Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma sholli'ala sayyidina Muhammad wa'ala ali sayyidina Muhammad.
Selamat membaca🤗
°°°
Latihan sudah selesai sejak sepuluh menit yang lalu, namun beberapa gadis itu masih enggan beranjak dari tempat ini, tribun lapangan basket indoor.
Mereka saling mengobrol, berkenalan lebih dalam kepada teman-teman se-ekskul agar mengurangi kesenjangan.
"Jadi ... lo itu bisa masuk ekskul, tapi nggak dari awal itu karena Pak Nendra?" tanya Sarah, gadis berambut yang dibentuk bob, ia menatap fokus ke arah Faricha.
"Awalnya sih, saat pelajaran, kata beliau, aku ada skill, terus dimasukin deh di ekskul ini sama Pak Nendra," sahut Faricha.
"Biar skillnya bisa bertambah dengan belajar bersama kalian, nggak dipendam sia-sia," timbal Indana.
"Iya sih, kalo nggak ditingkatkan. Kalo lo masuk ekskul atau komunitas olahraga 'kan, bisa ikut lomba, siapa tau bisa menang, ya," ucap Vanessa.
"Apalagi sekarang 'kan lo masuk tim inti, apalah gue," ucap Juli. Faricha langsung mengelus bahu gadis itu lembut.
"Nggak papa kali, kamu 'kan masih kelas 10, masih punya banyak kesempatan," ucap Faricha, lalu tersenyum.
"Gue udah kelas 12, sekarang masuk tim cadangan," keluh Vanessa yang langsung mendapatkan geplakan dari Rahsya di lengan gadis itu.
"Heh, lo 'kan kelas 10 sama kelas 11 udah jadi tim inti, lupa lo?" ucap Rahsya sedikit galak, membuat Rahsya sedikit merenggut dan hanya membalas dengan iya-iya.
Rahsya tersenyum ke arah Faricha merasa bersalah, membuat Faricha mengejutkan dahi.
"Kenapa, Kak?"
"Ehm, Cha. Gue minta maaf, ya. Selama ini, gue sering salah paham sama lo," ujarnya tidak enak.
Faricha mengerutkan darinya, tidak mengerti dengan maksud yang kakak kelasnya ini katakan. "Salah paham kenapa, Kak?" tanya Faricha.
"Biasa lah, takut kehilangan dia, takut Bilman berpaling," timbal Vanessa, lalu melirik sahabatnya, Rahsya, dengan tersenyum mengejek.
"Ih, apa sih?" Rahsya menggeplak lengan Vanessa lebih keras dari yang tadi ia berikan, bahkan hingga membuat gadis itu meringis karena merasakan panas di lengannya.
"Tapi bener, 'kan?" Rahsya mengangguk malu-malu, membuat yang lain tertawa melihat tingkahnya.
"Kakak bucin, ya?" ucap Juli, lalu kembali tertawa geli.
"Iya, nih, masih bocah aja udah bucin," ucap Vanessa seraya menoyor kepala Vanessa, membuat yang lain sontak berkata, "Kak!" Sebagai peringatan.
Vanessa hanya menyengir, lalu menangkupkan tangannya seraya berkata, "Maap-maap, saya khilaf."
Faricha hanya menggelengkan kepalanya geli melihat tingkah kakak kelasnya. "Wajar sih, Kakak gitu, 'kan Kakak baru lihat aku dan ternyata Kak Bilman sudah kenal duluan sama aku," ucap Faricha.
"Iya, ya? Apalagi Bilman baik lagi ke Faricha," imbuh Naura, membuat Rahsya mengerucutkan bibir karena kesal.
"Kata lagu nih, ya, rasa kehilangan, hanya akan, ada, jika kau pernah, merasa memilikinya." Trissa menyanyikan satu bait lagu Memiliki Kehilangan milik Letto yang setiap hari ia dengarkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Faricha
Teen Fiction(Tamat) Belum revisi Faricha Lutfia Izza, seorang gadis yang cuek. Semua yang membencinya berbalik menjadi temannya setelah mereka menyakitinya. Semua orang yang abai padanya, menjadi temannya setelah ia berubah menjadi lebih baik. Dia, Faricha...
