Dua Pendekar

16 4 0
                                    

Sabtu, 24 Agustus 2049. Akademi Khusus Ksatria Kerajaan. Jam 21.47.

Ketika kesadarannya kembali, Saber masih berdiri di atas lantai balkon. Dia agak sempoyongan saat kegelapan mulai hilang dari matanya, tapi dia tetap berusaha berdiri waspada. Meski begitu, tanpa penglihatan yang normal, dia tidak bisa apa-apa.

Ketika penglihatannya sudah kembali penuh, apa yang dia lihat pertama kali membuatnya dia terbelalak.

"Hai, Saber~"

Dia sontak mengangkat tangannya, tapi kepala sekolah bergerak lebih cepat. Dia mengarahkan ujung jari telunjuk pada dada Saber, lalu mengayunkannya sedikit ke belakang.

"Bang!"

Seketika, Saber merasakan sentakan kuat, lebih kuat dari sihir angin mana pun yang pernah menyerangnya. Dia terpental jauh ke dalam hutan akademi, menembus rantinghranting dan daun-daun kasar sementara dadanya terasa begitu sesak akibat sentakan itu. Ketika dia sudah keluar dari barisan pepohonan, punggungnya menghantam sesuatu yang terasa halus, membuatnya berhenti terpental.

Saber membuka matanya perlahan. Sosok seorang gadis dan seorang pemuda berambut merah tertangkap matanya. Penglihatannya begitu buram, dia juga belum bisa bernapas sama sekali akibat sihir kuat kepala sekolah. Seberkas cahaya menyala dia ujung sebuah tongkat. Cahaya yang hangat, Saber dapat merasakan rasa sakit di paru-parunya perlahan membaik, juga buram pada matanya berangsur-angsur menghilang.

Sosok kedua orang itu terlihat sejelas siang hari ketika dia sudah pulih sepenuhnya.

"Ivy....... Cheva........."

"Yo," Cheva mengangkat tangannya seperti sapaan biasa, "kacau sekali dirimu itu."

"Sudah merasa baikan, Saber?" tanya Ivy dengan suara lembutnya. Cahaya hangat itu berasal dari tongkat sihirnya. Tentu saja. Teknik penyembuh khas <Druid>, <A Warm Firefly>.

Saber menengok sekitar. Punggungnya mendarat di lilitan ratusan sulur halus. Lilitannya mirip seperti anyaman rotan, juga terdiri dari beberapa lapisan dengan celah udara di tengahnya, sehingga meski Saber menghantam kuat, kekuatan benturannya bisa berkurang drastis.

Saber langsung bangkit begitu dia merasa baikan. Dia membuka kancing jasnya, menarik dasi dan melepas kancing atas kemejanya. Tidak ada waktu, kepala sekolah itu pasti tengah menghadapi yang lain.

"Cheva," panggil Saber seraya menyodorkan telapak tangannya, "mana sabuknya?"

Cheva sedikit tersentak ketika Saber menyinggung soal sabuk itu. Hukan karena dia menghilangkannya, malah dia berharap untuk menghilangkannya. Sabuk itu dipesan khusus pada Stacia dulu, saat Saber masih menjadi serigala tunggal. Dia tahu betul apa saja isi sabuk itu, dan tahu apa yang akan Saber lakukan.

"Saber, aku kira ini bukanlah—"

"TIDAK ADA WAKTU!!!!!!!!!!"

Saat Saber membentak, Cheva tahu dia tidak memiliki ilihan lain. Dia merogoh tas selempang di pinggangnya. Sebuah sabuk tebal dengan beberapa slot dan wadah besar berisi berbagai benda.

Itu adalah benda-benda yang Saber keluarkan dari kotaknya sewaktu di kamar. Barang-barang yang tidak akan dia keluarkan kecuali keadaan benar-benar mendesak. Saber segera meraih sabuk itu dari tangan Cheva lalu memasangkannya di pinggang. Pemuda itu membuka sebuah slot di sisi kiri sabuk. Sebuah suntikan berisi cairan oranye diambilnya.

Seven Dragoneer: ZeroTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang