71. Vicious Cycle

3.6K 410 522
                                        

I'm still fixing all the cracks
Lost a couple of pieces when I carried it home
I'm afraid of all I am
My mind feels like a foreign land
I've spent all of the love I saved
We were always a losing game
Giving us up didn't take a lot
I saw the end 'fore it begun
Still I carry on
I don't need your games, game over
Get me off this roller-coaster
All I know
Loving you is a losing game
🎶 Arcade🎶

—————————————————————

Wahai kalian yang pelit VOTE (VOTE cuma di sebagian kecil chapters dan yang nggak VOTE sama sekali).
I see you 😈

Berterimakasihlah sama readers baru yang langsung SPAM VOTES! Tanpa mereka, aku nggak akan UP sekarang.
Jadi, chapter ini untuk kalian pembaca setia dan pembaca baru yang selalu VOTE banyak-banyak!

Fyi, aku nggak apa-apa punya pembaca sedikit yang penting tau cara menghargai jerih payah dan karyaku. Aku nulis di wattpad bukan buat yang PELIT karena aku juga nggak PELIT bagi karya di platform gratis ini.
Anyway, VOTE ITU GRATIS!

-🖤🖤🖤-

Ocean masih menatap Lizzy dengan tatapan sendu sebelum akhirnya memutuskan untuk menggeleng, tetapi bersamaan dengan itu, setetes air mata jatuh ke pipinya. Dia menatap Lizzy dengan wajah bercampur antara takut, cemas, dan memohon.

"Ini nggak sengaja, kok, Liz," kata Ocean dengan suara tertahan.

Oh, jawaban itu bahkan tidak lebih baik dari yang diharapkan Lizzy. Seharusnya tidak. Seharusnya Ocean bilang bukan. Tapi, meski tidak sengaja, hal ini tetap saja keterlaluan.

"Nggak sengaja gimana kalo lukanya sampe separah ini, Ce?" sahut Lizzy tak percaya. "Dan kalaupun emang nggak sengaja, harusnya dia sempatin, dong, bawa lo ke rumah sakit? Bukan malah nitip lo di sini!"

"I-iya. D-dia mau bawa gue ke rumah sakit, kok, Liz," kata Ocean terbata-bata. "T-tapi, tadi dia mendadak ada urusan yang urgent."

"Apa yang lebih urgent ketimbang ngobatin pacarnya yang lagi luka parah gini, Ce?"

Ini aneh. Di mata Lizzy justru terlihat seperti Wifo sedang menghindar dari tanggung jawabnya.

Betapa tidak? Ocean sudah lama sekali tidak main ke rumah Lizzy dimana dulunya hampir setiap minggu Ocean berkunjung, bahkan menginap. Semua berubah sejak Ocean pacaran dengan Wifo.

Bukannya Lizzy tidak tahu Wifo membatasi pergaulan Ocean dan tidak suka Ocean bermain dengan teman-temannya. Meski Lizzy termasuk pengecualian, Wifo tak lantas membiarkan Ocean sering main atau bahkan pergi bersama Lizzy juga. Jadi, tentu saja Lizzy curiga ketika sore ini mendapat pesan Ocean ingin mampir ke rumah.

Mengintip dari jendela dan tahu Wifo yang mengantar saja sudah membuat Lizzy bertanya-tanya kenapa tumben sekali Wifo mau menyerahkan Ocean pada Lizzy semudah itu. Lalu, muncullah Ocean dengan keadaan terluka parah. Bagaimana Lizzy tidak berpikiran negatif?

"Kenapa dia nggak nganter lo pulang aja?" tanya Lizzy.

"G-gue nggak mau bikin nyokap gue khawatir, Liz," kata Ocean takut-takut.

Lizzy menggeleng pelan. Ini lebih seperti Wifo sengaja meletakkan Ocean di rumah Lizzy agar tak ada yang mencurigai Wifo sebagai dalang atas luka Ocean ini. Namun, meski berpikir begitu, Lizzy tak lantas mengungkapkannya pada Ocean.

Guilty PleasureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang