Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma sholli'ala sayyidina muhammad wa'ala ali sayyidina muhammad.
※※※
Jika semua itu memang rencana Allah, aku hanya bisa menjalani dan berpasrah pada-Nya. Mungkin itu memang yang terbaik.
°°°
Brak
"Eh?"
"Kak Bilman, Kak Rahsya," gumam Faricha yang melihat dua sejoli itu memasuki ruangan ini.
"Lo kok disini?" Tanya Rahsya sambil memicingkan matanya kearah Faricha.
"Ya... memangnya tidak boleh?" Jawab Faricha. Ia kepo, kenapa dua sejoli itu bisa memasuki kelas ini, kelas yang paling gelap diantara kelas 10 MIPA.
"Lo... dihukum?" Tanya Bilman yang melihat sapu di tangan Faricha, gadis itu hanya menjawab dengan deheman pelan.
"Kakak ngapain kesini?" Tanya Faricha.
"Ehm... mau nyiapin kemah kalian besok," jawab Bilman.
Faricha hanya menganggukkan kepala sembari melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Bilman menganggap Faricha percaya, laki-laki itu mengambil ceting yang ternyata berada di dalam lemari kelas, setelah itu keluar diikuti Rahsya.
Satu jam kemudian, Faricha sudah menyelesaikan dua kelas. Berarti masih tiga kelas lagi yang belum ia bersihkan. Mungkin kedua laki-laki itu sudah selesai membersihkan kelas-kelas IPS, pikirnya.
Ia melihat jam sudah pukul 15.06, Deva pasti sudah pulang.
Ia menghela nafas pelan. "Semangat Faricha, semangat!" Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Ia memilih menyapu ketiga kelas tersebut, baru mengepelnya. Ketika ia mengganti air pel, ia mendapati Danish yang mendekat kearahnya.
"Hai, Cha," sapanya.
"Hai."
"Kok lo masih di sekolah? Gue kira lo udah balik dari tadi," ucap Danish. Laki-laki itu melirik pel yang berada di tangan Faricha.
"Lo masih dihukum? Kok sendirian?"
Faricha menghela nafas pelan.
"Iya, Dhani sama Olan bersihin kelas 10 IPS, terus aku di kelas 10 MIPA," jawab Faricha membuat Danish berdecak kesal.
"Ini namanya nggak adil dong. Mereka cowok, pasti tenaganya lebih-lebih, apalagi berdua. Lha lo, cewek, sendirian, ngerjain yang dua kali lipat dibanding mereka," ucap Danish kesal.
"Gitu-gitu mereka teman kamu sih, Nish. Pernah jadi gengnya juga kok," ucap Faricha yang diakhiri dengan kekehan. Sementara Danish memasang wajah kesal ketika mengingat hal itu.
"Ya udah, gue bantuin ya, biar cepet selesai," ucap Danish karena ia tidak tega kepada Faricha, apalagi besok mereka akan mengikuti kemah angkatan, nanti Faricha kecapekan.
"Makasih banyak lho, Nish. Tapi, nanti kamu dicariin pelatih futsal lho," ucap Faricha sambil melirik sekilas kaus futsal Danish yang sudah basah karena keringat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Faricha
Teen Fiction(Tamat) Belum revisi Faricha Lutfia Izza, seorang gadis yang cuek. Semua yang membencinya berbalik menjadi temannya setelah mereka menyakitinya. Semua orang yang abai padanya, menjadi temannya setelah ia berubah menjadi lebih baik. Dia, Faricha...
