29. Throwback: Challenge

3.3K 312 803
                                        

I wanted to control you
Why am I pointing out everything wrong with you?
Let's talk about last night
Why didn't you answer me?
All of these questions, criticizing you
Bring out the worst in me
I can't get you off my mind
And I think about you all the time
The problem with you is that you're all that I dream about
The closer we get I became more attentive, more protective, more aggressive
🎶 Problem With You🎶
                                       
—————————————————————

UP lebih cepat buat para readers-ku yang baik hati dan udah ninggalin jejak di last chapter. Thank you, Angels!

As I explained before, cerita ini mengandung flashback tanpa penulisan italic. Pasti bakal bingung kalau nggak merhatiin judul part & keterangan waktu yang sebenarnya udah aku selipkan untuk mempermudah kalian memahami. So, pay attention, okay?

-🖤🖤🖤-

"Keseriusan kamu. Aku nggak liat itu karena kamu mau aja dijodoh-jodohin."

"Cuma basa-basi aja, Cea. Aku masih SMA juga. Masa' iya mau disuruh menikah?" tanya Wifo merasa bodoh. Boro-boro menikah, pacaran saja dia baru coba-coba.

"Ya, dijodohin juga bukan mesti nikah sekarang, kan?" tanya Ocean sengit. "Aku nggak suka konsep kamu dijodoh-jodohin. Not to mention the fact that you ignored my text that night. Aku larang kamu join party selama ada si Glee-Glee itu, tapi tetep aja kamu ikut."

Ketika Wifo diam saja, Ocean lanjut mengoceh, "Coba kamu tau pas mamaku ngerias mommy kamu, mommy kamu bilang Glee itu kriteria perempuan yang tepat untuk jadi pasangan kamu. Mommy kamu sampe minta aku dandanin Glee, bikin dia cantik di depan kamu. Nggak pernah, ya, aku denger mommy kamu bahas hal-hal kayak gitu sebelumnya. Rasanya tuh kayak aku disindir sebagai cewek yang nggak pantes buat kamu." Ocean mendengus. "Udah kayak mommy kamu tau aja soal kita."

Wifo terhenyak. Meski kini terbesit sedikit curiga terhadap Audrey setelah mendengar cerita Ocean, Wifo tetap memilih tak menjelaskan apa-apa.

"Coba pikirin gimana perasaanku denger itu, trus setelahnya aku liat kamu dan Glee gandengan tangan, duduk sampingan, dan bahkan saat kita ketemu, negur aku pun kamu enggak. Kayak aku bukan siapa-siapa kamu. Kamu habisin sisa malem itu sama dia. Itu nggak fair buatku," omel Ocean.

"Itu formalitas aja, Cea. Emang manners-nya gitu kalo di pesta," kata Wifo.

Wifo berharap Ocean mengerti saja tanpa dia harus menjelaskan panjang lebar bahwa semua sikap itu memang Wifo pelajari di les kepribadian. Bagaimana mengatur postur tubuh, ekspresi wajah, sikap, bahkan bahasa tubuh di depan orang lain.

"Yang kayak gitu biasa lagian dalam pergaulan orangtuaku," tambah Wifo.

"Dulu pas kamu belum punya pacar boleh biasa," sahut Ocean. "Sekarang beda."

"Pacarku tetep kamu, Cea. Buat apa ribetin Glee yang bukan siapa-siapaku?" tanya Wifo. "Yang penting, kan, aku cintanya sama kamu."

"Bukannya kalo cinta sama aku, justru harusnya kamu yang keberatan dijodohin sama orang lain?" tanya Ocean. "Harusnya malah kamu ambil langkah tanpa perlu diminta. Inisiatif. Kalo perlu sekalian kenalin aku sebagai pacar kamu pas mommy kamu jodohin kamu sama Glee. Nyatanya, apa?"

Guilty PleasureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang