

Yuu menata ke bawah, memikirkan pernyataan logis yang dilontarkan Saber, "Jika kau yang berkata begitu, kurasa memang benar," pandangannya beralih pada air mancur bertembok abu-abu di tengah taman luas. Nampak sekilas bayangan hitam bersayap kelam. Mata Yuu terbelalak, tapi saat sebuah pilar menutup pandangannya kurang dari sedetik, bayangan itu menghilang.

Seven Dragoneer: ZeroTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang