Tragedi Ulangan

207 36 0
                                        

Bismillahirrahmanirrahim...

Allahumma sholli'ala sayyina Muhammad.

Faricha langsung melempar tasnya di pojok sofa single, lalu merebahkan tubuhnya yang masih mengenakan seragam sekolah di atas sofa ruang tengahnya.

Sudah cukup lelah ia hari ini. Lelah lahir batin. Ingin punya banyak teman saja susah sekali, ada saja yang tidak menyukai ia yang bagaimanapun keadaannya.

Seorang laki-laki mendudukkan diri di sofa sigle dengan segelas kopi instan di tangannya, lalu menyimpannya di meja.

"Lecek banget tuh muka." Ucap Farikhin ketika melihat wajah Faricha yang ditekuk, membuat wajah itu tak enak dilihat.

"Aku kesel, Bang."

Farikhin menyeruput kopi instan rasa carabian nutnya, lalu menaruh kembali di meja.

"Kesel kenapa? Harusnya senwng dong, tips Abang kan yang paling manjur." Ucap Farikhin percaya diri.

"Paling manjur mukamu kayak ember cat, Bang. Tips Abang tuh tidak berhasil, malah tetap aja yang tidak suka perubahan Faricha." Curhatnya.

"Ada yang tidak suka itu adalah hal biasa, Dek. Dalam pertemanan itu pasti ada yang suka dan tidak. Nikmatin saja kali."

Faricha bangun dari tidurannya, lalu memijit pelipisnya.

"Abang memangnya dulu gitu?"

Farikhin kembali menyesap kopi yang telah menghangat.

"Ya... gitu, Abang kan dulu tidak secuek dirimu, Dek. Abang juga tidak datar seperti kau, jadi Abang gampang-gampang saja nyari teman."

Faricha bersandar di sandaran sofa. Ia menerawang banyak yang ia lakukan.

"Apa aku secuek itu, dan salahkah aku jika suka memasang wajah datar?"

"Kuncinya, kamu jangan nyerah deh. Jadilah anak yang ramah, dan jangan lupa, Dek, kita harus semakin mendekatkan diri pada Allah SWT, agar Allah memberikan kemudahan disetiap apa yang kamu jalani."

Faricha menatap kakaknya heran.

"Sejak kapan Abangku tersayang ini jadi bijak sekali?" Tanya Faricha.

Farikhin meringis. "Iya dong. Abangmu ini sudah banyak belajar dari banyak orang. Abang juga belajar dari banyak peristiwa, jadi sekarang sudah lebih mengerti banyak hal juga." Ucap Farikhin bangga.

"Kalau banyak teman jangan sombong, Bang."

"Abang tidak sombong."

"Terus?" Faricha menaikkan alis kanannya.

"Abang cuma ngasih pembelajaran sama kamu. Oh iya, Abang masih punya pesan. Carilah teman yang bisa membawa kamu menuju baik, Dek, dan jangan membuat seseorang memusuhi kamu."

"Memangnya, Resti belum cukup baik?"

Farikhin berpindah duduk ke sofa panjang yang duduki adiknya, lalu menyandarkan tangannya di belakang sofa.

"Resti baik kok. Tapi kamu juga harus nyari teman yang tidak cuma baik sifatnya, tapi juga yang agamis. Biar bisa nuntun kamu."

"Kalau gitu, jadinya aku yang paling tidak bermanfaat buat teman-temanku. Biar aku yang belajar, agar bisa menuntun temanku. Ya kan?"

Farikhin mengacak kepala adiknya yang tertutup hijab dengan lembut.

"Keputusan yang bijak. Abang bangga sama kamu."

Faricha tersenyum senang. Rasa kesal dan lelah lahir batinnya telah banyak terobati karena bercakap-cakap dengan kakaknya.

Faricha tersenyum tipis. Lalu mengambil kopi instan milik Farikhin yang tinggal separuh, dan meminumnya.

FarichaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang