Can I get to your soul?
Can you get to my thought?
Can we promise we won't let go?
All the things that I need
All the things that you need
You can make it feel so real
'Cause you can't deny you've blown my mind
When I see you, Baby, I just don't wanna let go
Oh, Baby, Babe, I run, but I'm running to you
I need you more than air when I'm not with you
Please don't ask me why, just kiss me this time
My only dream is about you and I
🎶 Stereo Love🎶
————————————————————
Mohon bantu koreksi jika ada typo, ya.
-🖤🖤🖤-
"Lho, Wifo? Kamu, kok, di sini?" tanya Ocean bingung. "Bukannya kamu bentar lagi latihan?"
"Di-cancel. Anak-anak minta istirahat aja karena jadwal tanding besok dipercepat."
"Ooh." Ocean mengangguk-angguk, meskipun dia agak kaget.
Tidak biasanya cowok itu yang menghampiri Ocean tanpa janjian lebih dulu. Sebesar apa pun keinginan Ocean untuk bertemu Wifo, biasanya Ocean harus menunggu sampai Wifo yang mengajak. Itu pun Ocean yang mendatangi ke tempat dimana Wifo berada. Ocean yang menyesuaikan.
Itu bisa dimaklumi sebenarnya. Wifo itu punya jadwal yang teratur, tidak seperti Ocean yang cukup bebas. Wifo adalah tipe anak sekolahan yang terbilang sibuk. Sibuk les mulai dari les mata pelajaran, bahasa asing, TOEFL dan IELTS, hingga les tambahan seperti les musik. Wifo juga mengikuti kelas kepribadian dan leadership, bahkan dia rajin nge-gym.
Hari-hari Wifo produktif. Agak berbeda dari Ocean yang hanya sibuk di saat-saat tertentu, itu pun biasanya tidak sampai sepanjang hari. Di luar itu, Ocean asyik bergaul dan bermain dengan teman-temannya, menikmati masa-masa SMA.
Namun, ada yang berbeda dari Wifo sejak malam itu. Ocean belum bisa menentukan apakah perubahan itu baik atau tidak, pertanda hubungannya dan Wifo berhasil atau tidak, tapi yang jelas, dia menikmati hubungan mereka yang sekarang. Dimana Wifo kini lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ocean, di sekolah sekalipun. Itu terbukti dari Wifo yang bahkan mencarinya sampai ke kelas Zavy.
Ocean melirik Zavy. "Zavy, besok temenin Ocean nontonin Wifo tanding, ya?"
Zavy tercengang. Bagaimana tidak? Dia nyaris tak pernah menonton pertandingan olahraga, kecuali memang sekolah sendiri yang mengirim kelasnya sebagai supporter.
"Ce, kan, ada teman-teman Ocean, sih," kata Zavy melas.
"Lizzy nggak bisa ikutan. Kami kekurangan satu supporter. Jadi, Zavy yang gantiin."
"Satu doang, Ce," kata Zavy tak habis pikir.
"Satu pun itu berarti," kata Ocean. "Nggak mau tau. Pokoknya, Zavy harus datang atau Ocean bakal jemput paksa Zavy," kata Ocean seraya berdiri dan memakai tas selempangnya.
"Dadaaaahhhh," kata Ocean sambil melambaikan tangan dan cepat-cepat berlari ke arah Wifo seolah dia menghindari penolakan yang mungkin terjadi jika dia lebih lama lagi berada di kelas itu.
Zavy masih mengikuti kepergian Ocean sampai tanpa sengaja, tatapan Zavy bersirobok dengan tatapan Wifo. Segala ekspresi di wajah Zavy seketika lenyap.
Tak ada kesan ramah di wajah Wifo sehingga Zavy pun enggan untuk menyapa. Dan memang dia merasa itu tak perlu. Dia lebih suka mengerjakan apa saja ketimbang berbasa-basi dengan Wifo. Maka, Zavy memutuskan untuk kembali berkutat saja dengan barang-barangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guilty Pleasure
Romance(18+) Wifo Álvarez adalah segala yang Ocean Vásquez impikan dalam hidupnya. Pesona yang tak bisa ditolak. Racun yang menjerat bagai magnet. Bahaya tanpa tanda peringatan di dalam lingkaran setan. Ocean menginginkan cinta Wifo. Sayangnya, bukan cin...
