Mungkin

62 8 0
                                        

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma sholli'ala Sayyidina Muhammad wa'ala ali Sayyidina Muhammad

Selamat membaca 🤗

°°°

Sepanjang perjalanan menuju ke kelas, Dhani lebih sering diam. Ia tidak menyangka, perbuatan yang niatnya hanya iseng-iseng itu malah membuat sikap Faricha berubah, tidak membuka suara kalau tidak ditanya, dan jadi jarang tersenyum kecuali jika disenyumin duluan, malah wajahnya lebih cenderung datar—persis seperti awal-awal ia kenal dengan gadis itu.

Ia melihat punggung gadis itu yang berada beberapa meter darinya, rasa bersalah itu kini menerpanya, namun ia juga tidak tau bagaimana cara meminta maaf yang baik.

Dhani menghela napas gusar, ia tidak tau bagaimana kelanjutan pertemanan mereka setelah ini. Ia jadi berpikir, kenapa gadis itu harus memancingnya untuk berbuat jahil? Namun, ia tidak menyalahkan sepenuhnya kepada Faricha, karena di sini, yang salah adalah dirinya. Kenapa dirinya yang mudah sekali terpancing tanpa memikirkan bahwa Faricha tetaplah gadis biasa, tetap bisa merasakan baper bila berurusan dengan lawan jenis dalam waktu yang lama.

"Lo kenapa?" tanya Zulfikar yang melihat kegelisahan Dhani, ia sebenarnya cukup jeli ke mana arah pandang Dhani sejak tadi.

Olan yang berada di depan mereka pun menoleh ke belakang, berhenti sejenak agar bisa berjalan beriringan dengan kedua temannya itu.

"Kenapa, hm?" tanya Olan mencoba perhatian, bagaimana pun, ia dan Dhani sudah bersama sejak kecil, tidak mungkin ia tidak mengenali sikap Dhani, meskipun perlahan mulai berubah.

Dhani hanya membalas dengan gelengan, lalu berbelok untuk masuk ke kelasnya, meninggalkan Zulfikar dan Olan yang melihat punggungnya dengan alis naik satu.

"Pasti dia bakalan cerita kok," ujar Zulfikar tidak yakin.

"Tanpa dia cerita pun, mukanya itu keliatan banget. Dhani itu nggak bisa banget nyembunyiin masalahnya," sahut Olan.

"Udah ya, gue duluan." Olan mengangguk, lalu masuk ke dalam kelas, melihat Dhani yang menelungkupkan wajah di meja. Langkahnya menghampiri ke arah laki-laki jangkung itu, lalu mengetuk meja dua kali.

Dhani mendongak, mengendikkan dagunya ke arah Olan yang berdiri di samping mejanya. Ia meletakkan Hari Bagus rasa Fantastic Mocachino yang masih utuh ke atas meja.

"Minum, siapa tau habis ini lo baikan."

Dhani hanya mengangguk, ia tidak mencoba meraih dan membuka tutup botol itu, namun kembali mengerukkan wajah di lipatan lengan.

"Minum itu nggak bikin lo mati sekarang deh, Dhan," ucap Olan, lalu memutar langkah untuk duduk di kursi samping Dhani.

Laki-laki itu masih diam, pun tidak bergerak. Olan mendengkus pelan, ia suka dengan perubahan Dhani sekarang, rajin sholat dan mengaji. Namun, ia juga tidak suka apabila Dhani terlihat lembek seperti ini.

"Lo butuh nenangin diri dulu, Bro. Nggak usah kebanyakan mikir yang berat-berat, 'ntar gue bisa ragu kalo lo masih tetep waras."

Dhani menegakkan tubuhnya, melihat ke arah Olan yang duduk anteng di sampingnya.

"Tadi gue lagi nenangin diri, Lan. Tapi suara lo bikin gue pusing tau, nggak?!"

"Astagfirullah!" pekik Romi yang berdiri di belakang Olan.

Mereka berdua melihat ke arah Romi, lalu mengabaikannya.

Olan tersenyum tidak enak. "Ya udah, lo lanjut tenangin diri, itu minuman jangan lupa diminum." Ia menyingkir dari kursi samping Dhani, meskipun di sanalah tempat duduknya, namun ia tidak ingin kena amuk macan yang lagi badmood.

FarichaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang